Demo Tuntut Kenaikan Upah di Prancis Memanas, Ratusan Ditangkap

Newswire
Newswire Jum'at, 06 November 2026 15:57 WIB
Demo Tuntut Kenaikan Upah di Prancis Memanas, Ratusan Ditangkap

Aksi unjuk rasa di Prancis yang berakhir dengan kericuhan./Anadolu\r\n\r\n

Harianjogja.com, PARIS—Demonstrasi lanjutan di Prancis yang menuntut kenaikan upah dan menolak lonjakan biaya hidup berujung pada 448 penangkapan dan 53 petugas kepolisian terluka. Aksi yang berlangsung di berbagai wilayah pada Kamis (5/11/2026) itu diperkirakan diikuti 575.000 orang berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis.

Selain penangkapan dan korban luka, aparat juga mencatat 86 insiden kebakaran hingga Kamis pukul 18.00 waktu setempat. Meski sebagian besar demonstrasi yang memperoleh izin berlangsung lancar dan relatif damai, ketegangan terjadi di sejumlah kota, termasuk Paris, Lyon, Rennes, dan Toulouse.

Jumlah massa berdasarkan perkiraan pemerintah tersebut merupakan revisi turun dari estimasi sementara sebelumnya yang hampir mencapai 600.000 orang. Sementara itu, serikat pekerja Confederation Generale du Travail (CGT) memperkirakan jumlah peserta demonstrasi secara nasional mencapai hampir 1,6 juta orang.

Perbedaan angka juga terlihat di ibu kota. Kementerian Dalam Negeri memperkirakan 65.000 orang turun ke jalan di Paris, sedangkan CGT mencatat jumlah peserta mencapai 350.000 orang.

CGT Desak Pemerintah Prancis Naikkan Upah Pekerja
Di tengah aksi demonstrasi, Sekretaris Jenderal CGT Sophie Binet menilai gerakan mogok nasional berlangsung sangat efektif. Dia mendesak Pemerintah Prancis segera merespons tuntutan para pekerja.

"Tidak ada yang dapat menghentikan kami," kata Binet dalam demonstrasi di Paris.

Binet juga menyerukan kenaikan upah bagi seluruh pekerja serta peningkatan upah minimum sebesar 10 persen. Tuntutan tersebut menjadi bagian dari protes terhadap tingginya biaya hidup dan upaya meningkatkan daya beli masyarakat.

Aksi tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Para pekerja, pegawai negeri, pensiunan, anggota Gerakan Rompi Kuning, siswa SMA, hingga mahasiswa diperkirakan bergabung dalam demonstrasi untuk menyuarakan tuntutan kenaikan upah dan kebijakan peningkatan daya beli.

Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengumumkan pemerintah akan menggelar konferensi sosial yang melibatkan serikat pekerja dan organisasi pengusaha.

Berdasarkan pernyataan pemerintah, pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di Matignon pada Senin (9/11).

Aksi Mogok Ganggu Sekolah dan Perguruan Tinggi
Dampak demonstrasi dan aksi mogok nasional juga dirasakan sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Tinggi Prancis melaporkan gangguan aktivitas terjadi di 60 dari total 184 perguruan tinggi.

Sementara itu, serikat pekerja SNES-FSU memperkirakan tingkat partisipasi mogok di kalangan tenaga pengajar sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) mencapai 52 persen.

Media lokal juga melaporkan polisi turun tangan untuk membubarkan blokade mahasiswa di sejumlah kota, termasuk Paris dan Bordeaux.

Aksi mahasiswa tersebut merupakan bagian dari gerakan protes yang telah berlangsung sejak pertengahan September. Mereka menyuarakan persoalan kondisi pendidikan, pendanaan, serta kekurangan tenaga pengajar.

Dengan demikian, demonstrasi kali ini tidak hanya berkaitan dengan tuntutan ekonomi dan kenaikan upah, tetapi juga berlangsung bersamaan dengan gerakan mahasiswa yang memperjuangkan persoalan pendidikan.

Prancis Kerahkan 70.000 Personel Keamanan
Sebelum demonstrasi berlangsung, pihak berwenang Prancis telah menyiapkan pengamanan dalam skala besar. Media lokal sebelumnya melaporkan perkiraan jumlah peserta aksi lanjutan mencapai 780.000 orang di berbagai wilayah negara tersebut.

Untuk mengantisipasi demonstrasi, pemerintah mengerahkan 70.000 petugas kepolisian dan gendarmerie.

Sebuah kelompok yang terdiri atas berbagai serikat pekerja memperkirakan sekitar 500.000 hingga 700.000 orang akan berunjuk rasa di luar Paris. Sementara itu, 40.000 hingga 80.000 orang lainnya diperkirakan menyampaikan pendapat di ibu kota Prancis tersebut, menurut BFMTV.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez pada Rabu (4/11/2026) mengatakan pola pengamanan demonstrasi Kamis akan sama persis dengan pengamanan yang diterapkan saat demonstrasi Sabtu (31/10/2026).

Pihak berwenang menyiapkan 26 kendaraan lapis baja, sekitar 15 kendaraan meriam air, helikopter, dan pesawat nirawak. Pengamanan juga melibatkan sejumlah unit kepolisian khusus, yakni BRI, RAID, dan GIGN.

Nunez menjelaskan pengerahan personel dan peralatan tersebut bertujuan menyediakan rute yang seaman mungkin bagi masyarakat sekaligus menghindari lokasi-lokasi sensitif, terutama di pusat-pusat kota.

Meski pengamanan telah disiapkan, data Kementerian Dalam Negeri Prancis menunjukkan demonstrasi Kamis tetap diwarnai ratusan penangkapan, puluhan petugas keamanan terluka, serta puluhan insiden kebakaran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online