Jadwal Terbaru SIM Keliling Bantul September 2026, Cek Lokasinya
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.
Bupati Sidoarjo Subandi memastikan santri yang diduga keracunan MBG telah ditangani. Pemkab akan mengecek SPPG penyedia makanan. /Istimewa.
Harianjogja.com, SIDOARJO— Bupati Sidoarjo Subandi memastikan ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), telah mendapatkan penanganan medis pada Selasa (1/9/2026) malam.
Para santri sebelumnya dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual, muntah hingga diare. Penanganan dilakukan di tiga rumah sakit rujukan serta sejumlah puskesmas terdekat.
Subandi mengatakan seluruh santri yang membutuhkan perawatan telah diarahkan ke fasilitas kesehatan sesuai kondisi masing-masing. Tiga rumah sakit yang menjadi lokasi penanganan yakni RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya.
"Tadi kami sudah tangani semuanya. Habis Magrib sudah kami arahkan ke tiga rumah sakit, RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Siti Hajar, dan Delta Surya, dan lainnya ke puskesmas terdekat. Alhamdulillah sudah tertangani dengan baik," ujar Subandi.
Subandi Bantah Ada Korban Meninggal
Di tengah penanganan para santri, beredar informasi mengenai adanya korban meninggal dunia dalam insiden dugaan keracunan tersebut.
Subandi memastikan informasi tersebut tidak benar. Menurut dia, keluhan yang dialami para santri sejauh ini berupa gangguan kesehatan seperti diare dan kondisi pasien disebut mulai membaik.
"Ada berita yang mengatakan ada yang meninggal, itu tidak benar. Sementara hanya diare, dan hari ini juga sudah turun semua," tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para santri yang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Pemkab Sidoarjo Bakal Cek SPPG
Selain memastikan penanganan medis, Pemkab Sidoarjo akan melakukan evaluasi terhadap penyedia makanan program MBG yang diduga dikonsumsi para santri sebelum munculnya keluhan.
Subandi mengatakan pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan dilakukan bersama organisasi perangkat daerah terkait. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui penyebab munculnya dugaan keracunan sekaligus mengecek kelayakan penyedia makanan.
"Tentunya kita akan treatment kepada MBG ya. MBG besok kita akan cek di lokasi di Tanggulangin ya, SPPG yang ada di sana kita cek ya. Kenapa sampai terjadi seperti ini? Persoalannya apa?" tutur Subandi.
Menurutnya, pemeriksaan juga akan mencakup aspek perizinan dan pelaksanaan program MBG di lokasi tersebut. Jika ditemukan persoalan terkait kelayakan maupun izin, pemerintah daerah akan mengambil langkah sesuai hasil pemeriksaan.
Subandi menegaskan pemerintah daerah memiliki peran dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program di wilayahnya. Karena itu, evaluasi diperlukan agar standar penyediaan makanan bagi penerima manfaat tetap terpenuhi.
"Kita sebagai pimpinan daerah, ini kan tahu kita kan hanya titik saja, dan tugas kita sebagai pimpinan daerah itu kan hanya pengawasan-pengawasan seperti apa. Kita kan tidak bisa intervensi, kan gitu ya. Makanya besok kita lihat, kalau nanti izin tidak ada, sementara tak suruh berhenti dulu," pungkasnya.
Evaluasi terhadap SPPG tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penyebab munculnya keluhan kesehatan pada para santri sekaligus memastikan pelaksanaan program MBG di Sidoarjo memenuhi standar keamanan pangan.
Sebelumnya Ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambai'ul Hikam, Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, dilaporkan mengalami gejala sakit setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026). Para santri yang mengalami keluhan kemudian dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan dan rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa tersebut terjadi setelah para santri menerima dan mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan di lingkungan pesantren. Beberapa jam kemudian, sejumlah santri mulai mengeluhkan kondisi tidak nyaman, antara lain pusing, mual, dan muntah.
Jumlah santri yang mengalami keluhan disebut terus bertambah hingga mencapai ratusan orang. Kondisi tersebut kemudian memicu kepanikan di lingkungan pesantren dan membuat proses evakuasi dilakukan secara bertahap.
Sejumlah ambulans dikerahkan untuk membawa santri ke fasilitas kesehatan terdekat di wilayah Sidoarjo. Petugas medis, pengurus pesantren, serta warga turut membantu proses evakuasi.
Suasana evakuasi tersebut juga beredar melalui media sosial. Dalam sejumlah rekaman video yang beredar, terlihat ambulans keluar-masuk area pesantren. Kendaraan tersebut digunakan untuk membawa santri yang mengalami keluhan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Informasi mengenai kejadian tersebut juga mendapat perhatian dari orang tua santri. Sejumlah wali santri menyampaikan kesaksian melalui kolom komentar unggahan media sosial mengenai insiden tersebut.
Salah satu wali santri melalui medsos menyebut anaknya tidak mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan pada hari itu. Namun, keterangan tersebut merupakan kesaksian pribadi dan belum dapat digunakan untuk memastikan kondisi maupun penyebab kejadian secara keseluruhan.
"Anak saya bilang itu masakan MBG. Tapi tidak jadi dimakan karena melihat sayurnya seperti sudah basi," tulis salah satu akun wali santri di media sosial.
Santri Mulai Mengeluhkan Gejala Setelah Santap MBG
Berdasarkan informasi sementara, para santri menerima makanan MBG pada siang hari. Setelah makanan dikonsumsi, beberapa santri mulai merasakan sejumlah keluhan kesehatan beberapa jam kemudian.
Gejala yang dilaporkan antara lain pusing, mual, dan muntah. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri yang mengeluhkan kondisi serupa dilaporkan meningkat.
Pada malam hari, proses evakuasi dilakukan secara lebih masif. Puluhan ambulans disebut datang ke lingkungan pesantren untuk membawa santri ke sejumlah fasilitas kesehatan dan rumah sakit.
Penanganan medis dilakukan untuk memastikan kondisi para santri sekaligus mengetahui kemungkinan penyebab munculnya gejala yang dialami.
Makanan yang dikonsumsi para santri tersebut dikabarkan berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah. Namun, belum dapat dipastikan apakah makanan MBG tersebut menjadi penyebab munculnya keluhan kesehatan para santri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.
PBSI menetapkan 20 pemain bulu tangkis untuk Asian Games 2026 di Jepang. Indonesia membidik gelar juara beregu putra dan mengoreksi data pemain nomor perorangan
Jean-Paul Van Gastel belum menetapkan starter tetap PSIM Jogja jelang Super League 2026/2027. Persaingan makin ketat dengan 11 pemain asing di skuad.
BMKG memprakirakan cuaca DIY pada Rabu 2 September 2026 didominasi cerah hingga udara kabur. Suhu di Kota Jogja mencapai 32 derajat Celsius.
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam program MBG adalah perlakuan PPh atas bantuan pemerintah yang diterima yayasan
Warga tidak mampu di Sleman gagal menerima bansos karena sejumlah syarat, termasuk kepemilikan lebih dari satu sertifikat tanah.