Tito Karnavian Menilai Gerakan Alumni 212 Menghambat Stabilitas Politik

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian - Antara
27 November 2019 15:47 WIB Setyo Aji Harjanto News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut situasi politik Indonesia stabil setelah rekonsiliasi Prabowo Subianto dan Joko Widodo seusai Pemilihan Presiden 2019 lalu. Kini, menurut Tito, persoalan terbesar adalah keberadaan alumni 212.

Tito mengatakan saat ini gerakan alumni 212 menghambat stabilitas politik di Indonesia. Dia menyampaikan pendapat itu seraya tertawa dan sedikit berseloroh saat berpidato di Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Tahun 2019 di Hotel Borobudur.

"Dalam pandangan Malaysia kemarin, saya bertemu dengan banyak tokoh di sana, politik Indonesia itu stabil sekarang, terutama semenjak gabungnya 01 sama 02, tinggal urusannya 212 saja," kata Tito, Selasa (26/11/2019).

Tito pun menceritakan pengalamannya saat bertemu dua pengusaha Malaysia beberapa waktu lalu.

Dunia usaha di sana, kata dia, tengah gamang lantaran kondisi politik yang masih belum menentu jelang pemilihan perdana menteri.

"Dia mendekati saya, 'Kita mulai prioritasi Indonesia'. Saya bilang, 'Kenapa enggak di Malaysia saja?' 'Waduh, Pak, politik masih enggak stabil nih, nanti yang menang siapa kita enggak ngerti nih'," kata Tito.

Artinya, kata Tito, saat ini kondisi politik Indonesia terbilang stabil. Hal itu, kata dia, mengundang keinginan investor masuk ke Indonesia.

Namun, dia melanjutkam, hal itu masih terhambat oleh regulasi dan kepastian hukum. Untuk itu, Tito berpesan agar para kepala daerah tetap menjaga stabilitas.

"Dalam pandangan luar, Indonesia ini sekarang ini politiknya stabil, sehingga ada keinginan investor masuk ke Indonesia itu tinggi. Tapi terhambat pada problema regulasi dan kepastian hukum," ujarnya.

Adapun Alumni 212 terbentuk setelah pernyataan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang dinilai menistakan agama islam. Gelombang demonstrasi dari umat islam menuntut Ahok dipenjara atas pernyataannya itu.

Ahok sendiri sudah divonis dua tahun dan kini telah menghirup udara bebas. Namun, gerakan 212 masih ada dan kerap kali mengadakan reuni tiap tanggal 2 Desember.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia