SOSOK: Retnaningtyas Himpun Puluhan Kelurahan untuk Diberdayakan

5. Retnaningtyas (memakai kerudung) saat meninjau pemberdayaan masyarakat di Rejowinangun. - ist
24 April 2019 08:37 WIB Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Rejowinangun sebelum 2010 belum menunjukkan potensi yang signifikan. Namun, di tangan Retnaningtyas, kelurahan ini mulai berbenah lebih teratur. Selain dinobatkan menjadi Kelurahan Teladan, Rejowinangun juga menjelma kampung wisata yang banyak didatangi warga.

Mengembangkan potensi masyarakat menjadi hal yang biasa bagi Retna saat ini. Meski tidak dapat dilalui dengan instan, perempuan 41 tahun ini menikmatinya sebagai proses pengabdian kepada masyarakat sejak ditempatkan di Kelurahan Rejowinangun sebagai staf pemberdayaan masyarakat awal 2001.

Meski terlahir di Gunungkidul, sembilan tahun mengulik seluk-beluk Rejowinangun membuat Retna paham betul apa yang dibutuhkan kelurahan itu untuk dapat maju. Pada 2010, ia diangkat menjadi Lurah di Rejowinangun. Beragam program mulai ia petakan untuk membawa masyarakatnya lebih sejahtera.

“Setelah lulus langsung penempatan di kelurahan mulai dari staf, kepala seksi pemberdayaan masyarakat, sekretaris lurah, hingga lurah, membuat setiap hari bergelut denan masyarakat dan pemberdayaan sampai akhirnya menjadi sebuah kebiasaan,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN, sekarang Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini.

Saat baru menjabat sebagai lurah, Rejowinangun banyak memiliki lahan tidur yang belum dimanfaatkan dan didominasi tanah yang gersang. Meski begitu, Retna optimistis dapat menemukan potensi tersembunyi di kampung tersebut. Untuk itu, hal pertama yang Retna lakukan ialah memetakan keunggulan dari 13 RW di sana.

Rupanya, setelah diobservasi, ada lima potensi yang dapat dikembangkan. Untuk itulah Retna membagi wilayah berdasarkan potensi unggulannya ke dalam lima kluster, mulai kluster budaya, kerajinan, herbal, kuliner dan agro.

“Masing-masing kluster itu mereka bergerak sendiri, awalnya secara swadaya, sekarang sudah mulai dianggarkan oleh pemerintahan juga. Kemudian dengan sistem kluster itu memacu meningkatkan pendapatan dari masyarakat karena fokus dalam satu bidang,” ujarnya.

Dari masing-masing kluster, Retna mengajak warganya untuk dapat memiliki keinginan mencukupi kebutuhan secara mandiri agar tercipta kesejahteraan. Misalnya, di kluster agro program andalannya adalah satu rumah menanam lima tanaman khusus tanaman sayur dan buah. Kemudian kluster herbal juga menanam lima tanaman dalam satu rumah, namun khusus tanaman herbal.

“Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, juga untuk mensuplai para pembuat jamu gendong. Mereknya J’GER, jamu gendong Rejowinangun,” jelasnya.

Retna menekankan, jika setiap rumah bisa konsisten menanam tanaman untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing, maka ketahanan pangan dapat tercapai, bahkan di wilayah perkotaan. “Jadi yang namanya ketahanan pangan itu kan tidak dilihat seberapa luasnya lahan pertanian, tidak dilihat seberapa banyaknya produksi pertanian, tapi bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhannya secara mandiri, dalam keadaan apapun dalam kondisi apapun,” katanya.

Jika di desa punya lumbung padi, maka di Kelurahan Rejowinangun Retna menciptakan lumbung hidup. “Yang namanya makan itu kan enggak harus nasi, bisa digantikan dengan sayur, buah, singkong dan lain-lain yang bisa ditanam sendiri di rumahnya masing-masing.” Ketiadaan lahan di perkotaan juga tidak menjadi halangan, sebab bercocok tanam bisa dilakukan dengan polybag dengan memanfaatkan tembok, atap, bahkan pagar rumah. “Dan yang namanya lumbung hidup itu tidak akan pernah habis berapapun keturunannya selama dia mau menanam,” tegasnya.

Setelah warga terbiasa menanam lima tanaman per rumah, Retna mulai memberdayakan warganya untuk mengolah hasil panen tersebut. Buktinya, Rejowinangun berhasil mengembangkan 272 jenis daun untuk dibuat keripiki.

“Sudah dikirim ke luar kota dan masuk toko oleh-oleh,” kata dia. Berkat kepiawaiannya itu, ia diganjar penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara pada tahun 2015 serta meraih rekor MURI atas pembuatan keripik daun varietas terbanyak di tahun yang sama.

Dodolan Kampung

Retnaningtyas selesai mengabdikan dirinya menjadi Lurah Rejowinangun pada 2017. Setelah itu, ibu dua anak ini menjadi Sekretaris Camat di Kecamatan Tegalrejo. “Cuma setahun jadi baru merintis program,” katanya. Kini, Retna menjadi Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat di Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Perlindungan Anak Kota Jogja, sejak Mei 2018.

Jika mulanya Retna mengurus satu kelurahan saja saat menjadi lurah, kini ia menghimpun 45 kelurahan di Kota Jogja untuk diberdayakan.

Untuk meningkatkan potensi warganya, ia membuat program Dodolan Kampung yang terdiri dari tiga hal, yaitu do dolan kampung yang artinya kembali bermain di kampung, dodolan kampung yang artinya menjual potensi kampung, serta ngedol kampung yang berarti menonjolkan ciri khas untuk branding kampung.

Seperti ketika ditemui Harian Jogja beberapa waktu lalu, Retna sedang melakukan program dodolan kampung di Giwangan. Ia menyasar masyarakat area Wisata Air Gajah Wong Tirta Wolulas untuk dapat memanfaatkan potensi pinggir kali tersebut.

“Saya bilang mbok bikin jualannya di atas sungai, sebulan sekali atau dua bulan sekali ndak papa, momentum aja. Kan bagus, menarik orang datang ke sini,” ujarnya.