Advertisement

Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah

Jumali
Rabu, 25 Maret 2026 - 22:57 WIB
Jumali
Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah Jepang. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang kepanikan melanda Jepang. Bukan bahan bakar atau pangan, warga justru memborong tisu toilet secara besar-besaran, dipicu kekhawatiran imbas konflik Timur Tengah yang memanas.

Fenomena panic buying kembali terjadi di Jepang. Dalam beberapa hari terakhir, warga di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka terlihat berbondong-bondong membeli tisu toilet hingga rak-rak supermarket kosong.

Advertisement

Aksi ini dipicu kekhawatiran terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap pasokan energi global. Meski secara faktual tidak berkaitan langsung dengan produksi tisu, kekhawatiran tersebut menyebar cepat melalui media sosial dan memicu reaksi berantai di masyarakat.

Sejumlah toko ritel bahkan terpaksa memasang pengumuman bahwa stok masih aman guna meredam kepanikan. Selain itu, pembatasan pembelian mulai diberlakukan, di mana setiap pelanggan hanya diperbolehkan membeli dua hingga tiga gulung tisu toilet.

Pemerintah Jepang melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) langsung mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan penimbunan. Pemerintah menegaskan bahwa sekitar 60 persen produksi tisu toilet berasal dari dalam negeri, menggunakan bahan baku kertas daur ulang dan pulp domestik.

Produksi tersebut juga tidak bergantung pada minyak Timur Tengah maupun jalur distribusi seperti Selat Hormuz. Bahkan, produsen menyatakan siap meningkatkan kapasitas produksi jika permintaan meningkat.

Namun demikian, fakta tersebut belum mampu sepenuhnya meredam kepanikan. Tren penimbunan kini mulai merambah ke produk lain seperti makanan hewan, perlengkapan mandi, hingga minuman kemasan.

Para ahli menyebut fenomena ini mirip dengan “bank run”, di mana ketakutan kolektif mendorong masyarakat bertindak di luar rasionalitas. “Hanya satu rumor yang tidak terverifikasi dapat menyebabkan rasa takut mengalahkan penilaian konsumen,” ungkap seorang ahli dikutip dari NHK.

Fenomena serupa juga terjadi di Korea Selatan. Di negara tersebut, warga mulai memborong kantong sampah akibat kekhawatiran pasokan bahan baku plastik terganggu. Meski pemerintah memastikan stok aman, pembatasan pembelian tetap diberlakukan di sejumlah toko.

Di Jepang sendiri, kepanikan terhadap ketersediaan kertas memiliki akar historis yang kuat. Trauma krisis minyak 1973 atau “Oil Shock” masih membekas, ketika rumor kelangkaan kertas membuat masyarakat mengosongkan rak toko.

Kini, istilah “Reiwa Oil Shock” ramai digunakan di media sosial, menandakan fenomena serupa kembali terjadi di era modern. Panic buying juga pernah muncul saat gempa bumi 2011 dan awal pandemi Covid-19 pada 2020, dengan pola yang sama—tisu toilet menjadi barang pertama yang habis.

Antropolog Grant Jun Otsuki menjelaskan bahwa tisu toilet memiliki makna simbolis bagi masyarakat Jepang sebagai bentuk stabilitas dan tanggung jawab keluarga. Rak kosong menjadi pemicu visual yang memperkuat rasa tidak aman.

“Gambar-gambar gerobak penuh tisu toilet di media sosial menunjukkan bahwa di era digital, rasa takut dapat menyebar lebih cepat daripada fakta,” ujarnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, persepsi publik bisa terbentuk bukan dari fakta, melainkan dari ketakutan kolektif. Jika tidak dikelola, kondisi tersebut berpotensi memperparah situasi yang sebenarnya masih terkendali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Tarif Rp8.000

Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Tarif Rp8.000

Jogja
| Kamis, 26 Maret 2026, 00:37 WIB

Advertisement

Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata

Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata

Wisata
| Minggu, 22 Maret 2026, 16:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement