Rupiah Melemah dan Ekspor Lesu, Pengusaha Pilih Wait and See

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Jum'at, 06 November 2026 17:07 WIB
Rupiah Melemah dan Ekspor Lesu, Pengusaha Pilih Wait and See

Ilustrasi ekspor impor, pengangkutan barang di pelabuhan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi, dan perlambatan permintaan ekspor membuat pelaku usaha di Indonesia semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Tekanan terhadap biaya produksi yang tidak diimbangi keleluasaan menaikkan harga jual membuat perusahaan menghadapi risiko penyusutan margin keuntungan.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat ketiga faktor tersebut menciptakan tekanan ganda bagi dunia usaha. Kondisi ini juga membatasi kemampuan perusahaan untuk memperluas bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menjelaskan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya pengadaan bahan baku, barang penolong, mesin, hingga komponen impor.

Tekanan tersebut terutama dirasakan industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap input produksi berdenominasi mata uang asing.

Biaya Produksi Naik, Permintaan Ekspor Melambat

Beban perusahaan semakin besar seiring tren kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya biaya energi, bahan bakar, transportasi, serta distribusi logistik.

Di sisi lain, ketika biaya produksi meningkat, pengusaha justru menghadapi perlambatan permintaan pasar global yang membatasi pesanan ekspor.

"Kondisi ini menciptakan tekanan ganda ketika biaya produksi meningkat, sementara ruang untuk menaikkan harga jual relatif terbatas karena perusahaan harus mempertahankan daya saing, baik di pasar domestik maupun ekspor," urai Shinta kepada Bisnis, Jumat (6/11/2026).

Shinta menegaskan peningkatan aktivitas produksi maupun jumlah pesanan barang belum tentu diikuti perbaikan margin keuntungan perusahaan. Hal ini terjadi karena ruang untuk menyesuaikan harga jual masih terbatas demi menjaga daya saing produk.

Akibatnya, kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis menjadi semakin terbatas.

Pengusaha Tahan Investasi Jangka Panjang

Menghadapi ketidakpastian tersebut, pelaku usaha cenderung menahan pengeluaran modal dalam jumlah besar. Keputusan ini menjadi respons terhadap tekanan biaya produksi dan terbatasnya prospek permintaan pasar.

"Dalam situasi tersebut, pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati atau wait and see dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang," tegas Shinta.

Sikap wait and see tersebut menunjukkan pelaku usaha memilih mencermati perkembangan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang.

Apindo Minta Pemerintah Beri Insentif dan Kepastian Regulasi

Merespons tekanan yang dihadapi dunia usaha, Apindo mendesak pemerintah merancang intervensi kebijakan yang secara khusus memberikan ruang bagi sektor produktif.

Dukungan berupa insentif dan kepastian regulasi dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan operasional perusahaan. Kebijakan tersebut juga diharapkan membantu dunia usaha mempertahankan dan memperkuat daya saing di tengah kenaikan biaya produksi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online