PSS Sleman Tertinggal dari Borneo FC, Dandy Sonriza Cetak Gol
PSS Sleman tertinggal 0-1 dari Borneo FC pada babak pertama pekan ketujuh Super League 2026/2027. Dandy Sonriza mencetak gol, Stefan Ashkovski dikartu merah.
Ilustrasi AC - StockCake
Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang panas ekstrem yang menyapu berbagai wilayah Eropa membawa dampak tak terduga bagi industri manufaktur Tiongkok. Di tengah suhu yang terus meningkat dan kebutuhan masyarakat terhadap pendingin ruangan yang melonjak, produk AC buatan Negeri Tirai Bambu justru menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diburu.
Kondisi ini memicu respons dari media pemerintah Tiongkok yang menyindir Uni Eropa. Selama beberapa tahun terakhir, Brussel kerap mengkritik industri Tiongkok karena dianggap memiliki kapasitas produksi berlebih atau overcapacity yang berpotensi mengganggu persaingan usaha di pasar global.
The Wall Street Journal melaporkan, sindiran tersebut muncul melalui akun Yuyuantantian yang berafiliasi dengan stasiun televisi pemerintah CCTV. Dalam unggahan yang ramai diperbincangkan, akun itu mempertanyakan apakah warga Eropa masih akan membahas isu overcapacity apabila Tiongkok menghentikan penjualan pendingin ruangan ke kawasan tersebut.
Pernyataan itu muncul ketika sejumlah negara Eropa tengah menghadapi suhu panas yang jauh di atas rata-rata. Cuaca ekstrem mendorong peningkatan kebutuhan perangkat pendingin, terutama di negara-negara yang selama ini tidak memiliki tingkat kepemilikan AC setinggi kawasan Asia atau Amerika Utara.
Data perdagangan internasional menunjukkan posisi Tiongkok memang sangat dominan di sektor tersebut. Berdasarkan catatan International Trade Center, sekitar 40% ekspor pendingin ruangan dunia berasal dari Tiongkok. Angka ini menjadikan negara tersebut sebagai salah satu pemasok terbesar untuk kebutuhan pasar global.
Lonjakan permintaan dari Eropa pun mulai terlihat dalam data ekspor terbaru. Pada Mei 2026, pengiriman mesin pendingin ruangan dari Tiongkok ke Prancis meningkat 57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor ke Spanyol tumbuh 41%.
Kenaikan tersebut bahkan terjadi sebelum gelombang panas terbesar menghantam Eropa pada Juni 2026. Saat suhu di sejumlah wilayah mendekati 38 derajat Celsius, kebutuhan terhadap perangkat pendingin meningkat lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Situasi ini membuka peluang besar bagi produsen elektronik rumah tangga asal Tiongkok seperti Midea, Haier, dan Gree untuk memperluas pangsa pasar mereka di kawasan Eropa.
Permintaan yang tinggi juga tidak lepas dari masih rendahnya tingkat kepemilikan AC di banyak negara Eropa. Berbagai laporan menyebutkan hanya sekitar seperlima rumah tangga di kawasan tersebut yang memiliki pendingin ruangan. Ketika suhu meningkat drastis akibat perubahan iklim dan gelombang panas berkepanjangan, kebutuhan terhadap perangkat pendingin menjadi semakin mendesak.
Media pemerintah Tiongkok News Service bahkan turut menyoroti kondisi tersebut dengan membandingkan rendahnya penggunaan AC di Eropa dengan fasilitas peternakan modern di Tiongkok yang telah menggunakan sistem pendingin ruangan untuk menjaga suhu kandang.
Di sisi lain, hubungan dagang antara Uni Eropa dan Tiongkok masih diwarnai ketegangan. Uni Eropa menilai sejumlah industri Tiongkok memperoleh keuntungan dari dukungan pemerintah sehingga dapat menjual produk dengan harga lebih kompetitif dibandingkan produsen lokal Eropa.
Namun, Beijing membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Tiongkok menegaskan keberhasilan produk mereka di pasar internasional berasal dari efisiensi industri dan daya saing perusahaan, bukan semata-mata karena subsidi negara.
Meski tensi perdagangan masih berlangsung, data menunjukkan hubungan ekonomi kedua pihak tetap kuat. Hingga Mei 2026, ekspor Tiongkok ke kawasan Uni Eropa tercatat meningkat sekitar 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kebutuhan pasar Eropa terhadap berbagai produk manufaktur Tiongkok masih tinggi, termasuk untuk perangkat pendingin ruangan yang kini menjadi barang penting di tengah cuaca panas ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSS Sleman tertinggal 0-1 dari Borneo FC pada babak pertama pekan ketujuh Super League 2026/2027. Dandy Sonriza mencetak gol, Stefan Ashkovski dikartu merah.
Danantara dan BP BUMN merestrukturisasi PTPN I untuk memperkuat keuangan, dengan EBITDA positif Rp1,9 triliun dan target restrukturisasi 2027.
Lebih dari 140.000 pelajar dan anak muda mendaftar aksi Gen Z di 23 kota Jerman pada 31 Oktober untuk memprotes sejumlah kebijakan pemerintah.
Karhutla membakar sekitar 100 hektare kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu di Sigi dan Poso. BBTNLL melibatkan Polri dan TNI.
Pengalihan arus lalu lintas diberlakukan saat demo di Jogja, Rabu 28 Oktober 2026. Simak titik rekayasa jalan dan jalur alternatifnya.
Kemnaker memverifikasi mitra Magang Nasional Batch 3 hingga 30 Oktober 2026. Simak jadwal lowongan, pendaftaran, seleksi, dan mulai magang.