Anomali Cuaca, Karhutla Meluas di Sulawesi-Maluku, Banjir Rendam Aceh Tamiang

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Selasa, 13 Oktober 2026 08:37 WIB
Anomali Cuaca, Karhutla Meluas di Sulawesi-Maluku, Banjir Rendam Aceh Tamiang

Salah satu jembatan di Aceh Tenggara yang rusak akibat banjir, Sabtu (26/9/2026). /Antara-Humas BPBA\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Anomali cuaca memicu rangkaian bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, hingga Maluku Utara, sementara banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, merendam empat kecamatan dan memaksa sedikitnya 222 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peningkatan kejadian kebakaran dalam laporan kebencanaan nasional sepanjang akhir pekan hingga awal pekan ini. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut ancaman hidrometeorologi kering mendominasi sejumlah laporan, di tengah cuaca terik yang dikaitkan dengan fenomena El Nino.

Di wilayah tengah dan timur Indonesia, kebakaran melanda lahan perkebunan hingga fasilitas publik. Sementara itu, hujan berintensitas tinggi di wilayah utara Pulau Sumatra memicu banjir bandang yang merendam permukiman warga.

Karhutla di Sulawesi Selatan Hanguskan 20 Hektare

Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan lahan terparah akibat karhutla. Hingga Minggu (11/10/2026), kebakaran melanda dua lokasi dengan total luas lahan yang hangus mencapai 20 hektare.

Dua lokasi tersebut meliputi Kelurahan Maccorawalie di Kecamatan Watang Sawitto dan Desa Watang Pulu di Kecamatan Suppa. Masing-masing wilayah mengalami kebakaran lahan seluas 10 hektare.

Kebakaran juga terjadi di dua kabupaten di Sulawesi Tengah, yakni Parigi Moutong dan Tojo Una Una. Di Parigi Moutong, api membakar lahan seluas 3 hektare di Desa Petunasugi.

Peristiwa di Desa Petunasugi bermula pada Minggu sore dari sebuah kebun kosong. Api kemudian merambat dengan cepat ke empat lahan milik warga lainnya.

Lokasi kebakaran yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari kawasan permukiman padat penduduk turut meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga di sekitarnya.

Sementara itu, karhutla di Kelurahan Uentanaga, Kabupaten Tojo Una Una, menghanguskan lahan seluas 1 hektare. Armada pemadam gabungan bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) dikerahkan untuk menangani kebakaran di wilayah Sulawesi tersebut.

Seluruh titik api di wilayah Sulawesi yang dilaporkan dalam kejadian tersebut berhasil dipadamkan pada hari yang sama.

Kebakaran TPA Takome Ternate Picu Kabut Asap

Selain membakar lahan, kebakaran juga melanda fasilitas publik di Maluku Utara. Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Takome di Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, mengalami kebakaran yang sulit dikendalikan.

Api pertama kali terdeteksi pada Kamis (8/10/2026). Meski sempat mereda, kebakaran kembali membesar pada Minggu pagi.

Asap tebal dari tumpukan sampah menyebar ke area operasional TPA hingga kawasan permukiman di sekitarnya. Asap dari material sampah yang terbakar tersebut menimbulkan ancaman pencemaran udara bagi warga sekitar.

Hingga laporan disampaikan, tim gabungan masih berupaya memadamkan api yang berada di bawah tumpukan sampah. Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran TPA Takome masih berlangsung.

BNPB Imbau Warga Hindari Aktivitas Pemicu Api

Menyikapi meningkatnya kejadian kebakaran, Berton meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api baru.

"Di tengah teriknya cuaca akibat fenomena El Nino yang terjadi saat ini, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka ladang dengan cara membakar guna mencegah terjadinya karhutla. Jangan membuang puntung rokok sembarangan dan pastikan bara api telah padam sempurna sebelum dibuang," tegas Berton dalam keterangan resminya, Senin (12/10/2026).

BNPB juga mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi risiko kekeringan dan kekurangan air bersih akibat kemarau panjang. Warga diminta mengisi cadangan air ketika pasokan masih tersedia, menggunakan air sesuai kebutuhan, memperbaiki keran yang bocor, serta memanfaatkan kembali air bekas yang masih layak digunakan.

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Aceh Tamiang

Di tengah ancaman karhutla dan kekeringan di wilayah tengah serta timur Indonesia, hujan dengan intensitas tinggi justru memicu banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu (10/10/2026) menyebabkan banjir di empat kecamatan, yakni Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, dan Bendahara.

Berdasarkan hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang, ketinggian air mencapai 50 sentimeter. Sedikitnya 222 KK terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari genangan banjir.

Peristiwa ini memperlihatkan beragam ancaman bencana hidrometeorologi yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode yang sama. Ketika sebagian wilayah menghadapi kebakaran dan kekeringan, wilayah lain justru mengalami banjir akibat hujan berintensitas tinggi.

Berton mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mewaspadai kekeringan, tetapi juga potensi bencana akibat anomali cuaca dan ancaman geologi.

"Selain ancaman kekeringan, masyarakat perlu mewaspadai potensi bahaya hidrometeorologi akibat anomali cuaca, khususnya di wilayah utara Pulau Sumatra, serta tetap waspada terhadap kemungkinan bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu," kata Berton.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online