ANGKRINGAN PAKDHE HARJO : Menanti Transformasi Kraton Jogja…

Pimpinan Redaksi Harian Jogja, Adhitya Noviardi (JIBI/Harian Jogja - dok)
11 Mei 2015 03:20 WIB News Share :

Angkringan Pakdhe Harjo kali ini ditulis Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Adhitya Noviardi

Harianjogja.com, JOGJA-Sepekan terakhir, warga Jogja begitu fokus menyimak pemberitaan mengenai Sabda Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X sejak Kamis (30/4/2015) di Sitihinggil, Komplek Kraton Jogja. Sabda Raja itu menurut Ngarso Ndalem, disampaikan setelah dirinya mendapat petunjuk untuk dijalankan, dari leluhur. Dawuh Raja tersebut, merupakan perintah Tuhan yang diterima dan dapat diartikan sebagai lir gumanti atau masuknya Jogja ke dalam zaman baru.

“Zaman baru, terjadinya persatuan kesatuan dari Mataram Lama, dari zaman Singosari, Pajang ke Mataram Baru, sampai zaman sekarang ini. Zaman Mataram lama dan Mataram baru sempat terpisahkan karena ada perjanjian Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Karena sudah selesai, kami mengakui terjadi keturunan Ken Arok, Pajang, Senopati, sampai sekarang. Keturunan pancer tak berbelok,” ujar Sultan lagi.

Lik No, penjaga Angkringan Pakdhe Harjo berhenti sejenak membaca koran Harian Jogja yang sedari tadi dipegangnya. Kepalanya terangkat, matanya menerawang.

Noyo, tamu setia angkringan memerhatikan polah Lik No membuka suara. “Mas, sampeyan ini kenapa toh, serius betul baca Harjonya. Sik to. Buatkan minumnya dulu. Dari tadi tak tungguin ndak sadar-sadar kalau ada konsumen loyal di depan mata,” katanya.

“Eh iya, nuwunsewu, lagi serius baca, jadi ndak liat mase datang. Nganu, saya kok ndak mau ngebayangkan apa yang bakal terjadi di Kraton Jogja ini,” kata Lik No. Lik No. Dia berdiri, mengambil ceret di tungku arang yang sudah dua jam dipanaskan.

Lik No menuangkan air panas ke dalam gelas yang ada serbuk tehnya, lalu mendiamkan beberapa saat. Air yang sudah berubah warna itu kemudian dituangkannya ke dalam gelas transparan yang berisi belahan jeruk peras dan gula batu.

“Sini No, tehnya. Nah begini ini yang bener. Rumusnya jangan sampai pelanggan itu dianggurin, kalau mau maju, layanilah mereka yang baik,” jelas Noyo yang baru pekan lalu belajar ilmu marketing.

Noyo membuka plastik sate usus ayam yang tersedia di gerobak angkringan. Sambil sesekali menyeruput minuman yang asapnya makin menipis, dia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Trus menurutmu piye No, soal Sabda Raja yang sekarang lagi hangat di bahas di mana-mana,” tanya Noyo.

“Ya itu dia tadi yang saya baca mas. Dalam kondisi seperti ini, apapun yang disampaikan Raja, walau secara aturan dia berkuasa, tampaknya sebagian keluarga raja lainnya tak sepakat dengan pemberian gelar dan rencana pelantikan putra mahkota perempuan,” kata Lik No.

“Itu dia No. Perbedaan pandangan itu besar sekali. Kalau melihat persoalan ini, kalau aku mending ndak mau terlibat terlalu jauh dengan persoalan kerajaan. Biarlah persoalan kerajaan, kerajaan yang menyelesaikannya secara internal,” urai Noyo.

“Dan akan lebih baik begitu. Cuma kita berharap, momentum ini jangan dimanfaatkan orang-orang dari luar Jogja untuk mengacau Jogja, atau pihak- pihak lainnya yang mau mendapat untung sesaat dengan perbedaan pendapat di Kraton itu,” tambah Noyo.

“Menurut aku mas, kita harus jaga Jogja ini tetap istimewa, jangan Jogja ini seperti di Solo. Lihat toh mas, hanya Jogjalah satu-satunya daerah yang pemerintahan kerajaannya masih bertahan dan diakui resmi memerintah. Dan itu diakui lo melalui Undang-undang Keistimewaan,” timpal Lik No.

“Mudah-mudahan aja ya No, semua apa yang terlihat ini tidak menimbulkan konflik yang lebih luas,” kata Noyo lagi.

Tak beberapa lama, diskusi Lik No dan Noyo terhenti. Lik No melanjutkan membaca koran Harjo edisi Sabtu, sementara Noyo mengeluarkan ponsel baru yang memiliki sistem operasi android.

Lama kelamaan, tangannya asyik membalik halaman situs berita online lokal dan nasional. Beragam informasi dilahapnya sore itu. Sangking asyiknya, mereka tak sadar Suto, konco lawas teman diskusi Noyo hadir sambil mendehem-dehem kecil.

”Wah, wah, ini kok pada sibuk sendiri-sendiri. No tolong buatkan minum seperti yang diminum Noyo ini ya. Cuma gula batunya dikurangi dikit, biasa harus ngurangi konsumsi gula,” kata Suto.

“Wah hebat mase. Pesanan segera datang!,” kata Lik No.
“Piye Yo, kabar apa yang menarik sekarang?” Tanya Suto.
“Mmm… Itu… Tadi kami sempet membahas mengenai Sabda Raja. Informasi yang beredar begitu cepatnya. Tanggapan dari berbagai pihak yang terkait maupun yang ndak ada kaitannya juga cepat muncul. Baik yang betul-betul paham, maupun yang sekadar eksis,” kata Noyo.
“Trus menurut sampeyan piye?” Kembali Suto mengeluarkan pertanyaan penuh selidik.
“Maksudmu piye mas?” balas Noyo.
“Begini, dengan kondisi yang seperti ini, bagaimana menurutmu. Kira-kira fenomena apa yang terjadi,” urai Suto.
“Oooo… Ya keraton Jogja sedang dalam upaya mengikuti perkembangan zaman, seperti yang disampaikan Raja Jogja Sri Sultan HB X,” kata Noyo.
“Betul Yo. Lebih tepatnya, beradaptasi di tengah arus lalu intas informasi yang begitu cepatnya, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak terbatas. “
“Coba perhatikan bagaimana masyarakat bisa cepat tahu, dan paham mengenai apa yang terjadi di Kraton. Bukan hanya menunggu besok dari peristiwa yang terjadi. Warga paham dengan cara seketika alias real time,” jelas Suto.
“Kemudian lihat bagaimana pengaruhnya, juga bisa terlihat seketika. Hanya, dalam perkembangannya dalam hal mengatasi persoalan Keraton tentu saja tidak menyelesaikan persoalan mereka secara seketika pula. Untuk inilah dibutuhkan pemahaman-pemahaman yang lebih dalam lagi,” lanjut Suto.
“Lalu menurut mase, apakah keraton Jogja harus berubah?” Tanya Lik No.
“Kalau menurut saya, bukan berubah, keraton harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Bagaimana bentuknya, hanya Keraton yang paham,” kata Suto.
“Kita harap transformasi Keraton dengan perubahan zaman yang begitu cepat ini berjalan baik, dan persoalan yang kini muncul semoga segera terselesaikan di internal keraton itu sendiri,” harap Noyo.