Jika Joe Biden Menangi Pilpres AS 2020, Ini Respons di AS?

Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Joe Biden berpartisipasi dalam sebuah acara virtual "Get Out the Vote" dengan Oprah Winfrey di Wilmington, Delaware, Amerika Serikat, Rabu (28/10/2020)./Antara - Reuters/Brian Snyder
04 November 2020 15:17 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 masih berlangsung hingga hari ini, Rabu (4/11/2020). Hasil sementara Joe Biden unggul suara elektoral dibandingkan dengan petahana, Donald Trump.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai jika kondisi ini bertahan dan Joe Biden menenangkan Pilpres AS, gejolak di negara Paman Sam diyakini tak akan begitu besar.

“Saya rasa nggak ada gejolak. Kemarin [Pilpres lalu] waktu Trump menang juga ya gejolak biasa 2 - 3 hari kemudian redam,” katanya kepada Bisnis, Rabu (4/11/2020).

BACA JUGA : Polling Pilpres AS: Joe Biden Lebih Unggul dari Trump

Dia malah memperkirakan bahwa respons pasar akan positif bila Biden berhasil memperoleh 270 suara elektoral, syarat untuk memenagkan pemilihan Presiden negara itu.

Adapun hingga siang ini, Joe Biden mengoleksi 213 suara elektoral. Sementara Donald Trump masih bertahan di 174 suara elektoral. Di AS, syarat untuk menenangkan pemilihan adalah 270 suara elektoral.

Biden unggul di sejumlah negara bagian seperti Washington DC, New York, California, Virginia, New Jersey, Oregon, Colorado hingga New Mexico.

Sementara itu Donald Trump menguasai wilayah tengah AS seperti Arkansas, Oklahoma, Kansas, Ohio, Indiana, Florida, South California hingga Utah. Hanya tersisa sekitar 10 negara bagian yang belum mengumumkan pemenangnya.

BACA JUGA : Google Akan Blokir Iklan Pemilu AS

Adapun, setengah dari pemilih Presiden Amerika Serikat (AS) percaya lebih penting untuk menahan Virus Corona, bahkan jika itu merugikan ekonomi, menurut jajak pendapat Edison Research pada hari Selasa (3/11/2020).

Sementara, hanya dua dari 10 pemilih secara nasional yang mengatakan bahwa Covid-19 adalah masalah yang paling penting dalam pilihan mereka untuk menjadi presiden.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia