Sempat Melesat di Kualifikasi Moto3 Junior, Ramadhipa Raih 9 Poin
Pebalap binaan PT Astra Honda Motor (AHM) yang turun di ajang Moto3 Junior World Championship, M. Kiandra Ramadhipa, tampil kompetitif sepanjang balapan
Ilustrasi prosesi sedekah laut /Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, BANTUL--Kepolisian Resor Bantul menyatakan kasus perusakan properti sedekah laut di Pantai Baru, Poncosari, Srandakan yang terjadi Oktober 2018, sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan dan belum ada penghentian penyelidikan.
“Belum dihentikan [kasusnya], masih cari bukti lain,” kata Kapolres Bantul, Ajun Komisaris Besar Polisi Sahat Marisi Hasibuan, saat dihubungi Selasa (30/7/2019).
Namun Kapolres tidak menjelaskan terkait perkembangan penyidikan kasus tersebut. “Untuk jelasnya bisa ditanyakan ke Reskrim,” kata Sahat.
Kasat Reskrim Polres Bantul, Ajun Komisaris Polisi Rico Sanjaya mengatakan penyelidikan masih dilakukan dengan terus berupaya mencari keterangan saksi-saksi. Ia mengatakan kasus perusakan properti sedekah menjadi salah satu kasus yang menonjol di wilayah Bantul.
Pihaknya belum bisa menyampaikan terkait kesulitan-kesulitan penyidik dalam menangani kasus tersebut karena dirinya baru menjabat di Bantul sejak sepekan yang lalu. “Tapi kasus itu masih lanjut, masih proses dan belum ada tersangka,” kata Rico.
Aktivis Jogja Police Watch, Baharudin kamba menilai lambatnya penanganan kasus perusakan properti sedekah laut dengan belum ada tersangka menjadi pertanyaan besar dari publik, “Ada apa sebenarnya dibalik belum adanya tersangka,” kata Kamba.
Ia mengatakan sebenarnya jika polisi serius bukan perkara sulit untuk menyeret siapa yang paling bertanggung jawab dalam kasus perusakan properti sedekah laut. Kamba berharap Mabes Polri turun tangan dan mengambil alih kasus tersebut jika hingga Oktober mendatang Polres Bantul tidak juga berhasil menanganinya.
Sebagaimana diketahui kasus perusakan sedekah laut terjadi pada 12 Oktober 2018. Saat itu warga sekitar Pantai Baru akan menggelar ritual tahunan berupa pelarungan sesaji, namun malam harinya sejumlah properti sedekah laut dirusak segerombolan orang yang diduga dari salah satu Ormas di DIY.
Malam itu juga polisi mengklaim sudah menangkap sembilan orang yang diduga terlibat, namun belakangan dilepas kembali karena dianggap tidak ada bukti. Sembilan yang diperiksa datang hanya undangan pengajian dari Solo, kemudian diajak untuk ke Pantai Baru. Polisi tersebut mendalami kasus tersebut dan sempat memeriksa saksi sebanyak 22 orang, bahkan pentolan salah satu Ormas di DIY juga sempat dipanggil.
Mantan Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Rudy Prabowo saat masih menjabat pada Desember tahun lalu mengaku kesulitan dalam mencari saksi. Rudy mengatakan tindakan perusakan properti sedekah laut benar adanya dan bagian dari tindak pidana, namun untuk menunjuk pelaku butuh saksi-saksi yang cukup.
Ia bahkan tidak mempedulikan jika banyak pihak menilainya lambat. “Lebih baik dibilang lambat daripada salah dalam bertindak. Polisi butuh kehati-hatian dalam menetapkan orang sebagai tersangka. Harus memenuhi alat bukti yang kuat,” ujar Rudi, 19 Desember 2018.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pebalap binaan PT Astra Honda Motor (AHM) yang turun di ajang Moto3 Junior World Championship, M. Kiandra Ramadhipa, tampil kompetitif sepanjang balapan
Prediksi Inggris vs Spanyol di UEFA Nations League 2026-2027. Cek jadwal, kondisi skuad, rekor pertemuan, dan prediksi skor duel di Wembley.
Kedutaan Denmark di Jakarta membuka lowongan Development and Compliance Officer. Cek syarat, ketentuan kerja, dan batas pendaftaran 9 Oktober 2026.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul diminta tidak hanya mengandalkan kawasan Pantai Selatan (Pansela) sebagai tujuan wisata,
Stok minyak Singapura turun 6,9% menjadi 39,68 juta barel. Indonesia menjadi tujuan terbesar ekspor bensin Singapura dengan 231.000 ton.
Nissan Skyline generasi ke-14 meluncur Desember 2026. Mobil ini dikembangkan hanya 26 bulan dengan bantuan AI dan diproduksi di Tochigi, Jepang.