Advertisement
Mbah Rono: Peningkatan Akitivitas Gunung Slamet Tak Perlu Dikhawatirkan
Suasana Gunung Slamet terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (9/8/2019). - Antara Foto
Advertisement
Harianjogja.com, PURWOKERTO--Pakar geologi Surono menilai peningkatan aktivitas Gunung Slamet yang berada di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal, Jawa Tengah, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Saya dari dulu ngomong Gunung Slamet, slamet [selamat] orangnya, slamet gunungnya, begitu saja. Enggak sesuatu yang harus dihebohkan atau dikhawatirkan," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin (16/9/2019).
Advertisement
Pria yang akrab disapa Mbah Rono itu mengatakan kondisi Gunung Slamet setiap kali mengalami peningkatan aktivitas memang seperti sekarang ini.
Dalam hal ini, aktivitas kegempaan Gunung Slamet yang berstatus waspada (Level II) sejak tanggal 9 Agustus 2019 cenderung menunjukkan gempa embusan dan tremor menerus.
BACA JUGA
"Paling nanti kalau meletus [berupa] semburan-semburan material pijar, tidak perlu dikhawatirkan," katanya.
Disinggung mengenai kemungkinan adanya periodisasi dalam peningkatan aktivitas Gunung Slamet, dia mengatakan hal itu bisa saja terjadi dan bisa juga tidak ada periodisasi.
Berdasarkan catatan, Gunung Slamet pernah mengalami peningkatan aktivitas pada tahun 2008-2009 dan setelah kembali normal, aktivitasnya kembali meningkat pada tahun 2014 dan selanjutnya kembali normal hingga akhirnya meningkat lagi pada tahu 2019.
"Nyatanya Gunung Merapi biasanya dua tahunan-empat tahunan, ya sampai sekarang dari tahun 2010 ya begini-begini saja lah. Ya bergantung gunungnya saja, bisa empat tahunan, bisa ini, tergantung lah karena yang namanya alam itu ya, boleh dikatakan seperti itu, boleh dikatakan ya karepnya gunungnya kapan meletusnya, begitu saja," kata mantan Kepala Badan Geologi itu.
Saat dihubungi secara terpisah, petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Sukedi mengatakan aktivitas Gunung Slamet sejak berstatus waspada (Level II) pada tanggal 9 Agustus 2019 hingga saat ini masih fluktuatif.
"Kondisinya masih flutuatif. Dalam kondisi seperti ini, berarti aktivitas masih sedang berlangsung dan kita masih mengikuti kondisi seperti ini, apakah yang akan terjadi," katanya.
Ia mengakui sejak Gunung Slamet mengalami peningkatan aktivitas, pihaknyanya harus lebih intensif melakukan pengamatan ketika amplitudo tremor menerusnya naik seperti sekarang.
Akan tetapi ketika amplitudo tremor menerusnya turun, kata dia, hal itu bukan berarti normal karena bisa jadi sebagai suatu langkah gunung api tersebut dalam meningkatkan aktivitasnya, apakah akan diakhiri dengan sebuah letusan ataukah kembali ke normal.
Dia mengakui jika dalam beberapa hari terakhir, amplitudo tremor menerus yang terjadi di Gunung Slamet dominan pada angka 0,5 milimeter dan pada hari Senin (16/9), pukul 00.00-06.00 WIB, dominan 2 milimeter.
"Sejak peningkatan aktivitas, amplitudo tremor menerus tertinggi sempat mencapai 5 milimeter. Kami ikuti terus perkembangannya dan sampai saat ini, Gunung Slamet masih berstatus waspada," katanya.
Lebih lanjut, Sukedi mengatakan tremor menerus tersebut menunjukkan bahwa adanya aktivitas gempa dangkal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pendaftaran Calon Pimpinan OJK Dibuka, Begini Tahapan dan Syaratnya
- DKPP Pecat Tiga Anggota KPU karena Pelanggaran Kode Etik
- KPK Ungkap Alasan Negara Bisa Menyuap Negara di Kasus PN Depok
- Atraksi Naik Gajah Dilarang, Warga Diminta Melapor
- Kemensos Benahi PBI BPJS Kesehatan, 54 Juta Warga Belum Terdaftar
Advertisement
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
- Hasil Sementara ACL Two: Persib Tertinggal 0-1 dari Ratchaburi
- PBTY XXI 2026 Hadir Saat Ramadan, 172 Stand Kuliner di Ketandan
- Viral Korban Penganiayaan Kapuk Dilaporkan, Ini Respons Kuasa Hukum
- Bansos Makan Gratis Gunungkidul Cair, Didukung APBD Rp1,32 Miliar
- YouTube Music Rilis Playlist AI Gemini, Bisa Sesuai Mood
- Stimulus Lebaran 2026 Picu Lonjakan Mudik ke Jogja
- Thomas Frank Dipecat Spurs, Rp160 Miliar Melayang
Advertisement
Advertisement








