Advertisement

Sehari, Pendapatan Manusia Silver dari Bantul Bisa Rp200 Ribu Saat Sepi

Taufiq Sidik Prakoso
Kamis, 19 Januari 2023 - 08:17 WIB
Budi Cahyana
Sehari, Pendapatan Manusia Silver dari Bantul Bisa Rp200 Ribu Saat Sepi Ilustrasi pendapatan harian. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, KLATEN—Penghasilan manusia silver yang mencari uang di jalanan bisa mencapai Rp200.000 per hari. Jumlah itu diungkapkan manusia silver dari Bantul kepada aparat Satpol PP Klaten setelah dirazia.

Satpol PP dan Damkar Klaten menggelar operasi di sepanjang jalan raya Jogja-Solo dari Kecamatan Ceper hingga Prambanan Selasa (17/1/2023). Ada enam orang yang ditangkap, yakni pengamen, pengemis, dan manusia silver.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Subkoordinator Penindakan Satpol PP dan Damkar Klaten, Sulamto, mengatakan dua pengamen dan manusia silver yang tertangkap saat operasi mengaku pasangan suami-istri dari Bantul, DIY. Pasangan manusia silver itu tertangkap petugas Satpol PP dan Damkar Klaten seusai berdandan dan bersiap mengamen di jalanan.

Mereka sebelumnya beroperasi di wilayah Sleman, DIY. Lantaran bersaing dengan manusia silver lainnya, mereka kemudian mengamen di wilayah Klaten.

BACA JUGA: Warga Miskin di DIY Tambah Banyak, DPRD Sarankan Ini

Sulamto menjelaskan dari pengakuan pasangan manusia silver itu, rata-rata sehari mereka minimal mendapatkan uang Rp200.000.

“Itu pun dalam kondisi sepi. Dari pengakuan mereka mulai beroperasi itu pukul 10.00 WIB dan pukul 12.00 WIB beristirahat kemudian beroperasi lagi hingga maksimal sampai pukul 19.00 WIB,” kata Sulamto.

Sulamto menjelaskan manusia silver menggunakan ramuan khusus untuk mewarnai sekujur tubuh dengan warna silver. Ketika terkena air, warna silver di tubuh mereka mudah luntur

Setiap kali terkena operasi, manusia sudah diingatkan agar tak lagi mengamen di jalanan lantaran melanggar Perda.

Selain itu, para manusia silver sudah diwanti-wanti tak lagi mengecat tubuh mereka lantaran membahayakan kesehatan. “Kami sudah berupa semaksimal mungkin tetapi memang masih ada saja yang kembali melakukan aktivitas itu. Salah satunya karena alasan terdesak kebutuhan ekonomi,” kata Sulamto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Puluhan Juta Dianggarkan Kelurahan Gedongkiwo untuk Tangani Sampah

Jogja
| Selasa, 31 Januari 2023, 23:37 WIB

Advertisement

alt

Ini Nih... Wisata di Solo yang Instagramable, Ada yang di Dalam Pasar!

Wisata
| Selasa, 31 Januari 2023, 23:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement