BMKG Mulai OMC Oktober, Cegah Kekeringan di Pulau Jawa

Newswire
Newswire Selasa, 30 Juni 2026 11:57 WIB
BMKG Mulai OMC Oktober, Cegah Kekeringan di Pulau Jawa

Ilustrasi kekeringan - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA—BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Pulau Jawa pada awal Oktober 2026 sebagai langkah memperkuat pasokan air di tengah ancaman kekeringan akibat musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panas dan kering. Upaya ini diprioritaskan untuk menjaga ketersediaan air di waduk-waduk utama yang menopang kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengungkapkan kondisi sejumlah waduk strategis di Pulau Jawa masih tergolong aman. Meski demikian, BMKG memperkirakan cadangan air mulai mengalami defisit pada September hingga Oktober sehingga operasi modifikasi cuaca dijadwalkan berlangsung pada awal Oktober.

Menurut Seto, waduk-waduk utama di kawasan Citarum, yakni Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, serta waduk di wilayah Brantas, Jawa Timur, hingga kini masih berada dalam kondisi aman. Namun, penurunan curah hujan diperkirakan akan berdampak terhadap pasokan air pada puncak musim kemarau.

"Saat ini waduk-waduk utama di Jawa, seperti di Citarum ada Waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, dan di Brantas di Jawa Timur posisinya masih aman. Tapi nanti di September-Oktober kemungkinan defisit, sehingga awal Oktober akan kita lakukan operasi modifikasi di Jawa," ujar Seto seusai Apel Operasi Distribusi Air Bersih Dampak Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino 2026 di Gudang Logistik Palang Merah Indonesia (PMI), Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, dokumen pelaksanaan operasi modifikasi cuaca telah disiapkan melalui koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah tersebut dilakukan seiring penetapan status tanggap darurat kekeringan di sejumlah wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Berdasarkan analisis iklim BMKG, wilayah Indonesia bagian barat dan selatan saat ini masih menerima hujan. Namun, mulai Juli hingga pertengahan Oktober, intensitas curah hujan diproyeksikan menurun drastis akibat pengaruh fenomena El Nino yang memperkuat musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi dasar BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah mitigasi kekeringan.

BMKG juga memprakirakan puncak kekeringan ekstrem akan terjadi pada Agustus dan September. Oleh karena itu, kesiapsiagaan berbagai pihak, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI) dalam mendistribusikan air bersih, dinilai sangat penting untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

Selain difokuskan di Pulau Jawa, operasi modifikasi cuaca BMKG juga dijalankan secara paralel di Danau Toba, Sumatra Utara, serta wilayah Poso, Sulawesi Tengah. Intervensi tersebut dioptimalkan untuk menjaga volume air di waduk dan danau, sekaligus menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi memicu bencana kabut asap.

Seto menambahkan, operasi modifikasi cuaca diharapkan mampu mendukung ketahanan sektor pertanian, menjaga cadangan air di berbagai wilayah, serta mengurangi dampak kekeringan dan karhutla. Upaya tersebut juga ditujukan untuk membantu masyarakat, terutama di Sumatra dan Kalimantan, yang berpotensi terdampak kabut asap selama musim kemarau berlangsung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online