Keracunan MBG Meluas, 170 Pelajar Jombang-Nganjuk Terdampak

Julianus Palermo
Julianus Palermo Kamis, 03 September 2026 20:27 WIB
Keracunan MBG Meluas, 170 Pelajar Jombang-Nganjuk Terdampak

Suasana di ruang Instalasi Poliklinik Spesialis, RSUD R.T Notopuro Sidoarjo salah rumah sakit tempat dirawatnya ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Tanggulangin yang diduga mengalami keracunan usai menyantap porsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026). /Bisnis-Julianus Palermo\r\n\r\n

Harianjogja.com, SURABAYA— Dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Jawa Timur. Setelah ratusan santri dan siswa di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, terdampak, sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk juga diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Di Jombang, sebanyak 70 siswa SMPN 1 Kabuh diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG pada Rabu (2/9/2026). Sementara itu, di Nganjuk, jumlah pelajar yang diduga mengalami gejala serupa mencapai 100 orang.

Kasus di dua daerah tersebut masih dalam penanganan dan investigasi. Penyebab pasti kejadian belum diketahui karena Badan Gizi Nasional (BGN) dan dinas kesehatan setempat masih melakukan penelusuran.

70 Siswa SMPN 1 Kabuh Terdampak

Di Kabupaten Jombang, dugaan keracunan terjadi setelah siswa SMPN 1 Kabuh menerima menu MBG dari SPPG Jombang Kabuh Mangunan.

Menu yang dikonsumsi para siswa pada Rabu (2/9/2026) terdiri atas nasi putih, udang saus Padang, tahu susu, tumis wortel, sawi putih-brokoli, dan buah pepaya.

Dokter Puskesmas Kabuh dr. Aditya Bimantara menjelaskan sekitar 70 siswa dibawa ke fasilitas kesehatan setelah mengalami sejumlah keluhan. Gejala yang dominan berupa perut melilit hingga diare.

“Tadi totalnya sekitar 70-an siswa yang ke sini. Keluhannya dominan perut melilit, diare rata-rata tiga kali, tidak ada sampai lebih dari lima kali, diarenya cair,” ucap Aditya di Puskesmas Kabuh.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 63 siswa yang diduga mengalami keracunan MBG telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka memungkinkan.

Meski sebagian siswa masih mengalami mual dan perut melilit, mereka dinilai masih mampu menerima makanan dan minuman sehingga tidak membutuhkan perawatan lebih lanjut di puskesmas.

Sementara itu, tujuh siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Kabuh. Mereka terdiri atas enam siswi dan satu siswa laki-laki.

“Sekitar ada tujuh, terdiri dari enam siswi dan satu siswa laki-laki, kami infus, dirawat di Puskesmas karena tidak bisa menahan nyeri perut, melilit terus, dan masih diare tadi pagi,” ungkap Aditya.

Ketujuh siswa tersebut dalam kondisi stabil. Aditya mengatakan mereka masih menjalani masa observasi dan kemungkinan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit apabila kondisi terus membaik.

“Ketujuh siswa yang ngamar di sini, opname. Insya Allah tidak sampai dirujuk. Kita masa observasi, kondisi yang stabil baik tensi maupun nadinya, tidak sampai kejang, sadar semua,” jelasnya.

Siswa Mendapat Penanganan Medis

Aditya meminta orang tua atau wali siswa yang masih menjalani perawatan tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi anak mereka.

Menurut dia, petugas medis telah memberikan penanganan terhadap keluhan yang dialami para siswa, termasuk pemberian obat dan cairan infus.

“Sudah kami infus, beri antinyeri, antimual, sama antimuntah, serta antibiotik untuk diarenya. Para orang tua juga sudah saya sampaikan kondisi anaknya stabil tidak perlu khawatir,” ucapnya.

Kondisi ketujuh siswa yang masih dirawat menjadi bagian dari pemantauan tenaga kesehatan untuk memastikan perkembangan kondisi mereka setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG.

100 Pelajar Nganjuk Diduga Keracunan

Kasus serupa terjadi di Kabupaten Nganjuk. Sebanyak 100 pelajar SMAN 3 Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang disediakan SPPG Nganjuk Begadung 2.

Menu yang disajikan terdiri atas nasi goreng, tahu bulat, ayam suwir, telur dadar, acar berisi timun, dan semangka. Makanan tersebut dikonsumsi para pelajar pada Rabu (2/9/2026).

Sejumlah siswa kemudian dilarikan ke RSUD Nganjuk, RS Bhayangkara Nganjuk, dan RS Islam Aisyiyah setelah mengalami pusing, mual, dan muntah.

Para siswa mengonsumsi makanan tersebut sekitar pukul 10.00 WIB. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB, gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan mulai dirasakan.

Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan dirinya masih perlu memastikan lebih lanjut mengenai insiden tersebut.

“[Insiden keracunan usai menyantap MBG di] Nganjuk saya harus pastikan lebih lanjut,” ucap Emil seusai menghadiri rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Kamis (3/9/2026).

Jumlah Korban Nganjuk Bertambah

Emil menjelaskan pada awalnya siswa SMAN 3 Nganjuk menjadi kelompok yang teridentifikasi terdampak setelah mengonsumsi MBG yang diproduksi SPPG Nganjuk Begadung 2.

Namun, dalam perkembangannya, penerima manfaat dari jenjang sekolah dasar juga dilaporkan mengalami gejala serupa.

“Kita fokus juga tadi sudah 74 [pasien], bertambah lagi jadi 100, dan bukan hanya di SMA 3 ya, tapi dari SD juga ada,” ucapnya.

Dengan tambahan tersebut, total pelajar yang diduga terdampak di Jombang dan Nganjuk mencapai 170 orang.

Emil yang juga menjabat Kepala Satgas MBG Jatim menyebut penyebab pasti kejadian di Nganjuk belum diketahui. Investigasi akan dilakukan oleh pihak yang memiliki kewenangan untuk menelusuri kejadian tersebut.

“Apa kira-kira penyebab spesifiknya masih ditelusuri oleh BGN begitu. Karena yang punya akses BGN dan Dinkes setempat tentu posisinya juga mendampingi,” ujarnya.

Sekolah Diminta Evaluasi Distribusi MBG

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jatim Aries Agung Paewai mengatakan pihak sekolah telah diminta berkoordinasi dengan pihak terkait setelah munculnya dugaan keracunan tersebut.

Koordinasi tersebut termasuk dengan SPPG sebagai pihak yang menyediakan makanan dalam program MBG. Evaluasi diperlukan untuk memastikan distribusi makanan dapat berjalan sesuai ketentuan.

“Sementara kami minta sekolah koordinasi dengan SPPG agar sementara waktu untuk dievaluasi, mungkin sementara dari pihak BGN melakukan evaluasi terhadap SPPG tersebut,” ucap Aries.

Kasus dugaan keracunan MBG di Jombang dan Nganjuk menambah daftar kejadian serupa yang dilaporkan terjadi di Jawa Timur. Sebelumnya, ratusan santri dan siswa di Tanggulangin, Sidoarjo, juga mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan dalam program MBG.

Hingga kini, penyebab spesifik dugaan keracunan di Jombang dan Nganjuk masih menunggu hasil investigasi BGN bersama dinas kesehatan setempat. Penelusuran tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah gejala yang dialami para pelajar berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi atau faktor lainnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online