Menkes Budi Gunadi Sadikin Sebut Varian Baru Covid-19 Tak Lebih Mematikan

Budi Gunadi Sadikin Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 bertajuk Optimis Bangkit dari Pandemi di Jakarta, Sabtu (15/8/2020). - Kominfo
04 Januari 2021 10:57 WIB Oktaviano DB Hana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara terkait varian baru virus Corona (Covid-19) atau yang biasa disebut Supercovid.

Hal itu diungkapan menteri yang akrab disapa BGS ini dalam perbicaraannya dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam video yang diunggah ke Instagram via akun @sandiuno, Minggu (3/1/2021).

Dalam unggahan video tersebut, Menkes memastikan mutasi Covid-19 dapat dideteksi keberadaannya melalui swab antigen maupun PCR. Menurutnya, mutasi itu juga relatif tidak mematikan ketimbang Covid-19 yang pertama.

BACA JUGA : Apakah Varian Baru Covid-19 Sudah Masuk Indonesia?

“Pertama, ini lebih cepat menular, nomor dua [mutasi Covid-19] tidak lebih mematikan,” kata Menteri BGS dalam video tersebut.

Dia pun menyatakan bahwa keberadaan varian baru Covid-19 masih belum teridentifikasi di Indonesia. Alasannya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 masih belum disiplin dalam melakukan genome sequencing untuk meneliti seluruh rangkaian DNA Covid-19 yang ada di Tanah Air.

“Kalau di Indonesia saya bilang secara konservatif belum teridentifikasi karena Indonesia belum rutin melakukan genome sequencing. Jadi orang yang sakit diambil sampelnya dilakukan genome sequencing, dia mutasi ke berapa, kita belum disiplin,” kata Menteri BGS.

Seperti diketahui, temuan varian baru Covid-19 telah dilaporkan terjadi di Singapura dan Malaysia. Teranyar, Vietnam telah mendeteksi kasus impor pertama dari varian baru virus Corona yang menyebar dengan cepat di seluruh Inggris.

BACA JUGA : Pakar UGM: Tetap Waspada terhadap Varian Baru Covid-19

Varian itu terdeteksi pada seorang wanita berusia 44 tahun yang kembali ke Vietnam dari Inggris, yang dikarantina pada saat kedatangan dan dipastikan positif terkena virus tersebut pada 24 Desember 2020.

"Para peneliti menjalankan pengurutan gen pada sampel pasien dan menemukan strain tersebut adalah varian yang dikenal sebagai VOC 202012/01," ungkap keterangan resmi Kementerian Kesehatan, yang dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (2/1/2021).

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia