Akibat Karhutla, Habitat Orangutan Terancam

Orangutan bergelantungan di pohon di lokasi karhutla di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Senin (16/9/2019). - ANTARA / IAR Indonesia/Heribertus
20 September 2019 10:37 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, BALIKPAPAN-- Kebakaran hutan dan lahan yang secara masif melanda Kalimantan mengganggu kegiatan operasional pelestarian orangutan dan habitatnya.

CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Jamartin Sihite mengatakan bahwa sejauh ini, total sekitar 80 hektare hutan gambut di wilayah kerjanya diterjang api. Dua puluh hektare di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan, dan 60 hektare di Sei Mantangai, keduanya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terbakar.

Jamartin mengatakan seluruh staf Yayasan BOS bekerja keras melindungi orangutan yang kini menyandang status ‘sangat terancam punah’ dari bahaya yang semakin mengancam akibat meluasnya karhutla ini.

“Tim kami di Program Konservasi Mawas bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan tim di Pusat Penelitian Tuanan mengendalikan, mengisolasi, dan memadamkan kebakaran,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (20/9/2019).

Tim-tim Yayasan BOS di Program Konservasi Mawas, Pusat Rehabilitasi Orangutan di Nyaru Menteng dan di Samboja Lestari melakukan patroli dan pengawasan ketat terhadap kemungkinan munculnya titik api di seluruh wilayah kerja sekaligus mencegah risiko kebakaran.

“Sampai saat ini kami belum melakukan penyelamatan atau evakuasi orangutan yang terancam kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Dari beberapa wilayah kerja Yayasan BOS yang terancam karhutla atau dampak asap, Jamartin mengungkapkan asap tipis yang diduga hasil kebakaran telah sampai di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari selama beberapa hari terakhir.

Untuk mencegah dampak buruk terhadap para orangutan yang tengah menjalani rehabilitasi, tim medis Samboja Lestari memberikan susu dan multivitamin bagi semua orangutan yang kini total berjumlah 130 individu tanpa kecuali.

Kegiatan luar ruang para orangutan muda di Sekolah Hutan juga dibatasi hanya beberapa jam. Bagi orangutan dewasa yang berada di dalam kompleks kandang, tim teknisi Samboja Lestari secara teratur melakukan penyemprotan untuk menjaga suhu kandang tetap sejuk.

Sementara di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah yang terletak tidak jauh dari kota Palangka Raya, tim pemadam kebakaran Yayasan BOS sempat berjibaku melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru Menteng. “Kami berhasil memadamkan si Jago Merah setelah bekerja keras selama sekitar 4 jam bersama sejumlah pihak lain,” urai Jamartin.

Tim di Nyaru Menteng bersama masyarakat dan unsur-unsur pemerintahan setempat melakukan patroli serta pemadaman beberapa titik api sehingga kami berhasil mencegah penyebarannya.

Sayangnya, kegiatan pembukaan lahan memanfaatkan metoda pembakaran terus terjadi di banyak daerah di Kalimantan Tengah, terutama di sekitar Kota Palangka Raya. Ini menyebabkan asap tebal memenuhi kota dan wilayah sekitarnya. Selama beberapa hari terakhir, Indeks Standar Pencemaran Udara di kota tersebut masuk ke dalam kategori berbahaya.

Asap tebal ini tidak hanya membahayakan kondisi kesehatan para staf Yayasan BOS di Nyaru Menteng, namun juga mengancam 355 orangutan yang dirawat di pusat rehabilitasi itu dan pulau-pulau pra-pelepasliaran di sekitarnya. Sebanyak 37 orangutan muda ditengarai telah terjangkit infeksi saluran pernafasan ringan.

Tim medis Nyaru Menteng memberikan pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik, terutama bagi orangutan yang dianggap mengidap infeksi parah.

Sementara itu, di program konservasi hutan gambut seluas 309.000 hektare di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan ini adalah wilayah kerja Yayasan BOS yang menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan terbesar.

Ini terutama akibat luas wilayah dan sulitnya memadamkan api di lahan gambut. Terlebih, di musim kering seperti saat ini, kondisi air di kanal sangat surut, membuat persediaan air untuk pemadaman sangat terbatas.

Api pertama ditemukan tanggal 3 September lalu di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan. Meski dalam waktu relatif singkat api bisa dipadamkan, namun sifat hutan gambut yang unik dan mengandung berbagai bahan alami yang mudah terbakar seperti pakis, membuat pemadaman tidak bisa tuntas. “Sampai hari ini titik panas masih ditemukan di daerah seluas kurang lebih 20 hektar tersebut,” terang Jamartin.

Dia bilang tim Yayasan BOS yang terdiri dari pemadam kebakaran desa sekitar, tim peneliti, dan teknisi di Stasiun Penelitian Tuanan mengisolasi lokasi kebakaran dan mengamankan stasiun penelitian. Tidak kurang dari 8 sumur bor digali dan 5 unit pompa disiagakan untuk pemadaman api.

Sementara itu di daerah Sei Mantangai, api masih terus menjalar di wilayah yang terpisah-pisah seluas 60 hektare. Untuk memadamkannya, Yayasan BOS telah menggali 26 sumur bor yang menyediakan air untuk pemadaman. Kendala utama yang dihadapi adalah minimnya sumber air dan akses yang sangat sulit menuju lokasi kebakaran.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia