Demi Kendalikan Ekonomi, Kim Jong Un Tembak Mati Pedagang Valas

Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un bersiap sebelum kembali ke negaranya di stasiun kereta di Vladivostok, Rusia, Jumat (26/4/2019). - Bloomberg/Andrey Rudakov
30 November 2020 23:57 WIB Novita Sari Simamora News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pucuk pimpinan Korea Utara Kim Jong Un mengeksekusi pedagang mata uang yang dinilai melakukan  tindakan keras di pasar valuta asing.

Agen mata-mata Korea Selatan menuturkan bahwa Kim Jong Un ini memperkuat cengkeramannya atas ekonomi.  Meskipun tidak masuk akal, eksekusi ini merupakan bukti keseriusannya  untuk berjuang menjaga perekonomian negara.

Mengutip dari Financial Times, Kim Byung-kee, anggota komite intelijen Majelis Nasional Korea Selatan mengatakan eksekusi tersebut merupakan serangkaian tindakan yang tidak masuk akal oleh Kim Jong Un.

“Eksekusi tersebut sejalan dengan apresiasi hingga 20 persen dari won Korea Utara terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir, salah satu pergerakan terbesar dalam beberapa tahun,” seperti dikutip pada Senin (30/11/2020).

Perubahan mendadak itu menyoroti meningkatnya ketidakstabilan dalam ekonomi, membuat Pyongyang khawatir.

Aksi Kim Jong Ung mendapat komentar dari pakar ekonomi. Analis pasar mengatakan apresiasi mata uang lokal mengikuti tindakan keras pada transaksi berbasis dolar karena Pyongyang memperkuat kendali ekonomi setelah bertahun-tahun liberalisasi pasar.

kim jong un eksekusi tembak mati pedagang valas

Andrei Lankov, seorang ahli Korea Utara di Universitas Kookmin di Seoul, mengatakan telah ada tanda-tanda perubahan signifikan dalam situasi mata uang sejak Oktober 2020, setelah bertahun-tahun adanya stabilitas keuangan yang luar biasa.

Lankov menambahkan bahwa eksekusi menjadi peringatan kepada publik tentang bertindak melawan arahan rezim atas penggunaan mata uang asing. Menyusul revaluasi mata uang mendadak yang dahsyat di Pyongyang pada tahun 2009, mata uang asing telah digunakan secara luas dalam perdagangan perbatasan dan transaksi pasar swasta, terutama dolar AS dan renminbi China.

Pandemi virus corona di Pyongyang telah membuat negara tersebut melakukan lockdown. Bahwa Pyongyang belum secara terbuka mengonfirmasi kasus Covid-19 setelah menerapkan lockdown. Namun, klaim nol infeksi telah ditanggapi dengan skeptis oleh para ahli dan pejabat internasional.

Tindakan keras terhadap pedagang valas dan pengetatan kontrol atas pasar mata uang terjadi saat Kim berjuang melawan kejatuhan ekonomi dari pandemi dan penurunan selanjutnya dalam perdagangan dengan China. Tantangan-tantangan ini diperparah dengan sanksi ekonomi yang melumpuhkan dan topan yang menghancurkan serta banjir tahun ini.