Saat Sekolah Tatap Muka Dimulai, Guru Diminta Jangan Langsung Mengajar

Masker N95
06 Desember 2020 13:47 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Meski masih pandemi Covid-19, Pemerintah telah mengumumkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 untuk bisa kembali belajar tatap muka.

Dalam SKB tersebut, pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan untuk memberikan penguatan peran pemerintah daerah/kantor wilayah (kanwil)/kantor Kementerian Agama (Kemenag) sebagai pihak yang paling mengetahui dan memahami kondisi, kebutuhan, dan kapasitas daerahnya.

Pemberian kewenangan penuh dalam menentukan izin pembelajaran tatap muka tersebut berlaku mulai semester genap tahun ajaran dan tahun akademik 2020/2021, pada Januari 2021.

Baca juga: Negara Ini Jadi yang Pertama di Dunia Lakukan Vaksinasi Massal Covid-19

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril mengimbau pada saat belajar tatap muka, guru agar tak langsung memberikan bahan ajar.

Pentingnya Seru Belajar Kebiasaan Baru yang bertumpu pada penerapan protokol kesehatan harus menjadi keutamaan. Terlebih dahulu guru melihat kondisi psikososial dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa pagebluk Covid-19.

“Jangan langsung guru mengajar materi, mengajar konten, tapi terlebih dahulu memperhatikan kondisi psikososial peserta didik dan guru itu sendiri,” kata Iwan melalui siaran pers Kemendikbud, dikutip Minggu (6/12/2020).

Iwan menegaskan, yang perlu dilakukan justru adalah membina kondisi sosial emosional anak, kondisi psikososial mereka, sebelum mereka kemudian merasa siap untuk belajar atau konten yang akan diberikan.

Baca juga: Mensos Juliari Batubara Jadi Tersangka Dugaan Suap, Ini Harta Kekayaannya

Iwan Syahril juga menyarankan agar guru melakukan asesmen terlebih dahulu.

“Perlunya asesmen diagnostik secara non kognitif maupun secara kognitif. Jadi lihat dulu, tes ‘temperaturnya’. Bagaimana kondisi murid-muridnya secara sosial emosional ataupun secara kognitif,” ujarnya.

Kemudian, nilai juga bagaimana tingkat pemahaman terhadap materi, di mana mereka berada dalam konteks kontinum pembelajaran itu berbeda. Mungkin ada yang masih tertinggal, ada yang sudah di jalur yang benar, atau malah ada yang mungkin sudah lebih maju dari teman-temannya.

Berpatokan pada asesmen tersebut, maka dibutuhkan strategi pembelajaran yang terdiferensiasi. Iwan menyarankan kemungkin guru bisa mengembangkan strategi tutor sebaya. Sehingga guru-guru bisa dibantu oleh teman-teman yang lebih mampu untuk membantu siswa-siswa yang masih agak tertinggal.

Lebih lanjut, Iwan mengutarakan tentang prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi, yakni kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran.

“Tantangan bagi kita semua untuk terus belajar. Dalam masa pandemi Covid-19 kita dituntut untuk terus belajar karena situasi yang terus berubah, pemahaman kita tentang Covid-19 berubah dan juga kebutuhan-kebutuhan kita juga berubah. Mari sama-sama kita terus belajar untuk bisa memastikan bahwa anak-anak kita dapat belajar dengan sehat dan dengan aman,” imbuh Iwan.

Sumber : Bisnis.com