HASIL STUDI: Strategi Herd Immunity Covid-19 Timbulkan Infeksi Lebih Meluas

Seseorang mendapat tindakan medis melalui jendela kendaraan, sementara yang lainnya mengantre untuk melakukan uji asam nukleat, menyusul wabah Virus Corona penyebab Covid-19, di Beijing, China, Selasa (30/6/2020). - Antara\\r\\n\\r\\n
23 September 2020 21:37 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Studi anyar dari Ilmuwan University of Georgia menyatakan bahwa mencapai herd immunity terhadap penyakit Covid-19 adalah strategi kesehatan masyarakat yang tidak praktis. 

Mengendalikan penyebaran virus corona baru telah menghadirkan teka-teki dalam pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat. Perdebatan berkutat pada dua pendekatan utama. 

Pertama adalah pemikiran menghilangkan penularan di masyarakat melalui langkah-langkah seperti penerapan jarak sosial. Kedua strategi mitigasi untuk mencapai herd immunity, dengan konsekuensi banyak orang terinfeksi virus. 

"Konsep herd immunity sangat menggiurkan karena mengimingi akhir dari ancaman Covid-19," kata Toby Brett, penulis utama studi dari Odum School of Ecology, seperti dikutip medicalXpress, Rabu (23/9). 

Namun demikian, lanjutnya, karena pendekatan ini bertujuan untuk menghindari eliminasi penyakit, perlu penyesuaian konstan dari langkah-langkah penguncuan untuk memastikan infeksinya cukup pada waktu tertentu. 

Penelitian ini dilakukan oleh Brett dan Pejman Rohani di University of Georgia Center for the Ecology of Infectious Diseases, yang menyelidiki pendekatan represif dan mitigasi untuk mengendalikan penyebaran virus SARS-CoV-2. 

Sementara studi terbaru telah mengeksplorasi dampak dari kedua strategi di beberapa negara, Brett dan Rohani berusaha untuk menentukan apakah dan bagaimana negara dapat mencapai herd immunity tanpa membebani sistem perawatan kesehatan. 

Mereka mengembangkan model penularan penyakit berdasarkan usia untuk mensimulasikan penularan SARS-CoV-2 di Inggris, dengan penyebaran dikendalikan oleh isolasi mandiri tanpa gejala dan social distancing. 

Simulasi mereka menemukan bahwa dengan tidak adanya langkah-langkah pengendalian, Inggris akan memiliki 410.000 ribu kematian terkait dengan Covid-19. Sekitar 350.000 di antaranya berasal dari individu berusia 60 tahun ke atas. 

Mereka menemukan bahwa menggunakan strategi tindakan, kematian yang terjadi akan jauh lebih sedikit. Hanya sekitar 62.000 kasus pada orang berusia 60 tahun nlebih dan 43.000 orang di bawah usia 61 tahun. 

Ketika memeriksa strategi yang berupaya membangun herd immunity melalui mitigas, model mereka menemukan bahwa jika social distancing dipertahankan pada tingkat tepta, kapasitas rumah sakit perlu untuk ditingkatkan untuk mencegah kewalahan. 

Brett dan Rohani lebih lanjut mencatat bahwa banyak yang tidak diketahui tentang sifat, durasi, dan efektivitas kekebalan Covid-19 dan bahwa model mereka mengasumsikan kekebalan jangka panjang yang sempurna. 

Mereka juga memperingatkan bahwa jika kekebalannya tidak sempurna dan ada kemungkinan signifikan untuk terinfeksi kembali, mencapai herd immunity melalui paparan luas sangat tidak mungkin dilakukan. 

"Kami menyadari masih banyak yang harus dipelajari tentang penularan dan kekebalan Covid-19. Pemodelan seperti ini dapat sangat berharga dalam analisis situasional dan memungkinkan pemangku kepentingan memikirkan konsekuensi dari tindakan yang diambil," kata Rohani.

Sumber : Bisnis.com