AHY dan Jokowi Ketemu, Hati Pendukung Terlukai

Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menumpang kendaraan khusus untuk bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A
03 Mei 2019 12:57 WIB Ahmad Rifai News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Pertemuan antara Agus Harimurti Yudhoyono dengan Presiden Joko Widodo ternyata mengundang kekecewaan di hati warganet yang juga pendukung Prabowo Subianto. Bahkan klarifikasi dari Partai Demokrat seakan tak mempan sembuhkan luka hati mereka. 

Pertemuan AHY dengan Jokowi dianggap sebagai langkah Demokrat untuk mendekati kubu pesaing Prabowo sehingga muncul ungkapan partai kutu loncat. Menanggapi respons itu, Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik sempat mengklarifikasi lewat akun Twitternya.

Hal senada turut diungkapkan politisi yang terafiliasi dengan Partai Demokrat, Andi Arief. Dia menegaskan Jokowi mengundang AHY sebagai pribadi, sedangkan komunikasi antara RI 1 dengan SBY terjadi saat menjenguk Ibu Ani di Singapura. 

Rachland memberi garansi tidak ada transaksi politik dalam pertemuan antara AHY dan Jokowi. "Cuma penegasan atas posisi masing-masing. Kami tetap bersama koalisi 02," ujarnya. 

 Namun, tiba-tiba Rachland Nashidik mencuitkan salah satu kicauan dengan nada menyindir.

Sontak, kicauan itu langsung direspons dengan berbagai tanggapan oleh warganet.

Lantas akun @said_saidsyarif menyebut mulut orang-orang Demokrat sungguh tidak sopan. Bahkan menuding pintar bersilat lidah, tidak ada jiwa pejuang.

"Pada akhirnya nanti yakinlah, Demokrat akan membusuk sendiri dan ditinggal oleh semuanya, baik kawan atau lawan. Ingat itu, saya yakin hari itu pasti datang!" ujarnya.

Kemudian ada @Golok-Banten yang mengungkapkan sebenarnya manuver yang diambil Partai Demokrat adalah hal lumrah jika melihat dengan kacamata politik.

"Namun, dalam etika menghargai relawan yang berjuang bongkar kebohongan pilpres itu tak elok. Suka-suka kamu ajalah, biar rakyat yang menilai," ujarnya.

Selanjutnya akun @DadangR83020487 menyampaikan ungkapan ketidakpercayaannya sekaligus kekecewaan.

"Masyarakat banyak yang mengidolakan, sekarang meragukan loyalitas Demokrat terhadap koalisi, melihat last minute ini Demokrat dekat dengan istana. Semoga kami salah, tapi jika itu benar, kami sangat kecewa. Terutama saya yang mengidolakan Demokrat. Mohon penjelasannya Bang Rachlan Nashidik," tulisnya.

Hingga ada komentar keras dari warganet yang menyebut Partai Demokrat sebagai kutu loncat.

Semua polemik ini terjadi ketika AHY selaku Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat bertemu dengan Jokowi di Istana pada Kamis (02/05/2019).

AHY dan Jokowi melakukan pertemuan empat mata, berbincang selama sekitar 20 menit yang dimulai pada pukul 16.20 WIB. Anak sulung SBY itu mengaku pertemuan tersebut membahas mengenai kondisi pasca pemilihan umum (pemilu).

"Mudah-mudahan kita semuanya bisa tenang, sabar, melihat situasi, perkembangan, sekaligus juga mari kita menjadi masyarakat yang dewasa dalam alam demokrasi yang sehat," papar AHY.

Kakak Edhie Baskoro Yudhoyono tersebut maklum bahwa dalam pemilu pasti akan terus ada perbedaan pendapat dan persepsi. Kendati demikian, menurutnya sikap terbaik dalam menghadapi situasi setelah Pemilu 2019 yakni menunggu hasil perhitungan suara yang akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Di sela-sela pertemuan tersebut AHY juga sempat menyampaikan salam dari pepo-Memo, sebutan ayah-bunda untuk SBY dan Ani Yudhoyono, kepada Jokowi. "Saya sampaikan salam hormat dari Pak SBY dan Ibu Ani. Pagi tadi sempat berkomunikasi, salam hormat kepada bapak presiden," jelas AHY.

Tidak hanya itu, AHY mengaku merasa terhormat sebagai warga Indonesia mendapat kesempatan diundang oleh presiden untuk bertatap muka secara langsung di tengah-tengah kesibukan RI 1.

Beberapa jam setelah momen yang bisa dibilang sebagai 'pertemuan saga' pasca berlangsungnya Pemilu 2019 pada 17 April, muncul sejumlah komentar dari publik Indonesia. Bahkan ada yang menilai pertemuan ini menunjukkan sikap mendua dari Partai Demokrat hingga sebagai manuver mendekat ke koalisi petahana. 

Sumber : Bisnis.com