Pesawat F-2000 Milik Italia Terkena Serangan di Pangkalan Arab Saudi
Pesawat F-2000 Italia terkena serangan di Pangkalan Udara Ta'if, Arab Saudi, saat serangkaian serangan terjadi di kawasan tersebut.
Presiden RI terpilih Joko Widodo (Jokowi) bersama Prabowo Subianto berpelukan usai memberikan pernyataan pers saat menggelar pertemuan di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019)./Suara.com-Arief Hermawan P
Harianjogja.com, PALEMBANG - Oposisi konsensus yang lebih memilih penggunaan metode pendekatan lunak terhadap pemerintahan pasca-Pilpres 2019 mungkin terjadi, berdasar pengamatan pengamat Politik Alip Dian Permata.
"Kekuatan politik oposisi sepertinya tidak cukup signifikan dalam memberikan fungsi kontrol terhadap laju jalannya pemerintahan, maka satu-satunya bentuk pengawasan yang mungkin dilakukan oleh oposisi adalah menjadi oposisi konsensus," kata Alip Dian Permata di Palembang, Minggu.
Alip yang juga merupakan Direktur Eksekutif Lembaga Center for Democracy and Civilization Studies (CDCS), melihat pasca pengumuman hasil pilpres kekuatan politik oposisi di parlemen cukup lemah, karena jika ditotalkan, presentase oposisi angkanya hanya mencapai 35,39 persen, sehingga belum cukup menjadi kekuatan oposisi yang dominan di parlemen.
Berbeda dengan pencapaian politik seperti Koalisi Merah Putih (KMP) sebagai oposisi di tahun 2014 yang meskipun gagal memenangi pilpres, namun berhasil menjadi kekuatan mayoritas di parlemen.
"Dan mereka [oposisi] saat itu bisa menyegel kursi pimpinan dewan di parlemen, sehingga di awal-awal masa kepemimpinan Jokowi mereka mampu menghadirkan perlawanan yang cukup ketat terhadap presiden," lanjutnya.
Konsekuensi dari hadirnya oposisi konsensus, kata dia, dimungkinkan sikap oposisi tidak akan segarang dengan varian-varian oposisi lainnya, apalagi jika ternyata oposisi kekurangan bergaining position secara politik sebab bukan mayoritas.
Namun kelompok oposisi bisa saja memainkan manuvernya di parlemen dengan menarik satu atau dua partai politik menjadi \'rekan sesaat\'.
"Misalnya untuk isu tertentu yang tengah menjadi pembahasan hangat di parlemen, dengan pertimbangan kepentingan jangka pendek, secara dramatis mengambil posisi diametral terhadap garis kebijakan koalisi pemerintahan, kemudian bergabung dengan gerbong oposisi," Jelas Alip.
Dinamika rekan sesaat tersebut akan mengejutkan pemerintahan dan mampu merubah lanskap politik di parlemen meski hanya bersifat sekejap, sebab kesepakatannya hanya terhadap isu tertentu, tambahnya.
Setidaknya dinamika tersebut pernah terjadi di Era Pemerintahan SBY, di mana saat itu berkali-kali PKS dan Golkar dalam isu kenaikan bahan bakar mobil (BBM) di parlemen, secara mengejutkan mengambil garis politik berlainan dengan partai koalisi pemerintahan.
"Tetapi jika melihat rekam jejak Jokowi ketika memimpin Indonesia pada periode pertama, ia termasuk presiden yang mampu mengelola dinamika yang terjadi sesama penghuni di kabinet pemerintahan, sehingga situasi reaksioner seperti era SBY tidak terulang sama sekali terhadap pemerintahannya, ini menjadi catatan penting tentunya bagi oposisi," demikian Alip.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pesawat F-2000 Italia terkena serangan di Pangkalan Udara Ta'if, Arab Saudi, saat serangkaian serangan terjadi di kawasan tersebut.
SIM Keliling Polda DIY Sabtu 19 September 2026 melayani perpanjangan SIM A dan C. Cek lokasi, jadwal, syarat, dan biaya.
Jadwal DAMRI dari YIA Sabtu 19 September 2026 tersedia ke sejumlah tujuan Jogja dan Sleman dengan tarif promo Rp50.000.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 19 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 19 September 2026 tersedia 5 perjalanan dari masing-masing arah. Cek jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 19 September 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur, termasuk keberangkatan terakhir.