Advertisement
BNN RI Sebut 312.000 Remaja Terpapar Narkoba
Narkoba - Ilustrasi - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, PANGKALPINANG—Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia menyebutkan sebanyak 312.000 orang remaja berusia 15 hingga 25 tahun di Indonesia terpapar narkoba atau sebagai pengguna barang haram itu.
"Sebanyak 312 ribu remaja, bahkan ada anak berusia 10 tahun sudah menggunakan narkoba," kata Kepala BNN RI Komjen Pol Mathinus Hukom saat meninjau implementasi Program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) di SMA Negeri 4 Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis.
Advertisement
Ia mengatakan hasil survei prevalensi BNN jumlah penduduk Indonesia yang terperangkap dalam penyalahgunaan narkoba 3,33 juta jiwa atau 1,7 persen dari total jumlah penduduk Indonesia 280 juta jiwa.
BACA JUGA: Pemodal Laboratorium di Bali Terancam Hukuman Mati
Sementara itu, jumlah remaja berusia 15 hingga 25 tahun di Indonesia yang menggunakan narkoba sebanyak 312.000 orang dan lebih mirisnya lagi, ada ibu hamil yang juga menggunakan barang haram ini.
"Saya tidak tahu, apa yang ada di dalam pikiran ibu hamil ini menggunakan narkoba. Apakah dia melihat anak yang dikandungnya sama seperti barang yang tidak penting," ujarnya.
Ia menyatakan sebanyak 312.000 remaja yang menggunakan narkoba untuk pertama kali memiliki hubungan dengan fenomena-fenomena tertentu
Fenomena pertama, orang menggunakan narkoba untuk pertama kali karena ada rasa penasaran dan ini biasanya dilakukan anak-anak muda, remaja yang mulai mencari eksistensi diri mereka.
Setelah merasakannya, mereka belum mengetahui efek negatifnya apa, karena mereka mendahului efek negatif tersebut dengan eksistensi dirinya untuk mendapatkan pujian dari teman-temannya.
Fenomena kedua selain rasa ingin tahu, orang yang pertama kali menggunakan narkoba ini merayu teman sebaya untuk menggunakan narkoba. Ini berhubungan dengan ketika seorang remaja mulai keluar dari kelompok atau teritorial otoritas moral keluarga.
"Ketika remaja ini dalam keluarga maka pemegang otoritasnya adalah orang tua dan ketika sudah keluar dari lingkungan keluarganya maka dia sudah memiliki multi otoritas moral," katanya.
Ia berharap para guru di sekolah mampu membangun moral anak-anak didiknya. Bagaimana anak-anak bisa dipisahkan dari pengaruh-pengaruh negatif termasuk narkoba.
"Moral dasar anak terbentuk dari keluarga dan itu harus dilanjutkan oleh pemegang otoritas berikutnya yaitu guru di sekolah," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
Advertisement
Gerai KDMP di Gunungkidul Mencapai 20, Lahan Jadi Sorotan
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- KPK Dalami Pihak Sentral Lain dalam Kasus Korupsi Kuota Haji Hari Ini
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Volume Sampah Libur Lebaran di Jogja Terkendali, Naik Tipis 7 Persen
- Kim Jong Un Tegaskan Korea Utara Akan Terus Setia Bersama Rusia
- OPINI: Seni Menghadapi Pertanyaan Stigmatif saat Lebaran
- Pasta Tak Selalu Bikin Gula Darah Melonjak, Ini Penjelasan Ahli Gizi
- Tol Jogja-Solo Padat, 19.156 Kendaraan Lewat GT Purwomartani
Advertisement
Advertisement







