Advertisement
Tanpa Tanda Damai, Perang Rusia vs Ukraina Telan Hingga 2 Juta Korban
Asap mengepul dari lokasi kebakaran selama konflik Ukraina-Rusia di kota pelabuhan selatan Mariupol, Ukraina, Kamis (7/4/2022). - JIBI/Bisnis.com
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Perang Rusia–Ukraina memasuki fase paling mematikan sejak pecah pada 2022, dengan estimasi korban tentara yang mencapai hingga 2 juta jiwa pada awal 2026. Hal ini, menjadikannya salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah modern dan memicu kekhawatiran global akan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Angka tersebut terungkap dalam laporan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington, Amerika Serikat. Studi ini menilai skala korban perang Rusia–Ukraina sudah setara dengan konflik besar abad ke-20, meskipun terjadi di era teknologi modern.
Advertisement
Dalam laporan yang juga bersumber dari Rusia Mediazona dan BBC Russian Service itu disebutkan, Rusia diperkirakan menanggung sekitar 1,2 juta korban. Dari jumlah tersebut, sekitar 325.000 tentara Rusia diperkirakan tewas di medan pertempuran. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan korban yang dialami Uni Soviet saat perang di Afghanistan pada dekade 1980-an, bahkan melampaui total korban dalam Perang Chechnya.
Sementara itu, Ukraina diperkirakan kehilangan sekitar 600.000 personel, mencakup tentara yang tewas, terluka, maupun hilang. Meski jumlah korban Rusia lebih besar, Ukraina menghadapi tantangan serius karena keterbatasan jumlah penduduk usia militer.
BACA JUGA
CSIS mencatat rasio korban Rusia terhadap Ukraina berkisar antara dua hingga dua setengah banding satu. Namun, Ukraina dinilai lebih kesulitan mengganti pasukan yang gugur atau cedera. Hingga kini, pemerintah Ukraina masih menahan diri untuk menurunkan batas usia wajib militer di bawah 25 tahun, meskipun tekanan di garis depan semakin berat.
Perbedaan kondisi tersebut membuat strategi perekrutan kedua negara sangat kontras. Rusia dilaporkan menawarkan gaji tinggi dan bonus besar untuk menarik relawan, bahkan merekrut tentara bayaran dari berbagai wilayah seperti Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Sebaliknya, Ukraina lebih bergantung pada mobilisasi internal dengan sumber daya manusia yang terbatas.
Di tengah besarnya korban, kemajuan wilayah Rusia justru berjalan sangat lambat. Sejak 2024, pasukan Rusia rata-rata hanya mampu maju sekitar 15 hingga 70 meter per hari. Kecepatan ini disebut sebagai salah satu laju pergerakan paling lambat dalam sejarah peperangan modern.
Hingga Januari 2026, Rusia dilaporkan baru menguasai tambahan wilayah sekitar 152 kilometer persegi, terutama akibat hambatan cuaca ekstrem musim dingin di Ukraina timur dan wilayah Dnipropetrovsk. Pemerintah Rusia membantah data tersebut dan menyebut laporan CSIS tidak dapat dipercaya.
Upaya diplomasi pun belum membuahkan hasil. The Guardian melaporkan, pertemuan perdamaian yang digelar di Abu Dhabi pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini membuat harapan gencatan senjata kembali menjauh, sementara dunia terus mencermati dampak kemanusiaan dari konflik berkepanjangan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KemenPPPA Soroti Trauma Korban Penjambretan di Sleman
- Ketua KPK Ungkap Pola Baru OTT, Aliran Dana Kini Disamarkan
- Kalah di Pemilu Paruh Waktu 2026 Bisa Bikin Donald Trump Dimakzulkan
- Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas
- Dugaan Tak Profesional, Tim SIRI Kejagung Periksa Sejumlah Kajari
Advertisement
Beringharjo Tetap Terkendali di Tengah Krisis Sampah Pasar Jogja
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Prediksi Faisal Basri Viral Lagi, Gejolak Politik Picu Krisis Ekonomi
- Viral Pedagang Sate Menangis di Malioboro, Satpol PP Beri Klarifikasi
- Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026
- Hotel dan Homestay Tanpa Izin Tetap Kena Pajak di Bantul
- Pemkab Bantul Usul MBG Ramadan Dibagikan Sore Hari
- Tas Berisi Sajam di Girisubo Gunungkidul, Polisi Lacak Jejak Pemilik
- Kraton Jogja Resmi Izinkan Lahan Sultan Ground untuk Mapolda DIY Baru
Advertisement
Advertisement



