Advertisement

KNKT: Pesawat Keluar Landasan Dominasi Investigasi Penerbangan 2025

Newswire
Rabu, 28 Januari 2026 - 22:27 WIB
Sunartono
KNKT: Pesawat Keluar Landasan Dominasi Investigasi Penerbangan 2025 Ilustrasi pesawat jatuh. Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa kejadian pesawat keluar dari landasan pacu atau runway excursion masih menjadi insiden paling dominan dalam kecelakaan dan kejadian serius penerbangan sepanjang 2025. Temuan ini tercatat dalam laporan investigasi keselamatan penerbangan KNKT selama satu tahun terakhir.

Pelaksana Tugas Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Henry Poerborianto, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 pihaknya telah melakukan 19 investigasi yang terdiri atas sembilan kecelakaan dan 10 kejadian serius di sektor penerbangan. Dari jumlah tersebut, mayoritas kasus berkaitan langsung dengan pesawat keluar landasan pacu.

Advertisement

“Dari 19 investigasi tersebut, kejadian yang paling banyak adalah pesawat keluar landasan atau runway excursion,” kata Henry dalam acara Media Rilis Capaian Kinerja KNKT 2025 di Jakarta, Rabu.

Henry menjelaskan, runway excursion merupakan kondisi ketika pesawat tidak mampu berhenti secara aman di landasan pacu atau keluar dari batas landasan, baik saat fase lepas landas maupun pendaratan. Kejadian ini dinilai memiliki risiko keselamatan tinggi apabila tidak ditangani secara optimal.

Berdasarkan klasifikasi KNKT, dari total 19 investigasi pada 2025, kejadian pesawat keluar landasan tercatat sebanyak tujuh peristiwa. Jenis kejadian lain yang juga cukup dominan adalah kegagalan sistem atau komponen mesin sebanyak tiga peristiwa serta kontak tidak normal dengan landasan (abnormal runway contact) sebanyak tiga peristiwa.

Selain itu, KNKT mencatat dua peristiwa terkait turbulensi, dua peristiwa pesawat dalam kendali pilot namun menabrak permukaan bumi (controlled flight into terrain/CFIT), serta masing-masing satu peristiwa yang berkaitan dengan bahan bakar dan layanan navigasi maupun manajemen lalu lintas udara.

Dalam rentang waktu 2021 hingga 2025, Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT telah menginvestigasi total 105 peristiwa penerbangan yang mencakup kecelakaan dan kejadian serius. Sementara pada 2025, jumlah investigasi mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya dengan total korban jiwa tercatat sebanyak 12 orang.

KNKT juga menyoroti tiga peristiwa menonjol sepanjang 2025, yakni kecelakaan helikopter Airbus H145 di Kalimantan Tengah, helikopter AS350B3 di Papua Tengah, serta kegagalan mesin pesawat GA 8 Airvan yang melakukan pendaratan darurat di Karawang.

Selama 2025, Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT telah menyelesaikan enam laporan akhir investigasi serta menyusun tiga konsep laporan akhir yang masih berada dalam tahap konsultasi dengan para pemangku kepentingan terkait.

Dari laporan yang telah diselesaikan tersebut, KNKT mengidentifikasi sejumlah isu keselamatan utama, di antaranya belum optimalnya pemanfaatan data penerbangan untuk memantau kinerja pilot dan pesawat, serta lemahnya implementasi prosedur operasional seperti landing checklist dan penerapan pendekatan pendaratan tidak stabil.

“Sebagian operator sudah memiliki prosedur, tetapi pelaksanaannya belum selalu konsisten di lapangan,” ujar Henry.

Selain persoalan prosedur, KNKT juga menilai pengelolaan kelelahan awak pesawat masih menjadi isu keselamatan yang perlu mendapat penguatan, baik dari sisi panduan teknis maupun pengawasan implementasi di lapangan.

Berdasarkan hasil investigasi sepanjang 2025, KNKT menerbitkan sebanyak 16 rekomendasi keselamatan yang mayoritas ditujukan kepada operator pesawat dan otoritas penerbangan terkait guna menekan potensi kecelakaan serupa.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menegaskan bahwa rekomendasi keselamatan tersebut dikeluarkan sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang dan tingkat keselamatan penerbangan nasional terus meningkat seiring penguatan pengawasan dan kepatuhan terhadap standar operasional.

“Rekomendasi keselamatan kami dorong agar ditindaklanjuti secara nyata oleh operator dan otoritas, sehingga risiko kecelakaan dapat terus ditekan,” tutur Soerjanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Ribuan Anak di Bantul Belum Kantongi KIA, Disdukcapil Percepat Layanan

Ribuan Anak di Bantul Belum Kantongi KIA, Disdukcapil Percepat Layanan

Bantul
| Rabu, 28 Januari 2026, 23:37 WIB

Advertisement

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata
| Rabu, 28 Januari 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement