Advertisement
BRIN Kembangkan Antena 6G dan SATCOM Berteknologi Canggih
Ilustrasi wifi. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Pengembangan antena 6G di Indonesia mulai digarap serius oleh tim riset Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Riset ini difokuskan pada desain antena berukuran ringkas yang dapat diintegrasikan ke dalam perangkat telepon seluler generasi mendatang.
Peneliti PRT BRIN, Yohanes Galih Adhiyoga, menyampaikan bahwa fokus utama penelitian saat ini adalah pengembangan antena mikrostrip single layer dan multilayer untuk mendukung teknologi jaringan komunikasi generasi keenam (6G).
Advertisement
Antena tersebut dirancang berdimensi kecil agar kompatibel dengan perangkat seluler modern.
"Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat," katanya melalui keterangan di Jakarta, Jumat.
BACA JUGA
Ia menuturkan bahwa desain antena harus dihitung secara presisi. Dalam satu perangkat seluler terdapat beberapa antena sekaligus, seperti antena seluler, Wi-Fi, bluetooth, dan antena lainnya, sehingga konfigurasi dan tata letaknya tidak boleh saling mengganggu.
Seluruh tahapan riset dilakukan secara sistematis, mulai dari simulasi desain, proses optimasi, fabrikasi prototipe, hingga pengukuran performa di laboratorium.
"Kita juga telah lakukan beberapa pengukuran, seperti s-parameter, pola radiasi, dan karakteristik lainnya. Hal ini menjadi studi awal pengembangan teknologi 6G yang ke depan berpotensi digunakan pada frekuensi millimeter-wave di Indonesia," ujarnya.
Selain antena untuk perangkat seluler, tim PRT BRIN juga mengembangkan antena komunikasi satelit (SATCOM) guna memastikan konektivitas antara satelit di orbit geostasioner dan ground station di Bumi tetap stabil.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui pembuatan prototipe antena yang mampu mendukung sistem komunikasi satelit. Untuk itu, tim tengah merancang phased array system dengan mengadopsi konsep teknologi yang digunakan pada Starlink. Sistem ini memungkinkan pengendalian arah pancaran (beam steering) dilakukan secara elektronik tanpa komponen mekanis yang bergerak.
"Antena secara fisik tetap diam, namun dari sudut pandang elektromagnetik, arah pancaran sinyalnya dapat bergerak. Hal ini penting karena satelit orbit rendah memiliki pergerakan yang cepat, sehingga antena juga harus mampu mengikuti pergerakan satelit tersebut," ucap Yohanes Galih Adhiyoga.
Dalam mendukung riset antena 6G dan SATCOM, Pusat Riset Telekomunikasi BRIN dilengkapi berbagai fasilitas laboratorium tematik. Beberapa di antaranya adalah Communication and Signal Processing (CSP) Laboratory, RF, Microwave, Acoustic, and Photonic (RFMAP) Laboratory, Antenna and Propagation (AP) Laboratory, Advanced Network Protocol (ANP) Laboratory, serta Audio Visual Transmission Laboratory.
Tak hanya itu, tersedia pula near-field anechoic chamber untuk pengujian dan karakterisasi antena secara presisi. Dari sisi peralatan, laboratorium ini memiliki network analyzer dengan kemampuan pengukuran hingga 110 GHz, serta LPKF Protolaser H4 yang mendukung fabrikasi prototipe perangkat elektronik berpresisi tinggi guna mempercepat proses riset antena 6G di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tak Bisa Berobat dan Gaji Tertahan, Pekerja Garmen di Sleman Protes
Advertisement
Masuk Jepang Wajib JESTA 2026, Ini Biaya dan Cara Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Korban Ledakan SAL di Teras Malioboro Ditanggung Pengelola
- Pengakuan Pedagang Nuthuk Terungkap, Wisata Pantai Depok Terimbas
- Isu Pertamax Naik 10 Persen 1 April, Ini Penjelasan Bahlil
- Saluran Limbah Meledak di Teras Malioboro Jogja, Tiga Orang Terluka
- Polemik Retribusi Parangtritis, Pemkab Bantul Berencana Pindah TPR
- Bos Maktour dan Ketua Kesthuri Ditetapkan Tersangka Korupsi Kuota Haji
- HUT ke-80 Sultan HB X, 10.000 Pamong se-DIY Bakal Kirab Hasil Bumi
Advertisement
Advertisement






