Orang Tanpa Gejala yang Terinfeksi Virus Corona Bisa Kritis

Ilustrasi - Freepik
24 April 2020 21:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Richard Levitan, praktisi pengobatan darurat di Bellevue Hospital di New York City, Amerika Serikat, menyebut gejala virus Corona yang tidak terlihat tetapi bisa menyebabkan kondisi parah dan kritis.

Dia mengatakan telah melihat fenomena pada pasien Covid-19 yang menderita penumonia. Setelah diamati, dia menemukan pasien yang paru-parunya berisi cairan tetapi mereka tidak mengalami kesulitan bernapas sampai dirawat di rumah sakit.

Gelaja tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas sampai mereka berada di ruang gawat darurat dan pada saat itu mereka seringkali ditemukan sudah berada dalam kondisi kritis.

“Ini benar-benar mengejutkan kami. Pasien-pasien ini tidak melaporkan sensasi masalah pernapasan, meskipun sinar X mereka menunjukkan pneumonia difus dan oksigen mereka di bahwa normal,” katanya menulis di The Times.

Kondisi yang dialami para pasien ini disebut hipoksia, yang dapat menyebabkan kadar oksigen dalam jaringan turun, yang pada akhirnya mengakibatkan kerusakan organ dan dalam beberapa kasus bahkan menyebabkan kematian.

Hipoksia adalah bentuk kekurangan oksigen yang disebabkan oleh hipoksemia. Ini terjadi ketika ada kadar oksigen yang rendah dalam darah. Pada kasus hipoksia, jaringan tubuh kekurangan oksigen shingga menyebabkan infeksi dan kerusakan jaringan.

Menurut sebuah studi dari Massachusetts General Hospital, sekitar 7 persen pasien mengalami peristiwa hipoksemik dan 3,5 persen memiliki kejadian hipoksemik parah yang berlangsung dalam dua menit atau lebih.

Hipoksia dapat terjadi tanpa menunjukkan tanda-tanda yang terlihat. Tanpa oksigen tambahan, organ-organ tubuh seperti jantung, hati, otak, dan organ lain dapat rusak hanya dalam beberapa menit.

Levitan menjelaskan bahwa kondisi ini sering disebut silent hypoxia karena seringkali tidak terlihat sampai stadium lanjut, lantaran tidak ada gejala sebelumnya yang menunjukkan diagnosis pada tubuh pasien.

Dia melanjutkan pneumonia adalah infeksi paru-paru yang terjadi ketika kantung udara diisi dengan nanah atau cairan. Ini menyebabkan pasien yang menderita sakit dan tidak nyaman. Akan tetapi, pasien virus corona dengan pneumonia tidak mengalami kesulitan bernapas yang sama kendati kadar oksigen dalam tubuh mereka menurun.

Menurutnya, sejak napas terjadi ketika Covid dan pnemuonia menyebabkan kantung udara di paru-paru mulai rusak sehingga tingkat oksigennya anjlok. Namun, pasien masih dapat bernapas karena itu tidak menumpuk seperti pneumonia umum.

Pasien dilaporkan bernapas lebih dalam dan lebih cepat karena kadar oksigen mereka menurun, tetapi mereka tidak menyadarinya. Pola pernapasan yang berubah inilah yang pada akhirnya mengakibatkan paru-paru rusak sehingga pasien datang dengan kondisi parah.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia