Cegukan Terus-menerus Bisa Jadi Gejala Covid-19

Ilustrasi cegukan yang berkepanjangan bisa menjadi gejala infeksi virus corona (Covid-19). - JIBI/Bisnis.com
04 Januari 2021 23:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Coviod-19 memiliki banyak gejala yang tidak hanya terkait dengan sistem pernapasan, tetapi sistem tubuh lainnya. Menurut penelitian, salah satu gejala yang bisa jadi pertanda orang terinfeksi virus Corona adalah cegukan.

Dilansir dari Express UK, Senin (4/1/2021) sebuah studi kasus tahun 2020 baru-baru ini, seorang pria berusia 64 tahun ditemukan mengalami cegukan terus-menerus sebagai satu-satunya gejala virus Covid-19 yang dialami olehnya.

Subjek penelitian mengunjungi klinik rawat jalan setelah mengalami cegukan selama 72 jam. Tes darah dan pencitraan paru-paru dilakukan, mengungkapkan bukti infeksi paru-paru dan jumlah sel darah putih yang rendah. Subjek tersebut juga dinyatakan positif Covid-19.

Dalam studi kasus 2020 lainnya, seorang pria berusia 62 tahun juga ditemukan mengalami cegukan sebagai gejala virus corona baru. Subjek sempat mengalami cegukan selama empat hari sebelum menuju rumah sakit.

Setelah masuk, pengujian lebih lanjut menunjukkan temuan serupa di paru-paru pria itu, serta jumlah sel darah putih dan trombosit yang rendah. Dia juga dinyatakan positif mengidap virus corona baru dengan gejala cegukan.

Kendati demikian, tetap penting untuk dicatat bahwa cegukan menunjukkan efek samping Covid-19 yang berpotensi langka. Jika orang mengalami cegukan belum tentu dia akan dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Kapan cegukan perlu dianggap serius terkait Covid-19?

Cegukan seharusnya berlangsung beberapa menit atau jam dan orang biasanya mengambil posisi duduk agar cegukan menghilang. National Health Service (NHS) menyatakan seringkali tidak ada alasan yang jelas mengapa seseorang mengalami cegukan.

Akan tetapi, beberapa orang menemukan hal-hal tertentu yang memicu fenomena cegukan ini, misalnya orang yang mengalami stres, emosi yang kuat seperti kegembiraan, atau bahkan ketika makan dan minum.

Adapun, badan kesehatan itu menyarankan agar orang menemui dokter umum jika cegukan telah berlangsung lebih dari 48 jam atau dialami dengan tingkat dan intensitas tinggi, yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Nantinya, dokter umum akan mencari tahu apakah cegukan yang dialami disebabkan oleh kondisi kesehatan atau obat yang dikonsumsi. Mengobati kondisi atau  mengganti obat seharusnya bisa menghentikan cegukan tersebut.

“Jika penyebabnya tidak jelas, dokter bisa meresepkan obat yang disebut klorpromazin untuk mengobati cegukan. Akan tetapi, ini tidak berhasil untuk semua orang,” kata NHS.

Sementara itu, nasihat pemerintah Inggris tetap berlaku bahwa  jika orang mengalami tiga gejala utama Covid-19 yakni suhu tinggi, batuk terus menerus, dan hilangnya atau perubahan indera penciuman dan perasa, agar menjalani pemeriksaan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia