Kemenkes Catat 109 Juta Peserta Cek Kesehatan Gratis, Insiden TB Menurun
Kemenkes mencatat 109,3 juta peserta Cek Kesehatan Gratis, 21 RSUD baru beroperasi, dan estimasi insiden TB turun pada 2026.
Ilustrasi ekspor impor, pengangkutan barang di pelabuhan. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi, dan perlambatan permintaan ekspor membuat pelaku usaha di Indonesia semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Tekanan terhadap biaya produksi yang tidak diimbangi keleluasaan menaikkan harga jual membuat perusahaan menghadapi risiko penyusutan margin keuntungan.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat ketiga faktor tersebut menciptakan tekanan ganda bagi dunia usaha. Kondisi ini juga membatasi kemampuan perusahaan untuk memperluas bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menjelaskan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya pengadaan bahan baku, barang penolong, mesin, hingga komponen impor.
Tekanan tersebut terutama dirasakan industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap input produksi berdenominasi mata uang asing.
Beban perusahaan semakin besar seiring tren kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya biaya energi, bahan bakar, transportasi, serta distribusi logistik.
Di sisi lain, ketika biaya produksi meningkat, pengusaha justru menghadapi perlambatan permintaan pasar global yang membatasi pesanan ekspor.
"Kondisi ini menciptakan tekanan ganda ketika biaya produksi meningkat, sementara ruang untuk menaikkan harga jual relatif terbatas karena perusahaan harus mempertahankan daya saing, baik di pasar domestik maupun ekspor," urai Shinta kepada Bisnis, Jumat (6/11/2026).
Shinta menegaskan peningkatan aktivitas produksi maupun jumlah pesanan barang belum tentu diikuti perbaikan margin keuntungan perusahaan. Hal ini terjadi karena ruang untuk menyesuaikan harga jual masih terbatas demi menjaga daya saing produk.
Akibatnya, kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis menjadi semakin terbatas.
Menghadapi ketidakpastian tersebut, pelaku usaha cenderung menahan pengeluaran modal dalam jumlah besar. Keputusan ini menjadi respons terhadap tekanan biaya produksi dan terbatasnya prospek permintaan pasar.
"Dalam situasi tersebut, pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati atau wait and see dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang," tegas Shinta.
Sikap wait and see tersebut menunjukkan pelaku usaha memilih mencermati perkembangan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Merespons tekanan yang dihadapi dunia usaha, Apindo mendesak pemerintah merancang intervensi kebijakan yang secara khusus memberikan ruang bagi sektor produktif.
Dukungan berupa insentif dan kepastian regulasi dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan operasional perusahaan. Kebijakan tersebut juga diharapkan membantu dunia usaha mempertahankan dan memperkuat daya saing di tengah kenaikan biaya produksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Kemenkes mencatat 109,3 juta peserta Cek Kesehatan Gratis, 21 RSUD baru beroperasi, dan estimasi insiden TB turun pada 2026.
Polisi membongkar sindikat pemalsuan tinta Epson di Jakarta setelah investigasi 18 bulan. Lebih dari 20 orang dibawa untuk dimintai keterangan.
Kejagung menggeledah enam lokasi di Jakarta terkait dugaan korupsi nikel Sulawesi Tenggara periode 2013-2025 dan menyita uang Rp11,795 miliar.
TNBTS mengingatkan wisatawan mematuhi batas aman kawah Bromo pascaerupsi Kamis (5/11/2026). Status gunung masih Level II atau waspada.
Wamenko Pangan Hanif Faisol menegaskan tidak ada PSN atau proyek cetak sawah di TN Wasur. Lahan bekas karhutla harus dikembalikan sesuai fungsi ruangnya.
Sufmi Dasco Ahmad menyatakan DPR belum membahas wacana pemakzulan Gibran dan meminta publik menunggu masa sidang berikutnya.