Kemenparekraf Meyakini Pemangkasan Libur Akhir Tahun Tak Kurangi Minat Berwisata

Kawasan The Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Kawasan pariwisata ini dikelola oleh Indonesia Tourism Development Corporation. - ITDC
24 November 2020 09:47 WIB Rahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Perintah Presiden Joko Widodo untuk mengurangi masa libur akhir tahun diyakini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tidak akan mengurangi tingkat kepercayaan diri masyarakat dalam berwisata.

Menurut Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Hari Santosa Sungkari, confidence level masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata akan tetap stabil meskipun terjadi tren kenaikan kasus positif Covid-19. Hal ini mengingat masa libur panjang pada akhir Oktober 2020 tidak menjadi klaster penyebaran.

Baca juga: Begini Kata Sultan soal Zona Merah Corona di DIY

"Pengurangan masa libur akhir tahun dan tren kenaikan angka Covid-19 tidak akan mengurangi tingkat kepercayaan diri masyarakat dalam berwisata. Pasalnya, libur panjang akhir Oktober lalu tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19," ujar Hari kepada Bisnis.com, Senin (23/11/2020).

Selain itu, lanjutnya, minat berwisata semakin terdorong karena adanya desakan psikologis bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas wisata pada akhir tahun.

Berdasarkan laporan Kementerian, sambung Hari, tingkat pemesanan kamar di Bali dan Labuan Bajo untuk periode libur akhir tahun 24 Desember 2020 - 3 Januari 2021 sudah mencapai 50 persen dari total kapasitas okupansi. Ini menunjukkan pemangkasan liburan akhir tahun tidak terlalu berdampak bagi kalangan pelaku usaha.

Baca juga: Pusat Bolehkan Kuliah Tatap Muka, Begini Sikap Kampus di Jogja

Kendati demikian, pemerintah pusat terus mengimbau pemerintah daerah untuk mengetatkan penerapan protokol kesehatan menjelang libur akhir tahun untuk memastikan destinasi wisata tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19.

"Libur akhir tahun bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, jika berhasil memberikan dampak positif bisa menjadi turning point bagi sektor pariwisata untuk memulihkan diri tahun depan. Di sisi lain, kalau terjadi klaster baru akan terjadi antiklimaks bagi pemulihannya," kata Hari.

Sumber : Bisnis.com