Advertisement
Jalani Sidang Vonis, Setya Novanto Pasrah
Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto (kiri) mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/3). Sidang mantan ketua DPR itu beragenda mendengarkan keterangan saksi. ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA-Terdakwa korupsi pengadaan KTP elektronik Setya Novanto berharap ia mendapatkan putusan pengadilan yang seadil-adilnya. Setya Novanto pasrah dan menyerahkan segala putusan vonis pada majelis hakim.
“Saya serahkan semua kepada majelis hakim dan Allah. Semoga diberikan putusan seadil-adilnya,” ujar Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Advertisement
Seperti diketahui, politisi Setya Novanto akan menjalani sidang dengan agenda putusan, Selasa (24/4/2018). Dia dituntut 16 tahun penjara oleh tim penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi karena terlibat korupsi pengadaan KTP elektronik.
Setya Novanto disebut telah terbukti melakukan perbuatan turut, serta melakukan perbuatan korupsi tersebut sehingga dituntut pidana penjara selama 16 tahun dan denda sebesar Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan.
BACA JUGA
“Terdakwa juga dituntut pidana tambahan dendan sebesar US$7,4 juta dengan memperhitungkan pengembalian uang Rp5 miliar. Jika dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap terdakwa tidak membayar, maka harta bendanya akan disita dan dilelang untuk negara. Jika tidak memiliki harta benda maka terdakwa menjalani pidana selama tiga tahun,” ujar penuntut umum.
Tidak hanya itu, mantan Ketua DPR itu juga dituntut pencabutan hak politiknya selama lima tahun terhitung setelah menyelesaikan masa pemidanaan. Pencabutan hak politik ini dikarenakan dia merupakan seorang wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat, namun mencederai kepercayaan pemilih dengan melakukan tindakkan koruptif.
Setya Novanto pun dianggap tidak pantas memperoleh status justice collabolator karena dalam persidangan tidak kooperatif dan mengakui perbuatan koruptifnya meski awalnya status tersebut diajukan olehnya.
“Perbuatan terdakwa tidak mendukung upaya pemerintah dalam melakukan pemberantasan korupsi dan berakibat massif serta mengancam kedaulatan pengelolaan data kependudukan dan dampaknya masih dirasakan hingga saat ini. Selain itu, perbuatan terdakwa juga mengakibatkan kerugian keuangan negara yang besar dan terdakwa tidak kooperatif baik dalam penyidikan maupun persidangan,” ujar penuntut umum .
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Iran Tunjuk Pemimpin Sementara Seusai Gugurnya Ali Khamenei
- Profil Ali Khamenei: Dari Ulama Muda hingga Pemimpin Tertinggi Iran
- Ayatollah Khamenei Dikabarkan Meninggal dalam Serangan AS-Israel
- Perang AS-Israel vs Iran, 58 Ribu Jemaah Umrah RI Masih di Arab Saudi
- IRGC Klaim Selat Hormuz Ditutup Usai Serangan AS-Israel
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Indeks Dunia Ungkap Kota dengan Beban Hidup Terberat
- Investor Pemula Rentan, LPS Minta Data Pribadi Tidak Dibagikan
- Bezzecchi Rebut Pole MotoGP Thailand, Marquez Tempel Ketat
- KAI Commuter Line Telusuri Pelaku Pelecehan di KRL lewat CCTV
- Langgar KH Ahmad Dahlan di Kauman menjadi saksi lahirnya Muhammadiyah
- BGN Hentikan 47 SPPG Seusai Temuan Menu MBG Tak Layak
- Israel Serang Iran dan Tetapkan Status Darurat Nasional
Advertisement
Advertisement









