Banjir Terjang Gaza, 70.000 Tenda Pengungsi Palestina Terendam

Newswire
Newswire Minggu, 08 November 2026 16:27 WIB
Banjir Terjang Gaza, 70.000 Tenda Pengungsi Palestina Terendam

Foto ilustrasi banjir bandang, dibuat menggunakan Artifical Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, GAZA—Hujan deras disertai angin kencang menerjang Jalur Gaza dan menyebabkan sekitar 70.000 tenda pengungsi Palestina terendam banjir. Bencana tersebut membuat ribuan keluarga kehilangan tempat berlindung di tengah keterbatasan bantuan dan rusaknya infrastruktur akibat perang.

Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian awal akibat badai yang mulai melanda pada Jumat malam mencapai sekitar US$3 juta. Selain merendam tenda, cuaca ekstrem tersebut juga merobohkan puluhan dinding bangunan.

Sumber medis mengatakan kepada Anadolu bahwa lima warga Palestina terluka dalam sejumlah insiden selama badai. Dua dinding bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel dilaporkan runtuh, sementara selembar pelat logam bergelombang terlepas diterjang angin.

Juru bicara Pemerintah Gaza City, Hosni Muhanna, mengatakan ribuan keluarga yang tendanya rusak tidak memiliki tempat lain untuk berlindung.

Menurut Muhanna, sekitar satu juta warga dan pengungsi berdesakan di wilayah yang luasnya hanya sekitar 30 persen dari keseluruhan Kota Gaza. Kepadatan tersebut semakin membebani infrastruktur yang telah hancur akibat perang genosida Israel.

Kota Gaza mencatat curah hujan 60 milimeter dalam 12 jam. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 15 persen dari total curah hujan tahunan di wilayah itu.

Angin kencang menerbangkan sejumlah tenda dan merobek tenda lainnya. Air hujan juga menggenangi tempat-tempat penampungan pengungsi.

Petugas pemerintah kota menerima 250 laporan terkait jalan yang terendam, erosi, dan saluran drainase tersumbat. Sebagian besar laporan ditangani dengan memanfaatkan sumber daya yang terbatas.

Muhanna memperingatkan sebanyak 270 kamp dan lokasi penampungan di Kota Gaza terancam banjir. Kerusakan akibat perang membuat kapasitas sistem drainase tersisa hanya 20 persen sehingga kawasan permukiman di dataran rendah semakin rentan.

Ia mendesak agar seluruh pintu perlintasan dibuka sepenuhnya. Langkah tersebut diperlukan agar pasokan kebutuhan musim dingin, bantuan kemanusiaan, dan peralatan berat dapat masuk ke Jalur Gaza.

Tim Penyelamat Kewalahan

Direktur Hubungan Masyarakat Badan Pertahanan Sipil Gaza, Abdullah al-Majdalawi, mengatakan kepada Anadolu bahwa timnya menerima ratusan panggilan darurat sejak badai melanda.

Sebagian besar laporan berkaitan dengan tenda dan kamp pengungsian yang terendam banjir. Tim juga menerima laporan mengenai bangunan dan dinding yang terancam runtuh menimpa tempat berlindung keluarga pengungsi.

Al-Majdalawi mengatakan tim penyelamat dapat menangani ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa. Namun, mereka tidak memiliki sumber daya untuk menyediakan tempat berlindung bagi warga yang terdampak.

"Kami mendatangi warga dan mendapati seluruh kamp terendam banjir, termasuk tenda, penghuninya, perabotan, dan tempat tidur mereka," kata al-Majdalawi. "Kami tidak berdaya menghadapi kenyataan tragis dan sulit di Gaza ini."

Ia menyebut ribuan tenda terendam atau rusak sehingga keluarga pengungsi terpaksa bertahan di tempat terbuka. Ketiadaan alternatif tempat berlindung yang lebih aman berkaitan dengan blokade Israel serta pembatasan terhadap rumah mobil dan bahan-bahan rekonstruksi.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Kamis (5/11/2026), menyatakan sebanyak 1,98 juta orang atau sekitar 94 persen dari populasi Gaza membutuhkan tempat berlindung dan pasokan kebutuhan pokok lainnya.

Angka tersebut merujuk pada survei yang dilakukan pada Juni. UNRWA juga menyebutkan 58 persen dari kelompok tersebut menghadapi kebutuhan tempat berlindung pada tingkat kritis atau katastrofik.

Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Oktober memperingatkan sekitar 950.000 warga Palestina tinggal di lokasi pengungsian dengan risiko banjir sedang hingga tinggi. Lebih dari 400.000 orang di antaranya berada di kawasan berisiko tinggi.

Perang genosida Israel yang dimulai pada Oktober 2023 telah menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur di Gaza. Lebih dari setahun setelah gencatan senjata Oktober 2025 mulai berlaku, kebutuhan tempat berlindung dan rekonstruksi masih jauh melampaui bantuan yang tersedia.

Situasi tersebut diperburuk oleh pembatasan Israel yang terus berlangsung terhadap masuknya bahan-bahan untuk membangun hunian sementara dan memperbaiki rumah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online