Niclosamide Punya Kekuatan Antivirus Corona 40 Kali Lebih Tinggi dari Remdisivir

Ilustrasi-Tes virus Corona - Antara
01 Desember 2020 08:27 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Niclosamide diklaim memiliki kekuatan antivirus 40 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Remdisivir. Niclosamide dikembangkan Daewoong Pharmaceutical, perusahaan perawatan kesehatan global di Korea Selatan. 

Menurut hasil penelitian regenerasi obat Covid-19 yang dilakukan oleh Kementerian Sains dan TIK Korea Selatan, Niclosamide juga menunjukkan kekuatan antivirus 26 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Chloroquine.

CEO Daewoong Pharmaceutical, Sengho Jeon mengatakan meskipun memiliki efek antivirus yang sangat baik, Niclosamide katanya memiliki kekurangan karena konsentrasi obat dalam darah akan menurun ketika dikonsumsi secara oral.

Oleh karena itu, mereka turut mengembangkan DWRX2003 (nama bahan Niclosamide) sebagai mekanisme injeksi pelepasan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi pemberian obat milik Daewoong Group.

Baca juga: Kalurahan Bugel Kulonprogo Bakal Jadi Percontohan Kampung KB Berkualitas

Mekanisme injeksi ini mampu meningkatkan penyerapan obat yang rendah saat obat diberikan secara oral. Diharapkan dapat menjaga tingkat konsentrasi obat sehingga mampu mengobati penyakit hanya dengan sekali pemberian. "Dapat menghindari efek samping pada sistem pencernaan seperti mual, muntah apabila obat diberikan secara oral," tambahnya seperti dikutip dari siaran pers, Senin (30/11/2020).

Sengho lebih lanjut menuturkan pihaknya memperoleh izin dari Kementerian Keamanan Makanan dan Obat (MFDS) pada Oktober lalu untuk melakukan uji klinis fase pertama pengembangan DWRX2003 di Korea Selatan. Ll, tepatnya di Chungnam National University Hospital pada subjek manusia yang sehat dan pemberian obat dilakukan pada November.

Dalam uji klinis ini, Niclosamide dan plasebo diberikan secara acak melalui penyamaran ganda dan penerapan kontrol plasebo. Obat juga diberikan dalam satu waktu untuk memastikan keamanan dan menjaga tingkat konsentrasi obat dalam darah.

Daewoong Pharmaceutical juga mempercepat pengembangan global dengan melakukan uji klinis DWRX2003 fase pertama di India dan Filipina, termasuk Korea. Di India, uji klinis fase pertama dan kedua telah memastikan keamanan pengobatan pada kelompok subjek pertama.

Uji klinis pada kelompok subjek ketiga juga sedang berlangsung dengan lancar. Data subjek ras Kaukasia yang diperoleh dari uji klinis yang dilakukan di India akan digunakan sebagai data keamanan antar ras dan farmakokinetik saat melakukan uji klinis secara global seperti di Amerika Serikat dan Eropa.

Di Filipina, uji klinis fase pertama dilakukan pada pasien Covid-19 untuk meneliti keamanan dan efek pengobatan secara bersamaan.

Baca juga: IDI Desak Jokowi Hapus Liburan Akhir Tahun

Daewoong Pharmaceutical berencana untuk melanjutkan uji klinis fase kedua dan ketiga pada tingkat multinasional tahun ini berdasarkan hasil uji klinis fase pertama. Berikutnya, mereka akan mengajukan permohonan Accelerated Approval (Proses Persetujuan Obat Jalur Cepat) dan Emergency Use Authorization (Izin Penggunaan Obat Darurat) setelah mendapatkan hasil uji klinis fase kedua.

Sengho menyebut dari hasil uji klinis pada hewan, didapatkan bahaa tingkat kematian akibat influenza rendah setelah diinjeksi DWRX2003. Pengujian pada subjek hewan dilakukan karena jumlah kasus twindemic di mana pasien mengidap Covid-19 dan influenza secara bersamaan semakin meningkat dan menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia.

Uji kemanjuran Niclosamide pada subjek hewan menunjukkan bahwa tingkat kematian sebesar 40 persen pada kelompok plasebo. Sementara itu, kelompok subjek yang diberikan Niclosamide 12 jam sebelum atau 7 hari setelah disuntikkan virus menunjukkan angka kematian 0 persen.

Secara khusus, skor gejala klinis pada hari kedua pemberian Niclosamide menunjukkan peningkatan yang luar biasa hingga 75 persen persen dibandingkan dengan kelompok kontrol, meskipun pengobatan diberikan pada saat gejala klinis memburuk pada hari infeksi ke-7.

"Riset dan pengembangan akan terus kami percepat untuk mengakhiri twindemic di Indonesia dan dunia," kata Sengho.

Sumber : bisnis.com