Kunci Atasi Dampak Covid-19: Jangan Pisahkan Kesehatan dan Ekonomi

Ilustrasi - RSPAD Gatot Soebroto melakukan uji terapi plasma darah untuk pasien Covid-19. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
26 Mei 2020 09:37 WIB Herdanang Ahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Kunci mengatasi dampak-dampak negatif pandemi Covid-19 terletak pada cara pandang pemerintah. Hal tersebut disampaikan oleh Eks menteri Perindustrian Mohammad Suleman Hidayat. 

Hidayat menyarankan pemerintah tidak lagi memisah-misahkan kebijakan untuk bidang ekonomi dan kesehatan. "Saya termasuk orang yang tidak bisa menganggap kesehatan di atas ekonomi. Karena keduanya berkaitan," ujarnya dalam acara diskusi daring dengan Kadin Jawa Barat, Senin (25/5/2020) malam.

Kemudian, bila cara pandang itu sudah bisa dikuasai, perlu pula keberanian untuk mengambil tindakan-tindakan di luar batas nalar. Apalagi pandemi Covid-19 memukul sisi suplai dan permintaan sekaligus.

Dalam catatan Hidayat, seumur hidup ia belum pernah mengalami krisis yang menyerang dua sisi sekaligus layaknya pandemi Covid-19.

"Situasinya, ini adalah krisis yang extraordinary, yang abnormal. Kalau ada sesuatu yang abnormal, mungkin antisipasinya juga bukan cara yang normal. Jadi jika kita melakukan dengan cara biasa, tidak sejalan dengan hal yang harus diantisipasi," sambungnya.

Pendapat yang sama diutamakan Pendiri Yayasan Komatsu Bandung Kohar Amatsunaga.

Selain terpisah-pisah, Kohar memandang sampai sekarang pemerintah tidak menyikapi dampak ekonomi dan kesehatan belum seimbang.

"Kalau kemarin bobotnya lebih berat pada kesehatan, walaupun presiden juga moderat, sekarang harus dievaluasi. Karena mulai terlihat kita ini dampak ekonominya lebih dahsyat sekali," tandasnya.

Dari aspek perekonomian, selain kontraksi ekonomi, Bank Dunia memproyeksikan rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) membengkak menjadi 31,4%.

Sedangkan dari aspek kesehatan sejauh ini pandemi Covid-19 telah menjangkit 22.750 orang lebih di Indonesia. 5.642 di antaranya dinyatakan sembuh, dan 1.391 orang telah meninggal.

Sumber : Bisnis.com