Komdigi Sebut 200 Ribu Anak Indonesia Terpapar Judi Online
Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak di Indonesia terpapar judi online, termasuk 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun.
Presiden China Xi Jinping mengadakan upacara penyambutan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok, di luar Balai Agung Rakyat sebelum pembicaraan mereka di Beijing, ibu kota China, Kamis (14/5/2026). ANTARA/Xinhua/Li Xiang/aa.
Harianjogja.com, JAKARTA — Hubungan dua raksasa dunia kembali jadi sorotan. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepakat membangun hubungan baru yang lebih konstruktif, strategis, dan stabil dalam pertemuan penting yang digelar di Beijing.
Kesepakatan ini dinilai sebagai sinyal kuat meredanya ketegangan lama antara China dan AS, meski di baliknya tetap tersimpan isu sensitif yang berpotensi memicu konflik.
Era Baru China-AS Dimulai, Xi: Harus Jadi Mitra
Dalam pernyataannya, Xi menegaskan kedua negara sepakat membuka babak baru hubungan bilateral yang lebih positif.
“Bersama Presiden Trump, kami sepakat membentuk hubungan yang konstruktif, strategis, dan stabil antara China dan AS,” ujar Xi, dikutip dari Xinhua.
Ia juga menekankan bahwa China dan AS seharusnya menjadi mitra, bukan rival. Menurutnya, kerja sama akan membawa keuntungan bersama, sementara konfrontasi justru merugikan kedua pihak.
“Kita harus saling membantu untuk meraih keberhasilan dan kemakmuran bersama,” tegas Xi.
Perluas Kerja Sama: Dari Ekonomi hingga Militer
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin juga membahas perluasan kerja sama di berbagai sektor strategis, mulai dari Perdagangan, Kesehatan, Pertanian, Pariwisata dan Penegakan hukum.
Xi juga menyoroti pentingnya komunikasi militer kedua negara agar tetap terbuka dan efektif guna menghindari kesalahpahaman yang berisiko konflik.
Ia bahkan menyebut 2026 sebagai momentum penting untuk membuka “babak baru” hubungan China-AS.
Isu Taiwan Jadi Titik Panas, Xi Beri Peringatan Keras
Di balik nada optimistis, Xi tetap melontarkan peringatan tegas terkait isu Taiwan, yang disebutnya sebagai persoalan paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
“Jika ditangani dengan benar, hubungan akan stabil. Jika tidak, bisa terjadi benturan bahkan konflik,” kata Xi.
Ia menegaskan bahwa perdamaian di Selat Taiwan tidak bisa berjalan beriringan dengan kemerdekaan Taiwan. Bagi China, wilayah tersebut masih dianggap sebagai bagian dari kedaulatan mereka.
Sementara itu, AS tetap menjadi pemasok utama senjata bagi Taiwan, termasuk rencana paket bantuan militer bernilai miliaran dolar yang memicu protes keras dari Beijing.
Dampak Global: Dunia Ikut Menanti
Pertemuan Xi dan Trump tidak hanya berdampak pada dua negara, tetapi juga pada stabilitas global. Xi menegaskan hubungan China-AS yang stabil akan memberikan manfaat besar bagi dunia, terutama dalam menjaga keseimbangan geopolitik dan ekonomi internasional.
Di sisi lain, berbagai isu lain seperti konflik Timur Tengah, tarif perdagangan, dan keamanan regional juga turut dibahas dalam pertemuan tersebut.
Dengan dinamika yang kompleks, dunia kini menanti apakah kesepakatan ini benar-benar menjadi titik balik hubungan China-AS atau justru hanya jeda sebelum ketegangan baru muncul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak di Indonesia terpapar judi online, termasuk 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun.
Volkswagen menunda peluncuran Golf EV hingga akhir dekade sambil fokus mengembangkan lini mobil listrik seri ID.
Maverick Viñales kembali tampil di MotoGP Catalunya 2026 setelah absen tiga seri akibat operasi bahu.
Tips traveling aman saat gelombang panas agar terhindar dari dehidrasi, heatstroke, dan kelelahan selama liburan.
Oscar Piastri diingatkan agar tidak terburu-buru meninggalkan McLaren meski masuk radar Red Bull Racing.
Konsumsi alkohol berlebihan dapat mengganggu performa seksual, mulai dari sulit ereksi hingga menurunnya sensitivitas tubuh.