Pidato Kevin Warsh: AI Mengubah Ekonomi AS, Inflasi Masih Mengganjal

Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa Minggu, 30 Agustus 2026 19:17 WIB
Pidato Kevin Warsh: AI Mengubah Ekonomi AS, Inflasi Masih Mengganjal

Kevin Warsh menyoroti dampak AI terhadap ekonomi AS, sementara inflasi masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Harianjogja.com, JAKARTA— Kepala Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menilai ekonomi Amerika Serikat (AS) tengah memasuki titik perubahan besar seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, meski dampaknya terhadap tenaga kerja serta inflasi masih menjadi perhatian.

Pandangan itu disampaikan Warsh dalam pidato utamanya di Jackson Hole. Ia menilai lanskap ekonomi AS saat ini telah berubah drastis dibandingkan periode pascakrisis finansial 2008 ketika ekonom banyak membicarakan secular stagnation dan melimpahnya tabungan global akibat terbatasnya peluang investasi.

"Zaman benar-benar telah berubah. Kita telah sampai pada titik balik penting dalam sejarah,” ujar Warsh dalam pidatonya yang dikutip, Minggu (30/8/2026).

Menurut Warsh, perkembangan AI bahkan berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan para pengembangnya. Arus modal juga mengalir deras ke berbagai infrastruktur yang menopang teknologi tersebut, mulai dari chip, energi, pusat data hingga layanan komputasi awan.

AI Jadi Faktor Produksi Baru

Warsh melihat AI berpotensi menjadi faktor produksi baru yang dapat mengubah produktivitas, pasar tenaga kerja, struktur industri hingga arah kebijakan moneter The Fed.

Namun, perkembangan tersebut belum memberikan semua jawaban. Salah satu pertanyaan yang masih dicermati adalah apakah penerapan AI nantinya akan menjadi pelengkap tenaga kerja atau justru menggantikan tenaga kerja.

The Fed juga masih melihat siapa yang pada akhirnya akan menikmati keuntungan ekonomi dari ledakan investasi AI.

Di tengah perkembangan teknologi tersebut, Warsh menilai kinerja ekonomi AS secara keseluruhan justru menunjukkan ketahanan. Belanja modal perusahaan meningkat pesat, dengan pertumbuhan investasi peralatan dan aset tidak berwujud mencapai sekitar 9% dalam empat kuartal terakhir.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2021. Lebih dari separuh pertumbuhan belanja modal tahun ini diperkirakan berkaitan dengan pembangunan infrastruktur AI.

Kinerja korporasi juga dinilai solid. Laba perusahaan dalam indeks S&P 500 telah tumbuh lebih dari 20% dalam setahun terakhir, sedangkan margin keuntungan berada pada level tinggi secara historis.

Dari sisi konsumsi, rumah tangga AS masih menunjukkan kondisi yang sehat dengan pertumbuhan lebih dari 2% dalam empat kuartal terakhir. Sementara itu, private domestic final purchases meningkat hampir 3% sepanjang tahun berjalan.

Pasar Tenaga Kerja Mendekati Full Employment

Ketahanan ekonomi AS juga tercermin dari kondisi pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran berada di 4,1%, sedangkan klaim pengangguran rata-rata empat minggu mendekati level terendah dalam beberapa dekade.

Warsh menilai kondisi tersebut konsisten dengan situasi full employment atau penyerapan tenaga kerja yang mendekati kondisi penuh.

"Secara keseluruhan, saya menilai kondisi pasar tenaga kerja saat ini menunjukkan bahwa tingkat penyerapan tenaga kerja sudah mendekati kondisi penuh,” ujarnya.

Meski demikian, kuatnya pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja belum menghilangkan persoalan utama The Fed, yakni inflasi.

Inflasi AS Masih Jauh dari Target The Fed

Warsh menilai perkembangan inflasi masih mengkhawatirkan. Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi ukuran pilihan The Fed, tercatat 3,7% dalam 12 bulan terakhir dan 4,1% berdasarkan perubahan enam bulan.

Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Menurut Warsh, membaiknya data inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum cukup untuk menunjukkan bahwa tren inflasi yang mendasari telah mengalami perbaikan signifikan.

Sebanyak 54% komponen barang dan jasa dalam indeks PCE masih mencatat kenaikan harga di atas 3% dalam 12 bulan terakhir. Angka itu memang turun dari sekitar 77% pada periode pascapandemi, tetapi masih jauh di atas rata-rata 32% dalam dua dekade sebelum pandemi.

Karena itu, Warsh menegaskan stabilitas harga tetap harus menjadi fokus utama The Fed.

“Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami, dengan jelas dan dalam kecepatan yang memadai. Jika tidak, masih ada pekerjaan yang harus kami lakukan,” tegasnya.

Kevin Warsh Soroti Forward Guidance The Fed

Selain membahas AI dan inflasi, Warsh juga menyampaikan pandangan mengenai komunikasi kebijakan moneter The Fed, khususnya praktik forward guidance mengenai arah suku bunga.

Ia menilai forward guidance yang terlalu agresif justru dapat membatasi ruang bank sentral dalam merespons perubahan kondisi ekonomi. Warsh mengakui pendekatan tersebut pernah sangat penting ketika diperkenalkan pada masa krisis finansial global.

Namun, menurutnya, praktik tersebut kini telah terlalu lama dipertahankan dan seharusnya dibatasi ketika kondisi ekonomi berada dalam keadaan normal.

Komitmen atau sinyal yang terlalu berlebihan mengenai arah suku bunga dinilai berisiko membuat pasar, dunia usaha, dan rumah tangga mengambil keputusan berdasarkan ekspektasi yang keliru.

Di sisi lain, komitmen tersebut juga dapat mengurangi fleksibilitas The Fed dalam mengambil keputusan ketika kondisi ekonomi berubah.

Warsh menilai The Fed perlu lebih mengandalkan data dan sinyal pasar yang aktual. Sementara itu, pelaku pasar harus membentuk ekspektasinya sendiri berdasarkan informasi ekonomi yang tersedia.

Ia juga memperingatkan risiko yang disebutnya sebagai “hall of mirrors problem”. Kondisi itu terjadi ketika pasar terlalu bergantung pada panduan The Fed, sementara The Fed pada saat yang sama terlalu mengandalkan harga pasar.

Menurut Warsh, situasi tersebut justru dapat membuat kedua pihak kehilangan sinyal perubahan ekonomi yang sebenarnya.

Dampaknya Bisa Dirasakan Pekerja

Warsh menilai kesalahan membaca kondisi ekonomi dan inflasi tidak hanya berdampak kepada investor atau pasar finansial.

Dampaknya bahkan dinilai lebih berat bagi masyarakat yang tidak memiliki banyak aset finansial. Jika The Fed salah membaca inflasi atau kondisi ekonomi, kelompok yang paling terpukul adalah pekerja yang harus menghadapi inflasi tinggi atau meningkatnya ketidakpastian pekerjaan.

Karena ekonomi terus berubah akibat geopolitik, rantai pasok global dan teknologi, Warsh berpandangan The Fed perlu lebih rendah hati terhadap kemampuan memprediksi kondisi ekonomi.

Pada akhir pidatonya, Warsh menegaskan dirinya belum berkomitmen terhadap keputusan kebijakan tertentu. Ia mengatakan komitmennya berada pada prinsip dan disiplin dalam mengambil keputusan.

"Saya berdiri di sini hari ini dengan berpegang pada prinsip dan disiplin dalam mengambil keputusan, bukan pada keputusan tertentu,” tegasnya.

Dengan demikian, pidato Warsh di Jackson Hole menempatkan dua perkembangan besar dalam satu lanskap ekonomi AS. Di satu sisi, investasi AI memberikan dorongan terhadap belanja modal, produktivitas dan pertumbuhan. Di sisi lain, inflasi PCE yang masih jauh di atas target membuat stabilitas harga tetap menjadi perhatian utama The Fed.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online