Gelombang Panas, Pegawai Negeri Jepang Kini Boleh Pakai Celana Pendek

Jumali
Jumali Jum'at, 17 Juli 2026 15:07 WIB
Gelombang Panas, Pegawai Negeri Jepang Kini Boleh Pakai Celana Pendek

Ilustrasi cuaca panas./ Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang memicu perubahan budaya yang tidak biasa di tempat kerja.

Para pegawai negeri di Tokyo, yang selama ini dikenal sangat patuh pada aturan formal mengenakan setelan jas lengkap, mulai mempertanyakan kelayakan celana pendek sebagai pakaian kerja demi kenyamanan fisik.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap suhu yang melonjak hingga 34 derajat Celcius dan upaya mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan (AC) akibat krisis energi global.

Noboru Watanabe, seorang pejabat di Pemerintah Metropolitan Tokyo, menjadi salah satu yang berani mengambil langkah kontroversial. Ia memutuskan datang bekerja dengan mengenakan celana pendek, sebuah pilihan yang terbilang langka di negara di mana pakaian bisnis formal berlengan panjang masih menjadi norma mutlak.

"Awalnya saya merasa sangat malu untuk memperlihatkan kaki saya di kantor. Namun, begitu Anda memakainya, Anda baru menyadari betapa jauh lebih nyaman celana ini," ujar Watanabe kepada AFP.

Meski demikian, ia tetap mengenakan kemeja formal di bagian atas, meskipun ia mengakui kombinasi itu tetap terasa panas.

Kebijakan ini diumumkan secara resmi pada musim semi lalu oleh Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, sebagai respons terhadap prospek pasokan listrik yang kian menantang akibat perang di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi global.

Inisiatif ini merupakan versi terbaru dari kampanye "Cool Biz", sebuah gerakan penghematan energi nasional yang pertama kali diprakarsai oleh Koike sendiri pada 2005, saat ia menjabat sebagai menteri lingkungan hidup.

Saat itu, kampanye mendorong para birokrat untuk menanggalkan dasi dan jaket jas selama musim panas. Kini, kampanye tersebut ditingkatkan: "Kami mendorong pakaian 'keren' yang memprioritaskan kenyamanan, termasuk kemeja polo, kaus polos, sepatu kets, dan—tergantung pada tanggung jawab pekerjaan masing-masing—celana pendek," tegas Koike.

Kebijakan baru ini mendapat respons positif dari beberapa pekerja. Takayuki Deguchi (30), seorang karyawan di perusahaan pemasaran swasta, mengatakan, "Menurut saya, kemampuan menggunakan celana pendek untuk mengatur suhu tubuh saat cuaca sangat panas adalah pendekatan yang sangat fleksibel dan logis."

Namun, di sisi lain, tidak semua pihak setuju. Sachie Koike (52), seorang agen properti, menyatakan bahwa ia tidak masalah jika para pria melepas dasi atau jaket, tetapi celana pendek dianggap sudah melampaui batas kesopanan.

"Saya mengaitkan celana pendek dengan hari libur dan akhir pekan. Lagipula, saya hanya berpikir bahwa kaki pria yang berbulu lebat terlihat kurang rapi dan kurang pantas di tempat kerja," paparnya .

Perdebatan tentang celana pendek sebagai pakaian kerja pun memanas di media sosial. Meskipun mendapat dukungan dari sebagian kalangan, kebijakan ini tetap menjadi topik kontroversial yang mencerminkan pergeseran budaya di tengah tantangan perubahan iklim dan efisiensi energi.

Bagi Watanabe, kepraktisan dan kenyamanan akhirnya mengalahkan rasa sungkan. "Awalnya saya sangat malu, tetapi begitu Anda memakainya, Anda baru menyadari betapa jauh lebih nyaman celana ini," pungkasnya .

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online