Iran Tuding AS Manipulasi Pasar Energi Global, Ini Alasannya

Newswire
Newswire Minggu, 30 Agustus 2026 12:37 WIB
Iran Tuding AS Manipulasi Pasar Energi Global, Ini Alasannya

Ilustrasi - Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (ANTARA/Xinhua/aa.)\r\n

Harianjogja.com, ISTANBUL—Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding sejumlah elemen di dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) bersama aktor-aktor yang bersekutu dengan Israel berupaya memanipulasi pasar energi global. Menurut dia, langkah tersebut juga bertujuan memperpanjang konflik militer dengan Teheran.

"Data intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memanipulasi pasar energi," kata Araghchi melalui platform media sosial X, Sabtu.

Araghchi mengklaim elemen-elemen di lingkungan pemerintahan AS memanfaatkan "media yang mudah percaya" untuk memengaruhi harga energi demi keuntungan pribadi. Ia menilai langkah itu sekaligus berupaya menjebak Presiden AS Donald Trump dalam "perang yang merugikan.”

"Aktor-aktor yang berafiliasi dengan Israel juga terus mendorong perang melalui penilaian-penilaian yang semu," ujar Araghchi, seraya menambahkan bahwa konsumen di AS kini mulai merasakan dampak ekonomi dari langkah tersebut.

Namun, Menlu Iran itu tidak memberikan bukti konkret maupun rincian lebih lanjut untuk mendukung tuduhannya.

Konflik Berpusat di Selat Hormuz

Pernyataan Araghchi disampaikan ketika perang antara AS-Israel melawan Iran masih berkecamuk. Konflik yang pecah sejak 28 Februari tersebut telah memberikan dampak signifikan terhadap keamanan energi dan maritim di kawasan.

Salah satu titik penting dalam konflik tersebut adalah Selat Hormuz. Jalur perairan strategis itu biasanya dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Saat ini, Iran membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, AS menerapkan blokade laut serta memperketat sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Iran dan AS sebelumnya telah mencapai nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu untuk menghentikan permusuhan. Kesepakatan tersebut mencakup ketentuan terkait Selat Hormuz, pemulihan blokade laut AS, dan penghapusan sanksi.

Teheran menegaskan normalisasi penuh navigasi di Selat Hormuz sangat bergantung pada komitmen Washington dalam menjalankan poin-poin kesepakatan tersebut.

Iran Sebut Sanksi AS sebagai Terorisme Ekonomi

Selain menuding adanya manipulasi pasar energi, Pemerintah Iran pada Jumat menyatakan kampanye Operation Economic Outcast atau perang ekonomi Amerika Serikat terhadap Teheran melanggar hukum internasional.

Iran menggambarkan upaya sanksi terbaru tersebut sebagai "terorisme ekonomi". Kementerian Luar Negeri Iran juga menuduh Washington menggunakan dolar AS sebagai alat untuk menekan negara-negara lain agar sejalan dengan kebijakannya terhadap Teheran.

Menurut Kemlu Iran, tindakan tersebut melanggar kedaulatan nasional dan hukum internasional.

"Operasi itu adalah cara AS meneror Iran dan dunia", demikian pernyataan Kemlu Iran.

Kementerian tersebut menyatakan operasi itu mencerminkan niat untuk menyebabkan penderitaan kepada rakyat Iran dan merampas hak asasi manusia.

"Hal itu adalah "kejahatan internasional" dan "kejahatan terhadap kemanusiaan", sebut pernyataan itu.

Iran juga menyatakan sanksi ekonomi AS terhadap Iran melanggar Piagam PBB, hukum humaniter internasional, dan hak asasi manusia. Teheran mendesak negara-negara lain untuk tidak menerapkan sanksi tersebut.

Teheran menegaskan partisipasi dalam sanksi sepihak AS berarti bersekongkol dalam memaksakan kehendak Washington kepada negara-negara merdeka. Menurut Iran, langkah tersebut juga mengganggu hubungan ekonomi dan perdagangan yang sah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online