Ketua Satgas Sebut Ada Fenomena Kasus Covid-19 Rendah di Daerah Pilkada

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo memberikan paparan saat pembekalan kebencanaan bagi media massa di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/2/2019). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga - hp.\\n
10 Oktober 2020 22:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menampik kalau pilkada disebut sebagai klaster Covid-19. Doni menceritakan bahwa dirinya melihat fenomena unik menjelang pilkada.

Daerah yang akan melangsungkan pilkada justru menunjukkan penurunan jumlah kasus, sementara di daerah yang tidak ada pilkada, kasus positif justru meningkat.

Baca juga: Ini Cara Memakai Masker Kain yang Benar Menurut WHO

“Tetapi ini tentunya bukan suatu kesimpulan. Justru jadi sangat mungkin dipengaruhi faktor disiplin. Ada tidak ada Pilkada, asalkan disiplin, maka kasus Covid-19 pasti bisa dicegah atau dikurangi," kata Doni dalam keterangannya melalui virtual dari kantor Graha BNPB Jakarta, Jumat (9/10/2020).

Dia mencontohkan 3 provinsi yang melangsungkan pilkada, dan terlihat menurun tidak lagi berada di zona merah. Ketiga provinsi itu adalah Jawa Timur dengan 38 kabupaten/kota yang mana 19 daerah akan melaksanakan pilkada. Kedua, provinsi Sulawesi Selatan ada 24 kabupaten/kota yang mana 12 daerah di antaranya melaksanakan pilkada. Dan ketiga, Sulawesi Utara terdapat 15 kabupaten/kota yang mana sekitar 7-8 daerah diantaranya akan melaksanakan pilkada.

Di Sulawesi Utara yang akan melaksanakan pemilihan bupati, wali kota, dan gubernur sehingga akan melibatkan seluruh kabupaten/kota, tercatat malah terjadi penurunan dari zona merah menjadi zona oranye, dan ada yang turun lagi menjadi zona kuning.

Baca juga: Covid-19 Kembali Merajalela, Spanyol Umumkan Keadaan Darurat

Dengan demikian, ia menilai fenomena ini menunjukkan daerah yang ada pilkada tidak serta-merta berpengaruh dalam mengalami kenaikan kasus Covid-19. Justru ada juga daerah yang tidak melangsungkan pilkada, malah mengalami peningkatan kasus, seperti misalnya di Aceh.

“Kami tidak serta-merta membuat kesimpulan Pilkada menjadi penyebab. Namun kalau seandainya ada kesungguhan dari seluruh komponen untuk patuh protokol kesehatan, kami yakin bahwa kasus bisa dikendalikan," paparnya.

Doni meminta semua komponen turut bersama melawan virus ini. “Semua perlu disiplin, karena obat belum ada, dan vaksin juga masih dalam proses. Sekali lagi jangan anggap enteng Covid-19. Disiplin itu kunci agar bisa selamat. Covid ini menyerang kita, kita lalai bisa saja terkena virus,” kata Doni.

Ia mengimbau agar semua elemen, mulai dari tokoh agama, pemerintah daerah, media, hingga masyarakat harus sama-sama berkolaborasi dalam menekan penularan virus corona. Doni juga meminta agar pimpinan di tingkat pusat dan daerah tak lagi membiarkan adanya kerumunan seperti yang terjadi beberapa hari lalu.

“Saya selaku Ketua Gugus Tugas, mengajak tokoh agama, media, seluruh pimpinan di berbagai lapisan baik di pusat dan daerah untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan,” jelasnya.

Doni juga menegaskan bagi siapa saja, seperti dokter, tokoh agama, musisi, media, kepala daerah, maupun masyarakat yang peduli untuk saling mengingatkan terhadap bahayanya Covid-19 ini, maka mereka sudah dikategorikan sebagai pahlawan kemanusiaan.

Sumber : Suara.com