Banjir Rendam Kamp Pengungsian Gaza, Bayi dan Lansia Paling Rentan

Newswire
Newswire Minggu, 08 November 2026 08:57 WIB
Banjir Rendam Kamp Pengungsian Gaza, Bayi dan Lansia Paling Rentan

Warga Palestina melintas di jalan yang dikelilingi bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Jumat (12/4/2024). Antara/Xinhua/Rizek Abdeljawad

Harianjogja.com, JAKARTA—Badai musim dingin pertama yang melanda Jalur Gaza menyebabkan sekitar 70.000 tenda pengungsi Palestina terendam banjir hanya dalam waktu 12 jam. Bencana tersebut semakin memperburuk kondisi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat perang sejak Oktober 2023.

Mengutip Al Jazeera, Minggu (8/11/2026), Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian awal akibat banjir mencapai US$3 juta. Puluhan tembok dilaporkan runtuh dan sejumlah warga terluka, sementara bangunan yang mengalami keretakan terancam ambruk sehingga membahayakan keselamatan penghuninya.

Dalam pernyataan pada Sabtu, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut Israel bertanggung jawab penuh atas bencana tersebut. Israel dinilai terus menutup perlintasan perbatasan dan menghalangi masuknya material yang dibutuhkan untuk membangun tempat penampungan serta melakukan rekonstruksi.

Pemerintah Gaza pun mendesak komunitas internasional dan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera turun tangan untuk melindungi warga yang mengungsi.

Ribuan Panggilan Darurat dalam 10 Jam

Badan Pertahanan Sipil Gaza menyatakan tim penyelamat menerima sekitar 1.500 panggilan darurat hanya dalam 10 jam sejak hujan mulai turun pada Sabtu (7/11) pagi. Ketinggian air di sejumlah lokasi penampungan bahkan mencapai 30–40 sentimeter.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan kondisi yang selama ini dikhawatirkan akhirnya benar-benar terjadi. Sejumlah pusat penampungan sepenuhnya terendam sehingga penghuninya terpaksa meninggalkan tempat tersebut tanpa mengetahui ke mana harus pergi.

"Apa yang kami khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi. Beberapa pusat penampungan sepenuhnya terendam banjir dan seluruh orang yang berada di dalamnya kini terpaksa keluar tanpa mengetahui harus pergi ke mana," ujar Basal kepada Al Jazeera.

Dia menambahkan bayi yang lahir prematur, warga lanjut usia, dan orang sakit menjadi kelompok paling rentan menghadapi dampak badai.

"Mereka yang tinggal di tenda menghadapi risiko kematian kapan saja dan risiko terserang penyakit kapan saja," katanya.

Badai juga memicu runtuhnya sejumlah bangunan yang sebelumnya telah rusak akibat perang Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

Tim penyelamat Pertahanan Sipil mengevakuasi penghuni sebuah bangunan di Nuseirat, Gaza tengah, setelah sebagian bangunan tersebut ambruk akibat angin kencang dan hujan deras.

Sementara itu, kantor berita Palestina Wafa melaporkan tembok bangunan lain di Gaza bagian utara roboh akibat hujan lebat. Peristiwa tersebut menyebabkan dua orang terluka.

Kasur dan Selimut Terendam, Anak-anak Berjalan di Genangan

Rekaman dari sejumlah kamp pengungsian di Kota Gaza, Khan Younis, dan Deir el-Balah memperlihatkan keluarga-keluarga berjalan menerobos genangan air setinggi mata kaki.

Kasur dan selimut mereka terendam banjir. Anak-anak bahkan terlihat berdiri tanpa alas kaki di tengah genangan lumpur dan air limbah.

Jurnalis Al Jazeera, Nour Khaled, yang melaporkan dari kamp pengungsian di Kota Gaza, menggambarkan buruknya kondisi tempat tinggal warga.

"Bahkan rumah-rumah pun tidak mampu menahan hujan ini. Lantas, bagaimana mungkin lembaran plastik terbuka bisa melindungi mereka?" ujarnya.

Khaled juga menyebut lebih dari 28.000 janda termasuk di antara warga yang harus menghadapi musim dingin seorang diri bersama anak-anak mereka.

Di al-Mawasi, kawasan pesisir Gaza selatan yang menjadi tempat berlindung lebih dari 900.000 pengungsi, hujan telah turun sejak pukul 22.00 waktu setempat pada Jumat.

Komite Darurat Gaza memperkirakan lebih dari satu juta warga yang mengungsi akan menghadapi musim dingin berat. Untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi, wilayah tersebut membutuhkan sekitar 200.000 tenda serta perlengkapan pemanas.

Pertahanan Sipil Kekurangan Peralatan Penyelamatan

Direktur Pertahanan Sipil Gaza, Raed al-Dahshan, mengatakan kemampuan tim penyelamat sangat terbatas dalam menjangkau keluarga yang terdampak banjir.

"Pertahanan Sipil bahkan tidak memiliki satu lembar terpal pun atau satu tenda pun. Kami hanya bertugas menyelamatkan nyawa, dan itu tidak cukup," ujarnya.

Kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan turut menyalahkan pembatasan Israel terhadap masuknya material pembangunan tempat penampungan. Pembatasan tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab semakin buruknya kondisi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Dampak badai tidak hanya dirasakan di kamp-kamp pengungsian, tetapi juga mengganggu sistem kesehatan Gaza yang telah mengalami kerusakan parah.

Direktur Kompleks Medis al-Shifa di Kota Gaza, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan departemen gawat darurat rumah sakit tersebut sempat terendam banjir dan tidak dapat beroperasi selama sekitar empat jam.

Dia memperingatkan risiko peningkatan kasus infeksi saluran pencernaan, penyakit pernapasan, dan infeksi kulit. Ancaman tersebut muncul akibat bercampurnya air limbah dengan air hujan di dalam tenda-tenda pengungsian.

Abu Salmiya juga memperingatkan kondisi tersebut dapat berakibat fatal bagi bayi baru lahir yang membutuhkan kehangatan di tengah cuaca dingin.

"Kita akan melihat banyak kematian, puluhan dan mungkin ratusan, di antara bayi baru lahir yang membutuhkan kehangatan di dalam tenda-tenda ini," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online