Advertisement

20 Korban Banjir Lahar Hujan di Sumatra Barat Belum Ditemukan

Muhammad Noli Hendra
Rabu, 15 Mei 2024 - 07:57 WIB
Sunartono
20 Korban Banjir Lahar Hujan di Sumatra Barat Belum Ditemukan Tim gabungan SAR bersama masyarakat melakukan proses pencarian korban banjir bandang lahar dingin yang melanda Desa Batu Taba, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Selasa (14/5/2024). -Bisnis - Muhammad Noli Hendra

Advertisement

Harianjogja.com, AGAM—Sebanyak 20 korban banjir lahar dingin di empat kabupaten dan kota di Provinsi Sumatra barat masih belum ditemukan. Pencarian korban pun terus dilakukan hingga hari ketiga pasca bencana.

Kepala Kantor SAR Padang Abdul Malik mengatakan dari hasil pencarian korban di empat daerah yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang, hingga pukul 15.00 Wib Selasa (14/5) tadi total korban meninggal dunia mencapai 50 orang.

Advertisement

"Dari sementara itu 50 korban yang meninggal dunia itu merupakan dampak dari bencana banjir lahar dingin, dan melihat data BPBD bahwa masih ada 20 orang lagi masih dicari," kata dia, Selasa (14/5/2024).

Proses pencarian korban ini terdapat tim gabungan SAR yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan ada dari komunitas rafting yakni LA Rafting yang bertujuan membantu melakukan penyisiran aliran sungai di Batang Anai. Abdul Malik mengaku mengingat dampak dari bencana cukup luas yakni menjangkau tiga kabupaten dan kota yakni Agam, Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang, juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi tim saat ini.
"Semakin luas dampaknya, artinya kami butuh sumber daya yang berkompeten. Untuk personel telah ada bantuan dari Riau, Jambi, dan Mentawai, serta sejumlah tim dari pusat," ungkapnya.

Sebelumnya, untuk meminimalisir ancaman berikutnya, Kementerian PUPR akan melakukan proses normalisasi sungai di wilayah aliran sungai yang berhulu ke Gunung Marapi tersebut. Direktur Air Tanah dan Air Baku (ATAB) Ditjen SDA Kementerian PUPR, Dwi Purwantoro mengatakan melihat kondisi aliran sungai saat ini yang terjadi pendangkalan membuat air meluap dan menghantam bagian kiri dan kanan, sehingga menyebabkan dampak yang buruk.

"Kalau sudah dinormalisasi, aliran airnya tidak menghantam kanan dan kiri lagi. Solusinya harus segera melakukan normalisasi sungai," kata Dwi .

Ia menjelaskan dalam melakukan normalisasi sungai itu, juga perlu memastikan atau mengecek kondisi di bagian arah hulu sungai yakni di Gunung Marapi. Tujuan untuk memastikan apakah terjadi embung-embung atau tidak. "Perlu juga untuk mengecek kondisi hulu itu, apakah ada embung-embung atau tidak. Kalau ada embung-embungnya itu, maka aliran hingga ke bawahnya juga bisa menghantam bagian kanan dan kiri," katanya.

Dwi menyampaikan dalam melakukan pengecekan kondisi di aliran sungai hingga mendekati Gunung Marapi itu, berkoordinasi dengan BPBD setempat. Dengan adanya upaya itu, maka langkah untuk melakukan normalisasi sungai akan terwujud sesuai rencana, dan dampak akibat banjir lahar dingin bisa diminimalisir.

"Dalam melakukan normalisasi sejumlah sungai yang terdampak bencana itu, kami akan mengerahkan kurang lebih 20 unit alat berat, sehingga pengerjaan bisa lebih cepat," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Advertisement

alt

Kronologi Lengkap Debt Collector Rampas STNK Mobil Wisatawan Jogja saat Parkir di Gembira Loka

Jogja
| Jum'at, 24 Mei 2024, 09:37 WIB

Advertisement

alt

Kyoto Jepang Larang Turis Kunjungi Distrik Geisha di Gion, Ini Alasannya

Wisata
| Kamis, 23 Mei 2024, 10:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement