BNPB Ungkap Kondisi Terkini Gempa NTT per 30 Agustus 2026

Newswire
Newswire Minggu, 30 Agustus 2026 20:07 WIB
BNPB Ungkap Kondisi Terkini Gempa NTT per 30 Agustus 2026

Seorang personel SAR sedang berada di lokasi pencarian hari kedua di Manggarai, Minggu (16/8/2026). ANTARA/Ho-Kantor SAR Maumere.\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Jumlah pengungsi gempa NTT mulai berkurang, tetapi masih mencapai 188.161 orang hingga Minggu (30/8/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah tersebut turun 4.142 orang dibandingkan data sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data tersebut merupakan kondisi per 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Nagekeo menjadi dua wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbesar.

"Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 50.556 orang dan Kabupaten Nagekeo 50.574 orang," katanya dalam konferensi pers di Jakarta.

Selain dua wilayah tersebut, jumlah pengungsi dalam skala besar juga masih tercatat di Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende.

Korban Gempa NTT Capai 111 Orang

Di tengah berkurangnya jumlah pengungsi, BNPB masih mencatat dampak besar akibat rangkaian gempa yang melanda NTT sejak gempa pertama pada 15 Agustus 2026.

Hingga Minggu (30/8/2026), jumlah korban meninggal dunia mencapai 111 orang. Sementara itu, total korban luka tercatat sebanyak 1.631 orang.

Dari jumlah korban luka tersebut, sebanyak 223 orang mengalami luka berat dan 1.408 orang lainnya mengalami luka ringan.

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan tempat tinggal warga. BNPB mencatat sebanyak 95.567 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa di NTT.

Kerusakan tersebut terdiri atas 46.161 rumah rusak ringan, 21.992 rumah rusak sedang, dan 27.414 rumah rusak berat.

27.414 Keluarga Butuh Hunian Sementara

Kerusakan rumah dalam jumlah besar membuat kebutuhan hunian menjadi salah satu persoalan yang masih harus ditangani setelah gempa NTT.

Berton mengatakan sebanyak 27.414 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat membutuhkan hunian sementara atau relokasi.

"Ada kebutuhan mendesak penyediaan hunian sementara atau relokasi bagi 27.414 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat," paparnya.

Kebutuhan tersebut berkaitan langsung dengan jumlah rumah yang masuk kategori rusak berat. BNPB mencatat angka kerusakan berat mencapai 27.414 unit dari total 95.567 rumah terdampak.

Gempa Susulan Mulai Menurun

Selain perkembangan pengungsi dan kerusakan bangunan, BNPB juga menyampaikan perkembangan aktivitas gempa susulan di NTT.

Hingga 30 Agustus 2026, tercatat sebanyak 9.765 gempa susulan. Magnitudo gempa susulan terbesar mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil tercatat bermagnitudo 1,0.

Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 155 gempa dirasakan oleh masyarakat.

"Sebanyak 155 gempa susulan dirasakan masyarakat. Rangkaian gempa susulan disebut mulai menunjukkan pola penurunan, meski diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu sejak gempa utama," ucap Berton SP Panjaitan.

Data BNPB tersebut menunjukkan aktivitas gempa susulan mulai mengalami penurunan. Namun, rangkaian gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu sejak gempa utama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online