UNESCO Gencarkan Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional

Masker kain tradisional. - Ist
20 September 2020 00:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati News Share :

Harianjogja.com, JOGJA -  Pandemi Covid-19 memberikan dampak buruk pada sektor budaya dan kreatif. Adanya larangan bepergian dan kegiatan mengumpulkan massa serta melakukan kegiatan-kegiatan komersial membuat pariwisata untuk sementara dibatasi, konser-konser dan kegiatan-kegiatan live dibatalkan; dan permintaan produk-produk budaya menurun, sehingga secara drastis mengurangi peluang pendapatan bagi para seniman dan mereka yang bekerja di sektor kreatif.

Merespons krisis ini, UNESCO Jakarta sejak Maret 2020 memfasilitasi serangkai pelatihan bisnis secara virtual, untuk mendampingi sekitar 400 wirausaha muda dari Jawa Tengah, Jogja, Kota Tua Jakarta, Toba, dan Bali untuk mengatasi masa-masa sulit ini. Salah satu kegiatan yang digagas adalah kegiatan “Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional” yang secara khusus diprakarsai guna mendukung wirausaha muda yang bekerja di sektor tenun tradisional dan fesyen untuk memberikan mereka alternatif peluang pendapatan.

Kampanye yang diluncurkan UNESCO Jakarta sejak Juli 2020 ini, memberikan pemahaman mengenai sejarah dan signifikansi budaya kain tradisional, serta pelatihan secara langsung tentang mengembangkan cerita produk dan menjahit masker berkualitas. Antara Agustus dan September, kampanye ini kemudian memberikan penugasan pada para peserta untuk mendesain dan membuat masker mereka sendiri, kemudian membuat foto dan pesan yang menarik untuk diunggah di media sosial.

Digelar oleh UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia, kampanye ini merupakan bagian dari proyek “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” yang didukung oleh Citi Foundation. Tujuannya membangun kapasitas 400 wirausaha muda yang tinggal di dan di sekitar empat daerah tujuan wisata utama Indonesia: Borobudur, Prambanan, Kawasan Danau Toba, Bali, dan Kotatua Jakarta. Proyek ini bermaksud membangun keterkaitan antara situs warisan budaya dan mata pencaharian penduduk sekitar, dengan menyediakan pelatihan-pelatihan bagi para wirausaha muda untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan bisnisnya seraya terus melestarikan dan mempromosikan nilai-nilai budaya situs tersebut.

Pandemi Covid-19 memberikan tantangan besar bagi semua pihak di segenap sektor kehidupan. Pada saat bersamaan, hal tersebut juga memberi kesempatan untuk berpikir secara berbeda dan tetap tangguh. Segera setelah larangan pergerakan publik dan mengumpulkan massa diumumkan di Indonesia, UNESCO Jakarta segera mengubah bentuk kegiatan workshop dari pertemuan langsung di ruang kelas menjadi daring, memanfaatkan platform media sosial.

Sumber Inspirasi

"Ini memungkinkan kami terus terhubung dengan para wirausaha muda kami dengan lebih sering. Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional ini adalah salah satu dari hasil pelatihan-pelatihan daring kami. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para wirausaha muda, pakar, dan mentor yang secara antusias terlibat dalam pelatihan-pelatihan ini yang menunjukkan semangat tinggi mereka di masa sukar ini.” kata Prof. Shahbaz Khan selaku Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Sabtu (19/9/2020). 

“Kampanye ini memberi saya inspirasi untuk membuat masker inovatif mengombinasikan motif batik truntum dengan tema Hari Kemerdekaan Indonesia. Saya membuat masker ini bersama-sama dengan para pembatik di desa saya untuk membantu mereka selama masa krisis ini. Apalagi setelah masker tersebut diunggah di Instagram @kitamudakreatif, saya mendapatkan banyak tanggapan dan pesanan. Sampai akhir Agustus 2020, kami sudah tiga kali memproduksi masker tersebut, untuk merespons pesanan-pesanan baru yang masuk,".kata Lutfi Koriah Yunani, seorang wirausaha muda dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

"Terima kasih pada kampanye ini, saya jadi belajar makna motif-motif batik dan bagaimana mengemas kisah produk saya. Pendapatan bisnis saya jadi meningkat dan membuat saya mampu membantu ibu-ibu pembatik di desa saya," lanjut dia. *