Alfamidi Kembali Salurkan 1.500 Telur Cegah Stunting untuk 50 Balita di Margodadi
Alfamidi kembali menyalurkan 1.500 telur untuk 50 balita di Margodadi, Sleman, sebagai bagian dari program CSR pencegahan stunting.
Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto (tengah) saat memberikan keterangan pers kepada wartawan, Senin (26/11/2018) di kantor PDIP Cabang Sleman./Harian Jogja-Yogi Anugrah
Harianjogja.com, JAKARTA- Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menegaskan dalam PDI Perjuangan, hidup dalam perjuangan kepartaian itu diisi dengan perjuangan.
“Menjadi kader muda Partai harus menjadi kader pembelajar dengan kedepankan sikap kenegarawanan, artinya berjuang bagi kemajuan peradaban bangsanya sebagai sikap hidup dan ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau golongan,” katanya, dalam rilis, Jumat (30/10/2020).
Menurutnya, dalam seluruh rekam jejak hadirnya pemimpin di PDI Perjuangan, tampak sejak Bung Karno, Megawati Soekarno Putri, Joko Widodo, hingga saat ini seperti Prananda Kepala Situation Room, Puan Maharani Ketua DPR, Ganjar Pranowo Gubernur Jateng, Tri Risma Harini Wali Kota Surabaya, Azwar Anas Bupati Banyuwangi, Hendrar Prihadi Wali Kota Semarang, hingga Gus Mis, Adian, Putra Nababan, dan begitu banyak tokoh muda lainnya.
Baca juga: Banyak Relawan Jokowi Jadi Pejabat BUMN, Fadli Zon: Bukan BUMN tapi Badan Usaha Milik Relawan
Mereka yang sekarang menjadi pimpinan partai, pimpinan dewan dan juga calon kepala daerah, semua menunjukkan tradisi yang sama yakni menggembleng diri dan kemampuan menjemput tugas panggilan sejarah.
“PDI Perjuangan mengajarkan pada setiap kader muda bangsa untuk kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi, bangga dengan jati diri kebudayaan bangsa, dan punya vision terhadap arah masa depan bangsa, serta jadikan semangat juang (geist), tekad juang (will), dan perbuatan bagi kepentingan umum, bangsa dan negara (daad) sebagai elemen penting yang harus dimiliki kaum muda. Sebab tidak ada pemimpin lahir tanpa gemblengan hidup dan kehidupan,” paparnya.
Dengan demikian, ketika Megawati Soekarnoputri menyampaikan agar generasi milenial tidak dimanjakan, menurut Hasto kalimat ini mengandung semangat dari sosok seorang Ibu Pejuang, yang terus memikirkan masa depan Indonesia.
Baca juga: Megawati Cibir Milenial, Ada yang Usul Agar Diundang ke Mata Najwa atau ILC
Pesan dari Megawati, lanjutnya, bahwa pemuda penentu masa depan bangsa, harus dilihat kekinian, bagaimana para pemuda-pemudi Indonesia menggembleng diri dan kesemuanya digerakkan oleh semangat untuk membawa kemajuan bagi Indonesia Raya.
“Dengan demikian inti sari peringatan Sumpah Pemuda adalah bagaimana para pemuda-pemudi Indonesia saat ini, dalam seluruh alam pikir dan alam rasanya, sudah memikirkan perbuatan terbaik bagi masa depan bangsanya. Jadi melihatnya adalah persepktif sekarang. Jika saat ini kita memiliki kaum muda yang hebat-hebat, maka kita akan lebih optimis menatap masa depan”
Atas dasar itu, Hasto menilai kunci dari kemajuan bangsa adalah pendidikan dan kebudayaan. Semua dijalankan dengan penuh semangat, dengan energi juang yang menyala-nyala.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Alfamidi kembali menyalurkan 1.500 telur untuk 50 balita di Margodadi, Sleman, sebagai bagian dari program CSR pencegahan stunting.
Muhammadiyah meminta polisi tidak tebang pilih mengusut dugaan kekerasan yang melibatkan anggota maupun ormas berdasarkan bukti hukum.
Dokter UGM mengingatkan pentingnya mengontrol kolesterol dan menerapkan gaya hidup sehat untuk menekan risiko penyakit jantung dan stroke.
Program Manajemen Talenta Nasional di ISI Jogja menyiapkan talenta seni, olahraga, riset, dan inovasi untuk berkontribusi pada ekonomi nasional.
Sebanyak 785 lansia penerima bansos Kulonprogo terindikasi judol. DPRD meminta penelusuran dan evaluasi agar bantuan tepat sasaran.
Pengetahuan masyarakat adat dinilai masih sering diabaikan dalam kebijakan konservasi Indonesia meski mereka menjadi penjaga lingkungan.