Reza Rahadian Ungkap 3 Adegan Favorit di Film Laut Bercerita
Reza Rahadian mengungkap tiga adegan favorit di film Laut Bercerita, mulai dari penjara hingga tantangan syuting di kedalaman laut.
Petugas melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar. Fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 telah menaikkan risiko karhutla di Indonesia./Dok. KLH\r\n\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api, tetapi juga mengurangi kabut asap yang mengganggu jarak pandang dan kualitas udara. Salah satu metode yang digunakan pemerintah adalah pemanfaatan es kering atau dry ice dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) melanjutkan OMC menggunakan dry ice di Sumatera Selatan. Upaya ini dilakukan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap akibat karhutla.
Operasi tersebut berlangsung selama 10 hari, mulai 16 hingga 25 Oktober 2026. Memasuki hari kedua pelaksanaan, pemantauan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera menunjukkan adanya perbaikan jarak pandang di Palembang.
Kondisi tersebut turut mendukung pelaksanaan operasi Satgas Udara dalam penanganan karhutla. Lantas, bagaimana cara kerja dry ice untuk membantu mengurai kabut asap dan apa perbedaannya dengan garam yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca?
Penggunaan dry ice dalam OMC berfokus pada upaya membantu mengurangi penumpukan asap di dekat permukaan. Metode ini berkaitan dengan kondisi atmosfer yang dapat membuat asap dan polutan terjebak di lapisan bawah udara.
Lapisan inversi suhu terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan bumi. Kondisi tersebut menghambat pergerakan udara secara vertikal.
Akibatnya, asap dan polutan dari kebakaran hutan dan lahan dapat menumpuk di lapisan bawah atmosfer. Penumpukan ini berpotensi memperburuk kualitas udara sekaligus mengurangi jarak pandang.
Dalam metode ini, es kering atau karbon dioksida dalam bentuk padat disebarkan dari pesawat pada lapisan atmosfer yang menjadi sasaran operasi.
Pada pelaksanaan awal di Sumatera Selatan, penyemaian dilakukan melalui udara dengan ketinggian yang disesuaikan dengan kondisi operasi. Penentuan sasaran tersebut menjadi bagian dari upaya agar metode yang diterapkan sesuai dengan keadaan atmosfer.
Dry ice memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika menyublim, bahan ini berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas dan menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.
Pendinginan lokal tersebut diharapkan dapat mengubah kestabilan atmosfer dan membantu mendorong pencampuran udara secara vertikal. Dengan demikian, lapisan inversi yang menghambat pergerakan asap berpeluang melemah.
Apabila kondisi atmosfer mendukung, melemahnya lapisan inversi dapat membuka peluang bagi asap yang sebelumnya terperangkap untuk bergerak naik dan menyebar.
Keberhasilan operasi tidak hanya dinilai dari pelaksanaan penyemaian, tetapi juga melalui sejumlah indikator. Parameter yang diperhatikan antara lain perubahan jarak pandang, konsentrasi asap, serta kadar partikel polutan PM2.5.
PM2.5 merupakan partikel halus di udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel tersebut dapat berasal dari pembakaran kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembangkit energi, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun sama-sama digunakan dalam operasi modifikasi cuaca, dry ice dan garam atau natrium klorida (NaCl) memiliki mekanisme dan sasaran penggunaan yang berbeda.
Dry ice disebarkan dari pesawat pada lapisan inversi atmosfer untuk membantu mengubah kondisi udara yang menahan asap.
Sementara itu, garam (NaCl) disemai ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Penyemaian ini ditujukan untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air.
Penggunaan dry ice bertujuan membantu mengurangi penumpukan asap dan polutan di dekat permukaan serta meningkatkan jarak pandang.
Adapun garam digunakan untuk mendukung pembentukan hujan. Air hujan yang dihasilkan diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang terdampak karhutla.
Dry ice digunakan ketika lapisan inversi menahan asap dan peluang penyemaian hujan dari awan potensial terbatas.
Sebaliknya, garam (NaCl) digunakan ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya awan yang berpotensi mendukung pembentukan hujan. Karena itu, pemilihan metode mempertimbangkan kondisi atmosfer yang terpantau.
Pada metode dry ice, hasil yang diharapkan adalah asap dapat bergerak naik dan menyebar sehingga konsentrasinya di dekat permukaan berpotensi berkurang.
Sementara itu, penyemaian garam diharapkan meningkatkan peluang terjadinya hujan. Hujan tersebut dapat membantu membasahi lahan yang terdampak kebakaran.
Penentuan waktu dan lokasi penyemaian dry ice didasarkan pada pemantauan lapisan inversi serta perkembangan kondisi atmosfer.
Adapun waktu penyemaian garam ditentukan berdasarkan pemantauan awan dan potensi hujan. Kedua metode tersebut membutuhkan penyesuaian dengan kondisi atmosfer di wilayah sasaran.
Evaluasi penggunaan dry ice mempertimbangkan perubahan jarak pandang, konsentrasi asap, dan kondisi atmosfer.
Untuk penyemaian garam, evaluasi dapat dilakukan dengan memperhatikan perkembangan hujan serta kondisi wilayah sasaran setelah operasi berlangsung.
Hasil penggunaan dry ice bergantung pada kondisi atmosfer dan masih perlu dievaluasi melalui pengamatan ilmiah. Dengan demikian, perubahan kondisi asap dan jarak pandang menjadi bagian penting dalam menilai dampak operasi.
Sementara itu, penyemaian garam tidak menjamin hujan akan turun. Keberhasilannya bergantung pada karakteristik awan dan kondisi atmosfer ketika operasi dilakukan.
Perbedaan utama kedua metode tersebut terletak pada sasaran yang ingin dicapai. Dry ice berfokus pada upaya mengurangi dampak kabut asap, bukan memadamkan sumber api secara langsung.
Sebaliknya, garam (NaCl) digunakan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan yang dapat membantu pembasahan lahan. Oleh karena itu, kedua metode memiliki peran berbeda dalam mendukung penanganan karhutla, sesuai dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan di wilayah sasaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Reza Rahadian mengungkap tiga adegan favorit di film Laut Bercerita, mulai dari penjara hingga tantangan syuting di kedalaman laut.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 24 Oktober 2026 dari Palur tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkap di setiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 24 Oktober 2026 tersedia dalam 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif tiket Rp8.000.
Pemda DIY berencana membuka Konsulat Kehormatan Meksiko di Royal Ambarrukmo untuk memperkuat kerja sama pendidikan, seni, dan budaya.
Dua tahun Prabowo-Gibran, pariwisata Indonesia makin merata. Kunjungan wisatawan tumbuh di Danau Toba, Manado-Likupang, dan desa wisata.
Dinhub Banyumas menertibkan parkir berbayar di minimarket berjaringan setelah menerima aduan warga. Kebijakan parkir gratis berlaku sejak 1 Oktober 2026.