Advertisement
Ratusan Hektare Lahan Merbabu Terbakar, Kerugian Capai Rp300 Juta
Kebakaran hutan di lereng gunung Merbabu terlihat jelas dari Desa Sengi, Dukun, Magelang, Rabu (28/9 - 2019) dini hari. Kebakaran vegetasi hutan yang didominasi oleh semak belukar dan padang rumput itu meliputi wilayah Desa Jrakah, Selo, Boyolali hingga Desa Bentrokan, Wonolelo, Magelang. Luas areal hutan yang terbakar hingga saat ini belum bisa dihitung. Kobaran api dapat terlihat dari kota Muntilan pada malam hari. Usaha pemadaman kebakaran hutan masih terus dilakukan dengan peralatan seadanya oleh warga se
Advertisement
Harianjogja.com, SEMARANG – Kebakaran yang melanda lahan hutan di kaki Gunung Merbabu, pekan lalu, akhirnya bisa dipadamkan, Minggu (15/9/2019). Selama insiden kebakaran itu, sekitar 225 hektare lahan hutan di lereng Gunung Merbabu itu hangus dilahap si jago merah dengan kerugikan diperkirakan sekitar Rp300 juta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah (Jateng), Teguh Dwi Paryono, mengaku belum memastikan penyebab kebakaran yang melanda lereng Gunung Merbabu sejak Rabu (11/9/2019).
Advertisement
“Kita belum tahu penyebab pastinya. Kerugian juga masih kita inventarisasi. Tapi, perkiraan sekitar Rp300 juta, yang terbakar kebanyakan hanya ilalang,” ujar Teguh saat dijumpai Semarangpos.com di kantornya, Senin (16/9/2019).
Teguh mengaku penyebab kebakaran kemungkinan besar disebabkan human errors atau kesalahan manusia. Perkiraaan itu tak terlepas dari lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terletak tak jauh dari permukiman penduduk.
BACA JUGA
“Kalau lihat lokasi kebakarannya masih berada di dekat permukiman. Ketinggiannya tidak terlalu jauh dengan puncak. Jadi bisa diperkirakan ulah manusia. Mungkin ada yang buang puntung rokok sembarangan atau membuka lahan baru dengan cara praktis,” ujar mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng itu.
Teguh mengaku Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi karhutla. Selain membentuk komunitas Masyarakat Peduli Api, pihaknya juga berkoordinasi dengan penjaga hutan untuk memperketat pengawasan selama musim kemarau panjang atau ekstrem.
Peningkatan pengawasan bahkan dilakukan sejak 1 September atau bertepatan dengan peringatan Malam 1 Sura, beberapa waktu lalu.
“Tradisi Jawa kan masih banyak warga yang saat Malam 1 Sura mencari tempat untuk bertirakat ke tempat-tempat sepi, salah satunya di hutan. Kita imbau ke mereka untuk tidak membawa api atau membakar-bakar sampah. Nah, ternyata setelah Malam 1 Sura malah ada kejadian ini [kebakaran],” terang Teguh.
Teguh menambahkan selama masa kemarau panjang, beberapa hutan di Jateng telah mengalami karhulta. Dari sekian banyak kejadian itu, hanya ada satu korban jiwa, yakni dari kalangan warga.
“Korban jiwa hanya 1 di Bayat, Klaten. Dia membakar lahan di dekat lereng Gunung Merapi. Kondisi korban memang sudah tua dan sulit menyelamatkan diri,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Solopos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
- PSIM Jogja Rombak Posisi Bek Setelah Kedatangan Jop van der Avert
- PSSI Tetapkan GBK Jadi Tuan Rumah FIFA Series 2026
- Super League, Dewa United Rekrut Damion Lowe
- Satpol PP Bantul Copot 524 Reklame Ilegal
- Metode Seduh Tentukan Efek Kopi pada Kolesterol
- PSS Sleman Siapkan Plan B untuk Putaran Ketiga
- Delegasi Lima Negara Belajar Mitigasi Bencana di Tirtohargo Bantul
Advertisement
Advertisement








