Kian Panas, Sekjen PDIP Ungkap Alasan Mega Lantik SBY Jadi Menkopolhukam

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto/JIBI/BISNIS - Muhammad Ridwan
18 Februari 2021 13:57 WIB Fitri Sartina Dewi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hubungan PDIP dan Partai Demokrat memanas. Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan alasan Megawati Soekarnoputri saat masih menjabat sebagai Presiden RI untuk melantik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menkopolhukam.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/2/2021) Hasto mengaku teringat sebuah kisah yang disampaikan oleh almarhum Profesor Cornelis Lay bahwa sebelum SBY ditetapkan sebagai Menkopolhukan di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri.

BACA JUGA : Sekjen PDIP: Surat SBY Bukti Prabowo Tak Cocok dengan

Saat itu ada elite partai yang memertanyakan keterkaitan SBY sebagai menantu Sarwo Edhie Wibowo yang dipersepsikan berbeda dengan Bung Karno, dan juga terkait dengan serangan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Kudatuli.

Meski keputusannya menunjuk SBY sebagai Menkopolhukan dipertanyakan elite PDIP, tetapi Hasto mengatakan sikap Megawati Soekarnoputri lebih mengedepankan rekonsiliasi nasional dan semangat persatuan.

“Saya mengangkat Pak SBY sebagai Menkopolhukam bukan karena menantu Pak Sarwo Edhie. Saya mengangkat dia karena dia adalah TNI, Tentara Nasional Indonesia. Ada 'Indonesia' dalam TNI sehingga saya tidak melihat dia menantu siapa," kata Hasto mengutip pernyataan Megawati sebagaimana diceritakan oleh Prof. Cornelis.

Masih berdasarkan cerita dari Prof. Cornelis, Megawati juga saat ini menyatakan bahwa Bangsa Indonesia akan sulit untuk maju jika terus melihat masa lalu.

"Kapan bangsa Indonesia ini maju kalau hanya melihat masa lalu? Mari kita melihat ke depan. Karena itulah menghujat Pak Harto pun saya larang. Saya tidak ingin bangsa Indonesia punya sejarah kelam, memuja Presiden ketika berkuasa, dan menghujatnya ketika tidak berkuasa."

Lebih lanjut, Hasto menanggapi pengakuan yang disampaikan mantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie terkait pernyataan SBY yang menyebut Megawati dua kali kecolongan pada Pilpres 2004.

BACA JUGA : PDIP Kesulitan Cari Calon Wali Kota Sekelas Risma 

Menurutnya, pengakuan Marzuki Alie itu menjadi bukti bahwa sejak awal SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri. Pasalnya, pada tahun 2004, SBY bertindak seakan-akan sebagai sosok yang dizolimi.

“Dalam politik kami diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah 'kecolongan dua kali' sebagai cermin moralitas tersebut," ujar Hasto.

Lebih lanjut, Hasto menyatakan saat ini rakyat bisa menilai mengenai apa yang dulu dituduhkan oleh SBY telah dizalimi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. "Ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” ujarnya.

Sementara itu, Politikus Partai Demokrat Andi Arief menanggapi pernyataan Hasto Kristiyanto dan menyebut PDIP memiliki dendam terhadap mantan Ketua Umum Partai Demokrat SBY karena merupakan menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.

BACA JUGA : Selain Prabowo, PDIP Sengaja Tak Mengundang SBY

"Hari ini Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membuat release menanggapi statement hantu Pak Marzuki Alie. Kenapa hantu, karena Marzuki mengarang bebas. Lebih mengejutkan saya, ternyata ada dendam PDIP terhadap SBY karena sebagai menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Dendam Ideologis?," kata Andi melalui akun twitter pribadinya, Rabu (17/2/2021).

Selain itu, dia juga meminta Hasto untuk tidak membenturkan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

"Sebaiknya Sekjen PDIP Hasto Kristianto jangan membentur-benturkan mantan Presiden Ibu Mega dan Pak SBY. Biarlah mereka berdua menjadi panutan bersama, sebagai yang pernah berjasa buat sejarah politik kita. Kader Partai Demokrat sejak lama didoktrin untuk tidak membully mantan Presiden," ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia