NATO, Bersatu karena Rusia, Pecah karena Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. - Reuters
29 Juli 2018 19:17 WIB Newswire News Share :

Harianjoagja.com, JAKARTA-Pertemuan selama dua hari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), beberapa waktu lalu, menunjukkan kekuatan dan kekompakan aliansi itu sejak Perang Dingin.

NATO bahkan berencana untuk memperluas pengekangan kekuatan terhadap Rusia, negara yang mewarisi tahta Uni Soviet pada era Perang Dingin.

Meskipun NATO memiliki banyak sumber daya untuk melanggengkan perannya, banyak pemimpin negara dalam pertemuan tersebut secara implisit tampak cemas.

Mereka tampak cemas ketika mereka menghadapi pemimpin de facto aliansi, yaitu Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melemparkan pernyataan keras pada isu pembelanjaan pertahanan.

Tuduhan bahwa Rusia berusaha mengguncang Barat dengan serangan siber dan aksi rahasia menjadi dasar bagi ekspansi NATO selama beberapa dasawarsa, didukung oleh lonjakan belanja pertahanan AS di Eropa.

Pertemuan yang menyatukan lebih dari 40 kepala pemerintahan, termasuk 29 sekutu dan mitra nonanggota dari Finlandia ke Afghanistan, menggarisbawahi jangkauan organisasi tersebut.

NATO juga akan berekspansi lebih jauh, dengan mengundang Macedonia untuk memulai perundingan aksesi dan menentang peringatan Rusia terhadap pembesaran blok pimpinan AS tersebut, agar masuk lebih dalam ke kawasan Balkan, menurut laporan Reuters.

Namun, pernyataan Trump tentang banyaknya anggota sekutu yang tidak ikut membayar dalam aliansi sebagai biaya pengganti payung pertahanan AS, membuat banyak pemimpin negara dalam KTT mundur.

Trump berdalih bahwa NATO tidak berlaku secara adil karena pemerintahannya membayar terlalu banyak, sementara banyak negara anggota NATO yang justru membayar terlalu sedikit.

Sesi pertemuan para pemimpin di Museum Brussels pada Rabu malam itu, sepertinya tidak meredakan kemarahan Trump.

Saat itu, Trump menyampaikan isi pikirannya dengan cara memperingatkan sekutu NATO bahwa mereka berhutang dalam jumlah besar dan harus berbuat lebih banyak untuk menghentikan terorisme.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan dikatakan Trump saat pertemuan dengan NATO, ditambah munculnya kekhawatiran dari diplomat bahwa para pemimpin Eropa akan bereaksi, yang akan memperburuk ketegangan.

Akan tetapi, berbeda dengan cuitan Trump sebelumnya di akun Twitter-nya yang bernada keras kepada sekutunya. Cuitan Trump berubah lebih ramah sebelum memulai penerbangannya. Ia menuliskan, "Kami akan menyelesaikannya dan semua negara akan bahagia."

Trump mungkin berusaha mencari pemasukan pada upaya peningkatan pengeluaran Eropa yang sekarang terdaftar di rekening pemerintah.

NATO pada 2014 setuju bahwa setiap anggota akan meningkatkan pengeluaran militer menjadi dua persen dari produk domestik bruto pada 2024.

Sekarang, pengeluaran kumulatif Eropa dan Kanada telah meningkat hampir Rp1.305 triliun sejak 2015.

Menurut pernyataan salah seorang diplomat yang dilansir dari Reuters, bahwa sekutu bisa menerima kritik dari Trump jika saja disertai dengan komitmen untuk jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

Namun, kata dia, jika Trump justru mengancam untuk mundur dari NATO, maka pendirian sekutu NATO akan bisa sangat sulit.

Didirikan pada 1949 untuk mencegah ancaman Uni Soviet, NATO didasarkan pada kerja sama yang mendalam dengan Amerika Serikat, yang bersedia menyediakan keamanan bagi Eropa melalui arsenal, baik nuklir dan konvensionalnya.

Dalam perkembangan saat ini, NATO telah menemukan tujuan baru sejak aneksasi Rusia atas Ukraina di wilayah Krimea pada 2014, dengan mengirim batalion ke Baltik dan Polandia, untuk mencegah serangan Rusia yang potensial.

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk yang juga mantan Perdana Menteri Polandia, mengatakan bahwa meskipun Rusia sukses menyelenggarakan pesta olahraga sepak bola, akan tetapi hal itu sepatutnya tidak ada yang boleh melupakan esensi politik dan hubungan internasional dengan Rusia.

Dengan kata lain, urusan politik dan keamanan yang berkaitan dengan Rusia merupakan hal genting yang tidak bisa ditawar.

Trump yang menjadi panglima tertinggi gabungan kekuatan militer terbesar di dunia itu, telah mengindikasikan bahwa dia memiliki masalah lain yang ingin didiskusikan, seperti hubungan perdagangan dengan Eropa.

Dia telah memberlakukan tarif pajak pada ekspor baja dan alumunium Uni Eropa dan mengancam untuk menerapkannya juga pada produksi mobil dari kawasan tersebut.

Trump berdalih negaranya telah kehilangan lebih dari Rp2.100 triliun pada perdagangan dengan Uni Eropa.

Angka tersebut mengacu pada defisit perdagangan AS dengan Uni Eropa, meskipun kedua blok dan pemerintah AS mengatakan bahwa angka itu lebih rendah ketika termasuk layanan seperti keuangan, di mana AS memiliki surplus.

Menyusul pertemuan kelompok G7 pada akhir Juni, di mana Trump menolak pernyataan akhir pertemuan tersebut, para utusan NATO tidak memiliki kesempatan apapun dan merundingkan deklarasi KTT Brussels secara cermat, serta mengunci keputusan kebijakan tentang Rusia dan Irak.

Setidaknya satu pejabat Gedung Putih senior telah menandatangani pernyataan KTT NATO, yang berisi komitmen untuk tujuan belanja dua persen sebagaimana yang ditekankan dalam perjanjian sebelumnya.

Meskipun demikian, posisi Trump dinilai masih belum jelas mengingat Trump merupakan "Tweeter Bureaucrat" yang kerap memutuskan kebijakannya secara tiba-tiba melalui cuitan di akun media sosialnya.

Sumber : Antara