Masjid Tanim Diserbu Jamaah Haji RI! Ini Rahasianya
Masjid Tan’im jadi lokasi favorit jamaah haji Indonesia untuk miqat umrah sunah. Ini alasan dan waktu terbaik menurut PPIH.
Seminar UII soroti pentingnya kesiapan ilmu bagi calon hakim, bukan sekadar mengejar jabatan di lembaga peradilan. /Istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN— Kebutuhan hakim berkualitas di Indonesia masih terbuka lebar, namun kesiapan keilmuan dinilai menjadi faktor utama yang tidak bisa ditawar. Hal ini mencuat dalam seminar di Fakultas Ilmu Agama Islam UII yang menyoroti pentingnya sinergi antara akademisi dan praktisi hukum.
Dalam forum tersebut, Dekan FIAI UII Asmuni menegaskan bahwa karier hakim tidak cukup hanya berlandaskan jenjang jabatan, tetapi harus ditopang dengan fondasi keilmuan yang kuat. Ia menilai banyak calon hakim masih terjebak pada orientasi posisi tanpa menyiapkan kapasitas akademik yang memadai.
"Hakim idealnya harus memenuhi At-Taratub Al-Ilmi [hierarki keilmuan] sebelum dia menduduki apa yang disebut dengan At-Taratub Al-Maqami [hierarki jabatan]," ujarnya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, penguatan kompetensi menjadi kunci agar hakim mampu menjawab kompleksitas persoalan hukum yang terus berkembang. Karena itu, para praktisi didorong untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral guna memperkuat kemampuan analisis dan ijtihad.
Seminar tersebut juga menggarisbawahi perbedaan peran antara hakim dan akademisi yang justru saling melengkapi. Hakim memiliki kewenangan memutus perkara secara final, sementara akademisi berperan memberikan perspektif multidimensi dalam menafsirkan hukum.
"Akademisi berperan dalam memberikan perspektif yang multidimensi dan multiperspektif. Meski akademisi tidak memiliki kewenangan memutus perkara, kekuatan pemikiran mereka sangat dibutuhkan dalam membantu menafsirkan pasal-pasal hukum yang kompleks serta dalam proses penyusunan legal drafting," jelasnya.
Di sisi lain, kebutuhan hakim di lingkungan Pengadilan Agama masih tergolong tinggi. Kondisi ini membuka peluang besar bagi mahasiswa dan lulusan hukum untuk berkarier di lembaga peradilan.
Meski demikian, Asmuni mengingatkan agar calon hakim tidak hanya berorientasi pada jabatan, tetapi fokus mempersiapkan kompetensi sejak dini.
"Jangan hanya membayangkan jadi hakim besok, tetapi persiapkan dulu materi-materi yang akan mengantarkan kita untuk menjadi hakim tersebut," tegasnya.
Kegiatan ini turut menghadirkan hakim Yustisial Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung RI M. Khusnul Khuluq serta hakim Pratama Madya PA Soreang Kelas 1B Samsul Zakaria. Keduanya menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara kampus dan lembaga peradilan.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat pendidikan hukum sekaligus menghasilkan kader hakim yang adaptif, profesional, dan mampu menjawab tantangan hukum di tengah masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Masjid Tan’im jadi lokasi favorit jamaah haji Indonesia untuk miqat umrah sunah. Ini alasan dan waktu terbaik menurut PPIH.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026. Menkeu Purbaya menyebut konsumsi rumah tangga jadi penopang utama daya beli.
Jemaah haji asal Probolinggo meninggal dunia di Makkah setelah dirawat di ICU akibat gagal napas. Almarhum sempat menunaikan umrah wajib.
Pemerintah segera terbitkan aturan baru e-commerce yang mengatur transparansi biaya marketplace dan perlindungan UMKM serta seller.