Potensi EBT Indonesia 3.688 GW, Pemanfaatannya Masih di Bawah 0,5 Persen
Potensi EBT Indonesia mencapai 3.688 GW, tetapi pemanfaatannya masih di bawah 0,5%. DEN mengungkap kendala investasi dan teknologi.
Ilustrasi uang. /Bisnis- Dwi Prasetya
Harianjogja.com, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau kinerja PT Krakatau Steel Tbk yang secara berturut-turut mengalami kerugian sejak 2012. Pada 2018, perseroan membukukan rugi sebesar USD77,163 juta.
Menurut Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Nyoman Gede Yetna sebagaimana dikutip Okezone.com, Jumat (12/4/20190 pihak BEI saat ini masih mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan dengan melihat pergerakan industri baja nasional dan global.
Menurutnya, jika sektor industri baja nasional atau global memang sedang turun, sehingga membuat kinerja perseroan tidak berjalan dengan baik, berarti ada dasar alasan dari kerugian Krakatau Steel.
PT Krakatau Steel Tbk secara berturut-turut mencatatkan kerugian sejak tahun 2012. Hingga tahun lalu saja, emiten berkode KRAS tersebut membukukan rugi sebesar USD77,163 juta.
Berdasarkan laporan keuangannya, kerugian perusahaan BUMN ini memang trennya berkurang, yakni pada 2012 sebesar USD19,56 juta, 2013 sebesar USD13,6 juta, kemudian 2014 naik menjadi USD154,185 juta. Puncaknya terjadi 2015 yakni sebesar USD 326,514 juta.
Adapun mulai tahun 2016, KRAS menurunkan kerugian menjadi USD 180,724 juta, dan 2017 turun kembali menjadi sebesar USD86,09 juta.
Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Nyoman Gede Yetna menyatakan, meski perusahaan selama 7 tahun mengalami kerugian, otoritas bursa tidak serta-merta akan melakukan penghapusan pencatatan saham (delisting). Menurutnya, ada banyak aspek yang juga perlu dipertimbangkan oleh BEI.
Dia mengatakan, BEI hanya membuka peluang untuk memanggil KRAS guna melihat kondisi keuangan perusahaan.
"Delisting itu kan tindakan luar biasa. Apakah ada tindakan panggilan atau obrolan, nanti saya pastikan Krakatau Steel ya," kata dia ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (11/4/2019).
Nyoman menjelaskan, pihak bursa akan memperhitungkan pergerakkan industri baja nasional atau global. Menurutnya, jika sektor industri baja nasional atau global memang sedang turun, sehingga membuat kinerja perseroan tidak berjalan dengan baik, berarti ada dasar alasan dari kerugian Krakatau Steel.
"Tapi misal peer-nya [industri baja nasional dan global] lagi naik, tapi dia (Krakatau Steel) sendiri turun, maka kita akan masuk ke hearing Board of Director-nya, ini kenapa? Bagaimana nakhodanya ini bisa yakinkan ke kita masalahnya apa dan bagaimana ke depannya. Kan bisa jadi penjualan dari produk tersebut karena kan produknya unik," papar Nyoman.
Nyoman juga menilai, meski merugi namun jika pendapatan perusahaannya masih berjalan baik, maka kinerja KRAS juga masih memiliki kepercayaan publik. Hal ini juga akan jadi pertimbangan oleh pihak BEI.
"Apakah ke depan efisien, bagaimana tingkatkan pendapatan, ketimbang tidak ada pendapatan sama sekali, berarti kan core bisnisnya enggak jalan. Itu yang lebih consern. Kalau bottom line, arahnya mau di mana ke mana perusahaan, mesti ke BOD-nya. Jadi enggak serta-merta delisting," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Potensi EBT Indonesia mencapai 3.688 GW, tetapi pemanfaatannya masih di bawah 0,5%. DEN mengungkap kendala investasi dan teknologi.
UMP DIY 2026 sebesar Rp2,4 juta, sedangkan KHL mencapai Rp4,6 juta. UU Pelindungan Ketenagakerjaan membuka opsi penyesuaian upah.
Gunung Karangetang di Sulawesi Utara erupsi pada 7 November 2026. Kolom abu mencapai 1.000 meter, sementara guguran lava mengarah ke sejumlah sungai.
Kemnaker menjelaskan syarat penerima BSU 2026 senilai Rp900.000, mulai dari batas gaji hingga status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Kapolda DIY menegaskan tidak ada anggota Jaga Warga saat kericuhan unjuk rasa 28 Oktober 2026 di kawasan Malioboro.
Polda Jateng memastikan benda logam berdiameter 4,5 milimeter di tubuh bocah Kendal bukan peluru senjata api.