Advertisement
Trump Batalkan Rencana Kirim Pasukan AS ke Pulau Kharg Iran
Donald Trump / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menentang rencana pengerahan pasukan AS ke Pulau Kharg di Iran karena mempertimbangkan potensi besarnya korban jiwa dalam operasi militer tersebut. Informasi itu dilaporkan Wall Street Journal dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal di pemerintahan.
Dalam laporan tersebut, Trump disebut khawatir bahwa operasi darat di wilayah strategis pengiriman minyak Iran itu dapat berujung pada kerugian besar di pihak militer AS. Meski Trump sebelumnya ia sempat mempertimbangkan opsi pengerahan pasukan darat tersebut dalam skenario tekanan terhadap Teheran.
Advertisement
Pulau Kharg sendiri dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam infrastruktur energi Iran, karena menjadi pusat utama ekspor minyak negara tersebut. Sejumlah analis menyebut lebih dari sebagian besar ekspor minyak Iran melewati terminal di pulau itu.
Meski menolak pengiriman pasukan dalam rencana terbaru, Trump sebelumnya sempat menyampaikan opsi agresif terhadap aset energi Iran, termasuk kemungkinan penguasaan Pulau Kharg sebagai bagian dari strategi tekanan geopolitik di kawasan Teluk.
BACA JUGA
Laporan Wall Street Journal juga menyebut Trump meyakini operasi tersebut berpotensi berhasil secara militer dan dapat memberi keuntungan strategis bagi Amerika Serikat, khususnya terkait kontrol jalur perdagangan minyak di kawasan Selat Hormuz. Namun, ia tetap menilai risiko korban jiwa terlalu tinggi.
Di sisi lain, laporan Politico yang dikutip media internasional menyebutkan lebih dari 2.000 personel Marinir AS telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah dari pangkalan di San Diego. Langkah ini memicu spekulasi bahwa Washington tengah menyiapkan berbagai opsi militer, termasuk operasi terbatas di kawasan sensitif tersebut.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sendiri meningkat dalam beberapa bulan terakhir, setelah serangkaian serangan militer dan blokade jalur perdagangan minyak. Kondisi ini turut memicu upaya mediasi internasional untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Upaya perundingan telah dilakukan kedua belah pihak di Islamabad, Pakistan beberapa waktu lalu. Namun demikian belum ada hasil yang mengarah ke kesepakatan perdamaian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Merapi Luncurkan Awan Panas 2 Km, Ratusan Guguran Lava Terekam
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Ini Hasilnya
- Bau Menyengat di Muja Muju, Bongkar Temuan Lansia Meninggal di Rumah
- Dana Nasabah Mulai Kembali, Kasus BNI Aek Nabara Dikebut
- Dari Desa ke Dunia, Pemuda Kulonprogo Diajak Bikin Wisata Viral
- Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini 19 April 2026, Berangkat Sejak Subuh
- Internet Tak Sekadar Hadir, Harus Dipakai di Sekolah dan Puskesmas
- OTT Kepala Daerah Terus Bertambah, Motifnya Tak Melulu Biaya Politik
Advertisement
Advertisement







